Pagi hari ini begitu cerah. Sinar mentari menghangatkan sebagian belahan bumi memicu hembusan angin di sela-sela daun. Seolah-olah ada bisikan yang menyuruhku menuliskan sebuah kisah yang seringkali membuat hatiku berada di antara lembah senyum dan tangis. Kisah ini pernah kuceritakan kepada beberapa sahabat dekat, rekan kerja, atau murid-muridku tercinta. Baca terus →
15 Januari 2010
“Guru-guru Kok jadi aneh ya…”
Beberapa hari yang lalu, kami—guru-guru Al Multazam—mengikuti pelatihan PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan) yang diselenggarakan oleh yayasan bekerjasama dengan Makmal Pendidikan. Sebenarnya tidak banyak hal baru yang kami dapatkan. Sebab buku-buku yang membahas tentang materi tersebut sebenarnya sudah sangat banyak dan sebagaiannya pernah kami baca. Sungguh, 2 hari adalah waktu yang terlalu pendek untuk mengupas metode pembelajaran itu. Pada kenyataannya memang pelatihan tersebut tidak bisa secara tuntas metode tersebut. Kami pun bisa memahami hal itu. Namun pelatihan itu benar-benar memberikan motivasi bagi kami untuk selalu memperbaiki kualitas kegiatan belajar mengajar. Baca terus →
8 Januari 2010
Karna Kita tak Pernah lulus TK
Aku pernah bercerita tentang masa kecilku melalui blog ini (Ada Huruf ‘b’ di Tanda Tanganku). Ya, cerita tentang seorang anak yang yang tiba-tiba menghadangku saat hendak berangkat ke sekolah, lalu dengan sekuat tenaga ia melayangkan tinjunya ke dadaku. Ups… Sesaknya masih kuingat hingga saat ini. Tatapan kasihan dari teman-teman yang menyaksikan tangisku-pun masih terbayang di kepala. Nah, sejak saat itulah diriku tidak lagi pernah masuk ke sekolah. Baca terus →
8 Januari 2010
Sepenggal Kisah
Menjadi bagian dari keluarga broken home memang bukan sesuatu yang menyenangkan. Seringkali diriku merasa iri saat melihat ada sahabat yang bercakap via telpon dengan ayah dan ibunya secara bergantian. Barangkali hal itu masih bisa kulakukan andai saja kedua orang tuaku masih ada. Tapi Ibu, semenjak bercerai dengan ayah, tak pernah lagi menetap di rumah. Sedangkan ayah, orang yang menjadi harapanku satu-satunya telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa saat diriku masih duduk di bangku SMA. Baca terus →
8 Januari 2010
Sore yang tertunda
Hujan deras mengiringi malam pentas seni yang diadakan murid-muridku. Saat itu adalah malam terakhir rangkaian kegiatan Pekan Pengabdian Masyarakat (P3M)—program khusus yang wajib diikuti oleh santri di ponpes tempatku mengajar. Pentas seni ini menjadi semacam acara perpisahan setelah selama 10 hari mereka mengadakan kegiatan di sebuah desa di pelosok Kuningan. Aku menghela nafas panjang saat acara itu benar-benar dimulai. Lega, meski sempat tertunda dua jam dari jadwal yang direncanakan. Baca terus →
15 November 2009
Saat gelar “Almarhum” melenyapkan gelar sarjananya
Pagi itu—dua minggu lalu—sebuah SMS mengejutkan masuk ke ponselku. Disusul 3 SMS lain dari orang yang berbeda. Semuanya dari teman kuliah satu angkatan. Isinya sama, memberi kabar bahwa salah seorang rekan kami meninggal dunia malam harinya karena kecelakaan lalu lintas. Baca terus →
25 Oktober 2009
Ada Huruf ‘b’ di Tandatangan-ku
Ini kisah tentang anak kelas 1 SD yang baru belajar menulis dan membaca. Anak itu begitu belia. Usianya dibawah anak-anak di kelasnya. Bahkan ia belum sempat lulus dari TK. Ini lantaran saat memasuki bulan ketiga di TK, seorang anak yang nakal menghadang keberangkatannya, lalu kepalan tangan anak nakal itu melayang ke dadanya. Peristiwa itu tampaknya menyisakan trauma, hingga nyali untuk berangkat sekolah tiba-tiba hilang entah ke mana. Tanpa terasa, teman sebaya sudah menamatkan pendidikan-nya di TK. Baca terus →
23 Oktober 2009
Saat siswa-ku menangis
Sesuatu yang bagiku baru kusadari saat mengajar anak-anak IPS adalah kemampuan mereka dalam hal berhitung yang tidak sebaik anak-anak IPA. Maklum, diriku saat SMA berada di jurusan IPA. Wajar saja kalau hingga beberapa saat diriku tidak bisa merasakan kesulitan mereka saat berhadapan dengan soal-soal berbau angka. Baca terus →
21 Oktober 2009
Realistis
Dalam beberapa kesempatan, diriku sering bercerita tentang masa lalu saat masih di SMA. Termasuk kepada murid-murid yang ada di jurusan IPS—tak bosan-bosannya diriku bercerita tentang latar belakangku yang dari IPA. Bukan untuk menyombongkan diri lantaran jurusan IPA tampak lebih bergengsi, namun diriku hanya ingin berbagi cerita kepada mereka. Besar harapanku, anak-anak bisa mengambil hikmah dari cerita ini. Baca terus →