Puisi-puisi Di Tengah-tengah Buku

Renungan Calon Sarjana

 

Mengarungi belantara minyak beku

Menepis batas ruas administrasi

Menggapai harapan cita nan semu

Sebab melimpahnya ketidakpastian

Sedang engkau terbang membelah langit

Bersayapkan beribu alasan

Takkan mungkin aku mengejar

Kecuali singgah ke bandara pengabdian

Di seberang ladang membentang

Tak tersentuh orang

Di sana bisa kutanam asa

Sampai ia tumbuh, bercabang, lalu berbuah

Hingga seberapa pun tinggi kau terbang

Dahannya tempatmu pulang.

Pwrj – Jogja, 27 Mei 2008

Menunggumu

(untuk bpk/ibu dosen

yang sibuk bgt—?)

aku rela bercerita dengan kata

atau berdiskusi dengan puisi

sembari dengarkan nyanyian tanpa notasi

aku rela kehilangan sup prasmanan

saat sang rekan duduk di pelaminan

menunggu datangnya bulan madu

(akhirnya)

aku rela biarkan waktu berjalan sendiri

menjemput pintu hatimu

asalkan badai segera berlalu

Kampus FISE UNY, 2008

Tak Kulihat Bulan Tersenyum

(untuk sahabat lamaku yang sedang dirundung sepi

setelah memandang fenomena alam ‘bulan tersenyum’)

tlah kupandangi langit yang ternyata tak berbintang

sebab kemilaunya tenggelam di kabut angkasa

begitu pula bulan, tiba-tiba pergi entah kemana

sungguh,

langit tidak sesempit dada lelaki yang jatuh hati

sehingga berjuta bulan di sana hanya tampak satu

engkau hanya perlu menyelami malam,

lalu rasakan dinginnya salju kesendirian

hingga bidadari tak sabar menunggumu di surga

bukannya aku tak rela mentari ada dalam genggamanmu

tapi tak ada makhluk yang tak rindu kehangatannya

sebab sinarnya begitu menyilaukan hingga membutakan mata hati

lagi pula tak ada guna berebut sinarnya di gelap malam

tunggulah esok, ketika kokok ayam bersahut berebut rejeki

kelak kita tahu, kepada siapa surya menerangi

pagi sudah datang bersama kicauan burung

sambut ia dengan senyum optimis :

mentari kan bersinar, menerangi langkahmu sahabat, hingga kembali ke peraduan.

Jogjakarta, 1-2 Desember 2008

Renungan

kubiarkan mataku menatap langit berbintang kejora

kini ia tak lagi berbentuk mata orang tersenyum

sebab bibir bulan sabit terlanjur meninggalkannya

kusadari betapa lemah diri ini di hadapan pencipta semesta

kusadari beta mudahnya Allah membolak-balikkan segalanya—

termasuk hati manusia

Jogja, 4 Desember.

Guru

senyumanmu jadi penyegar rasa keingintahuan

candamu menjadi obat penawar kebosanan

pengetahuanmu menjadi penyembuh dahaga ilmu

semangat yang kau berikan menjadi jawaban atas segala cita-cita.

Jogja, 5 Desember

Bapakku Guruku

di kesunyian pagi, kau sudah tinggalkan mimpi

penuhi kewajiban tak lama setelah adzan.

lalu lantunan ayat-ayat suci menggema di pagi itu,

hingga secercah cahaya timur mengubur kegelapan.

kau pastikan tak ada lagi tumpukan urusan

lalu jadikan tubuh tanpa rongsokan

menunggu nasi putih dan kawannya terhidang.

seonggok besi tua masih jadi pelayan setia

sebagai saksi sejarah perjuanganmu

tak gentar akan pergantian waktu

tak tergilas atas arus modernisasi

tak tergusur oleh kata-kata gengsi,

teladan kesederhanaan.

Jogja, 5 Desember 08

Masjid Kampung Yang Terkunci

Masjid kami masih terkunci

Saat para musafir itu memikul kecewa

Betapa perjalanan panjangnya harus dimakan lelah

yang tak terobati oleh kebijakan

ke mana lagi mereka kan mengadu?

Sebab masjid hanya bisa menatap tanpa berbuat

Sementara hatinya pilu menyaksikan tamu-Nya terlantar.

Perpustakaan Mujahidin, 2008

Penantian

tapi engkau terlalu lama duduki senja penantian

berharap seorang datang meminang

sabarlah!

beribu pangeran haus ilmu

tak akan membiarkanmu merana tanpa belaian

wahai buku di perpustakaan berdebu…..

Perpustakaan Mujahidin, 2008

Seniman Kambuhan

kadang aku tak mengerti

isi hatimu tertuang dalam lembaran bubur kayu

lalu terbaca oleh mata dahaga cerita

hingga sebagian airnya menetes meninggalkan kisah pilu

kadang aku heran sendiri

isi kepalamu terlukis jelas di atas kanvas

lalu terlihat oleh mata hati yang merindukan keindahan

hingga secercah senyum mengiringi kegembiraan

yang aku mengerti

perutmu kadang tak terisi

lalu kau raih lautan inspirasi.

Bumi Allah, 2008

Samudra Ilmu

barisan maha karya tertata di pelupuk mata

siapa tak mau sekedar menyapa?

berjuta keindahan tlah dijanjikan

beribu pesona tlah ditawarkan

oleh luasnya samudra

aku tak bisa menyelam

katamu sambil berlalu

sembari menepis impian temui mutiara terumbu karang

padahal aroma pantai begitu wangi menentramkan kalbu

aku takut gelombang

katamu sambil berlari

jauhi panggilan nelayan tawarkan melimpahnya ikan

padahal tiupan angin begitu kencang menggugurkan kesombongan

barisan karya tertata di pelupuk mata

siapa tak mau sekedar menyapa?

berjuta keindahan tlah dijanjikan

beribu pesona tlah ditawarkan

oleh luasnya samudra ilmu.

Jogja, 2008

Tamu Saat Hujan

kota masih dalam dekapan selimut

ketika langit tak mampu lagi membendung mendung

sementara malam memanjakan tubuh

yang sedang berjuang melawan lelah

dan tamu tak diundang pun datang

menerobos masuk tak lewati pintu

membawa buah tangan kesedihan

menjanjikan was-was akan kembali

seharusnya kau bukakan pintu instropeksi

agar sang tamu merasa segan untuk datang lagi

Jogjakarta, Akhir tahun 2008

Menunggu

sebab engkau telah menjanjikan harapan

hingga ku rela bergelut cemas di ladang penantian

menanam kata-kata berbuah kecewa

kau terlalu banyak berselisih dengan waktu

mengobral janji pemicu

kau yang menantangnya

tapi aku yang bertarung

menghindari sabetan pedang panjang pemotong harapan

hanya berperisai komitmen

sayang kau belum hadir saat kemenangan itu mampir

justru datang saat hatiku terkapar

lelah menunggu.

Purworejo, 15-16 Desember 2008

Ada apa dengan Arlojimu?

kukira arlojimu bertahta permata

membebani langkah jarum meninggalkan angka

namun sikapmu bukan cerminan raja :

membangun istana tepat waktu.

Ah, ternyata arlojimu berhiaskan getah nangka!

Purworejo, 16 Desember 2008

Jawaban Kebanyakan Orang Tua Gadis

Saat yang Melamar Seseorang Berkantong Tipis

(tapi ini tidak ada hubungannya dengan penulis)

tak bisa kutepis,

kau pemuda idealis

kritis

agamis

romantis

necis

mantan aktifis

yang selalu optimis.

namun ironis,

engkau tak realistis!

Purworejo, 16 Desember 2008

Akhirnya…

(Untuk sahabat yang sedang berbahagia)

undangan itu sudah terbaca mata

mengabarkan kau telah persiapkan bahtera rumah tangga

samudera kehidupan telah membentang

dengan karang penghadang,

gelombang siap menerjang,

serta potensi tsunami melanda

tapi percayalah,

tak ada yang tak rindu keindahannya

tunggulah nanti, saat armada kita bertemu sapa

di pulau damba

Jogja, 5 Januari 2008

Gaza

saat kau tertidur pulas

Gaza bahkan belum sempat persiapkan makan malam

yang tersaji hanyalah daging manusia beraroma mesiu

musiknya desingan peluru

diiringi merdu pencakar langit runtuh

apa yang akan kau lakukan saat mentari menagih janji?

Liga Arab

saat The Red Devils menghadapi The Gunners

pertarungan penuh gengsi dipertontonkan

mata dunia tertuju padanya

pamor liga inggris pun meroket.

saat setan Zionis menyerang hamas

pertarungan tak seimbang dipublikasikan

mata dunia tertuju padanya

Liga Arab tak mampu berbuat.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s