Ini kisah nyata. Berawal dari sebuah kabar tentang meninggalnya seorang kerabat jauh di Desa Soko Kecamatan Bagelen, Ibu saya pun segera menghadiri upacara pemakamannya. Sungguh tidak ada yang menyangka, Mbah Gembil, Penjual Beras keliling itu pergi untuk selama-lamanya. Hal ini wajar, mengingat sebelumnya tidak ada berita tentang keadaan beliau yang sakit atau mengalami kecelakan.
Kebetulan, di sebelah Barat rumah Mbah Gembil adalah bekas rumah Kakek saya, sehingga kami kenal benar dengan Mbah Gembil. Mbah Gembil adalah wanita tua yang sudah lama hidup menjanda dengan kedua anak perempuan yang bertempat tinggal jauh darinya. Anak pertamanya tinggal di Bandung bersama suaminya, sedangkan anak kedua tinggal di desa Piji, sebuah desa yang hanya bersebelahan dengan desa Soko.
Biasanya, 1 minggu sekali (meski tidak pasti), anak Mbah Gembil yang tinggal di Desa Piji menyempatkan untuk menjenguknya sambil membawa makanan ala kadarnya. Namun entah kenapa, minggu ini sang anak tidak muncul.
Pak lik–yang kebetulan dimintai tolong untuk mengantarkan makan ‘berkat’ kenduri kepada Mbah Gembil–sempat bertanya kepada adik ipar Mbah Gembil yang tinggal di dekat rumahnya. Adik iparnya mengatakan bahwa Mbah gembil pergi ke Piji, rumah anaknya sejak 3 hari yang lalu. Pak lik pun percaya begitu saja, dan nasi kenduri dikembalikan kepada yang punya hajat.
Hari Senin, warga sekitar dikagetkan dengan aroma busuk yang keluar dari rumah mbah Gembil. Semula dikira aroma bangkai kucing. Pak Sali, adik ipar Mbah Gembil pun segera mencari tahu asal muasal aroma itu.
Ketika melongok ke jendela, alangkah kagetnya, ketika terlihat jasad Mbah Gembil sudah terbujur kaku di ranjang ruang tamu. Karena ada kejanggalan, kematian Mbah Gembil pun dilaporkan kepada polisi. Tidak hanya itu, berbagai media, baik elektronik maupun cetak, ikut memberitakannya.
Ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari kejadian di atas. Pertama, silaturahmi adalah sesuatu yang sangat penting bagi kita. Keadaan Mbah Gembil yang sudah sangat tua, membuat kesempatannya bersilaturahmi sangat langka. Namun bagi kita yang masih belia, sudah semestinya silaturahmi kita jalin. Ketika kita terbiasa bersilaturahmi, kemudian karena sesuatu sebab tidak terlihat lagi, maka orang akan menanyakan, kemana gerangan si x yang biasa datang ke mari?.
Kedua, tetangga adalah orang yang paling dekat dengan kita. Sudah semestinya kita memposisikan diri kita sebagai tetangga bagi tetangga-tetangga kita, serta memperlakukan dengan baik mereka seperti saudara kita. Bagaimanapun ketika kita kesusahan, sementara keluarga berjauhan dengan kita, tetanggalah yang akan membantu. Begitu pula sebalikanya, ketika mereka membutuhkan bantuan kita, sudah semestinya kita bantu sesuai dengan kemampuan yang ada.
Ketiga, sikap acuh tak acuh bukanlah sikap yang baik. Sudah semestinya, sikap peduli tertanam pada diri kita. tak perlu menunggu saat orang lain membutuhkan, segeralah kita ulurkan tangan. Tak perlu pusing memikirkan, ketika orang lain minta pertolongan, segera kita beri bantuan. Semoga kisah diatas tidak terulang kembali.