Kelinciku yang malang

Sejak Desember tahun lalu, kami (kakak, aku dan keluarga) mulai mencoba memelihara kelinci. Sebenarnya udah tertarik memelihara sejak lama. Nah, sejak keponakan lahir, keinginan itu akhirnya terwujud. Mungkin kakakku berfikir kalau punya kelinci itu selain bisa nambah penghasilan juga bisa jadi hiburan buat anaknya. pertama-tama kakakku memesan kandang kepada seorang teman yang telah ahli dalam hal ini. Setelah kandang siap, kakakku membeli 7 ekor anak kelinci berumur 1,5 – 2 bulan dari dua orang tetangga.

Beberapa bulan kemudian kelinci kami tersisa 5 ekor : 1 jantan 4 betina. sedangkan yang 2 mati terkena diare. Kami sangat senang saat 3 dari 4 betina yang kami miliki beranak pinak. salah satunya bisa melahirkan 6 ekor, sedangkan yang lain masing-masing 3 ekor.

Sayangnya salah satu dari 6 ekor anak betina yang pertama mati terinjak-injak oleh pejantan. Tapi Alhamdulillah… kami mendapatkan pelajaran berharga dari peristiwa itu : PEJANTAN KELINCI HARUS DIPISAHKAN SAAT BETINA MELAHIRKAN Bukan itu saja pelajaran yang kami dapatkan. Salah satu betina kami–yang kebetulan belum sempat melahirkan anak–mati mendadak 5 menit setelah diberi makan. Usut punya usut, ternyata kelinciku keracunan rumput–yang orang di daerah kami menyebutnya sebagai SRUNEN. akhirnya pelajaran yang kedua kami dapatkan : RUMPUT JENIS SRUNEN BISA MERACUNI KELINCI DALAM SEKEJAB. Nah, sampai kurang lebih umur 1,5 bulan–kelinci-kelinci kami masih bertahan hidup.Kegembiraan kami tidak berakhir sampai di sini, sebab ternyata banyak tetangga dan teman kerja kakak yang tertarik membeli anak-anak kelinci kami. Akhirnya, beberapa orang membeli kelinci yang totalnya berjumlah 11. Oh iya, sebelum menjual anak-anak kelinci itu, kakak sempat membeli anak kelinci milik tetangga sebanyak dua ekor. ternyata satu dari dua yang dibeli oleh kakakku itu juga diminati oleh orang lain. Beberapa waktu sebelum bulan puasa, salah satu kelinci betina kami kembali beranak. Namun sayang, tidak ada seekorpun yang selamat dari terkaman kucing. ternyata, kotak tempat ‘persalinan’ kelinci yang kami sediakan telah berlubang pada sisi bawahnya. Tapi kami cukup berbesar hati. sebab beberapa minggu setelah itu, secara hampir bersamaan, 2 kelinci kami yang lain beranak. Yang satu sebanyak 7 ekor, satunya 8 ekor. tapi salah satunya mati, sebab sempat terkena cakaran kucing–sebelum akhirnya kami memindahkan semuanya ke kandang yang baru. Waahh.. senangnya.

Saat lebaran kami memiliki banyak kelinci : 4 + 8 + 7 dan ditambah 5 lagi (Lho kok bisa?). bisa saja. ternyata, masa bunting kelinci hanya sekitar 40 hari. jadi kelinci kami yang anaknya sempat menjadi santapan kucing, tak lama kemudian kembali melahirkan anak. Tapi musibah itu datang semenjak kakakku berniat menambah varietas kelinci yang kami pelihara. Aku berniat membeli kelinci dengan jenis yang lain supaya kelinci yang ada di rumah kami semakin beragam. Aku memilih kelinci yang dijual di Jalan Kolombo, Depan kampus UNY. lucu sekali, tapi masih sangat kecil. mungkin baru berumur kurang dari sebulan. Ketika hendak kubawa pulang ke Purworeja, sampai di borobudur aku kehujanan. Padahal anak kelinci itu cuma kusimpan di kardus yang kuikatkan di jok belakang. Aku memang sempat berteduh, tetapi hanya sebentar, sebab teryata ada mantel yang bisa kugunakan. Waktu itu sudah menunjukkan pukul 15.30, sementara aku belum sempat sholat ashar. Akhirnya aku ngebut pulang, dengan harapan anak kelinci itu akan tetap sehat. Sampai di rumah kelinci yang baru saja kubeli itu terlihat masih sangat lincah. kebetulan tubuhnya tidak basah oleh air hujan. Namun beberapa minggu setelah itu, satu persatu kelinciku harus pergi meninggalkan dunia ini… :( entah kelinci mana yang pertama kali mati, sebab aku sedang tidak dirumah saat peristiwa pageblug itu mulai terjadi. Tapi yang jelas keaadaan tubuh mereka hampir sama : perut membuncit, dengan kotoran menempel di duburnya. Menurutku ada beberapa kemungkinan penyebab hal itu yang kemungkinan saling berkaitan :

1. Musim penghujan, suhu yang dingin membuat daya tahan kelinci berkurang. 2. Struktur kandang yang kurang tepat, (terlalu terbuka).

3. Tata letak kandang yang kurang mendapatkan sinar matahari.

4. Kesalahan dalam hal pakan (Beberapa saat sebelum peristiwa itu–karena hujan terus sehingga tak sempat mencari rumpu– aku membeli rendeng (pohon kacang sebagai pakan mereka.

5. Kelinci yang kubawa dari Jogja sudah terkena virus, yang kemudian ditularkan kepada ‘rekan’ sekandangnya.

6. ada kemungkinan yang lain yang belum ku ketahui?

Kini, kami masih bertahan meski kelinci tinggal satu. 3 hari yang lalu ibuku sempat meminjam kelinci pejantan milik tetangga. Apapun yang telah, sedang dan akan terjadi, InsyaAllah semua ada hikmahnya.

2 Respon untuk Kelinciku yang malang

  1. Thanks artikelnya.

  2. thanks dah berkunjung ke blog ini

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s