Bagiku Dia Pahlawan

Sore itu hujan sempat turun saat diriku bersiap-siap melangkahkan kaki ke luar rumah. Meski akhirnya hujan mereda, mendung masih menggantung di angkasa. Ada perasaan berat meninggalkan rumah, khawatir kalau-kalau hujan tiba-tiba saja turun di tengah jalan. Sementara itu perasaan capai seolah merayu diriku agar sebaiknya beristirahat saja di rumah. Namun keduanya bukan sebuah alasan utuk tidak berbuat kebaikan. Kenapa harus takut hujan jika sebuah mantel tersimpan rapi di jok motorku. Kenapa harus takut kecapaian jika malam telah ditakdirkan untuk menghapuskannya.

Wajah-wajah kecil yang haus akan kisah nabi itu sudah terbayang di kepala. Maya yang imut, Angga yang suka berceloteh, dan… ah, terlalu banyak nama yang harus kuingat tak sebanding dengan frekuensi pertemuanku dengan mereka. Kubayangkan mereka saat ini masih menunggu setia kedatangaku sembari bermain-main atau belajar membaca Al Quran. Aku harus ke sana.

Desa yang kutuju  masih satu kecamatan dengan desaku. Bagiku tidak ada kesulitan yang berarti untuk ke sana. Dengan bermodalkan sepeda motor dan sepersekian liter bensin, aku sudah bisa ke sana meski harus memakan waktu 15 menit perjalanan.

Perjalanan menuju desa itu sebenarnya tak ubahnya seperti berwisata. Hijau dedaunan menghiasi kanan-kiri jalan, sementara indah pegunungan menghampar sepanjang perjalanan. Ribuan pohon pinus menyambut dengan hawa sejuk-nya saat diriku memasuki gerbang desa itu.  Sementara curamnya relief tidak terasa sebab aspal pemerintah telah lama berkenalan dengan hutan desa ini.

Sebuah rumah sederhana di sebuah lembah tampak dari persimpangan jalan desa yang kebetulan berada di ketinggian. Tampak anak-anak kecil asyik bermain dipelataran rumah itu. Saat aku datang, mereka langsung menyambutku dengan salam dan uluran jabat tangan, sembari mencium tanganku.  Di dalam rumah, wanita separuh baya berhadapan dengan seorang anak yang masih membaca Al Qur’an. Melihat aku datang, wanita itu langsung mempersilahkan diriku menggantikan aktivitasnya. Aku terlalu terlambat. Hanya tersisa beberapa anak yang belum mendapatkan giliran mengaji.

Apa yang kulakukan saat ini mungkin tidak begitu membantu wanita separuh baya itu. Namanya Bu In (hingga tulisan ini ditulis aku belum tahu nama lengkapnya). Kudengar sudah 10 tahun ini beliau mengajari ngaji anak-anak di kampungnya setiap sore hari kecuali hari minggu. Tanpa pamrih. Sedangkan aku hanya sekali dalam seminggu, itu pun bergantian dengan sahabat-sahabat yang lain.

Bu In adalah seorang kepala sekolah SMP swasta. Setiap sore sehabis bertugas di sekolah, beliau sudah disibukkan dengan profesi sebagai guru ngajinya (aku tidak tahu apakah penggunaan kata profesi tepat atau tidak, sebab aktivitas ini tidak menghasilkan materi apapun). Bu In hanya menginginkan anak-anak di kampungnya tidak buta huruf Al Qur’an—kitab suci mereka. Ia tidak peduli dengan kelelahan yang selalu mengintai. Padahal kesibukannya tidak pernah henti meski ia telah berada di rumah. Ladangnya yang lumayan luas sesekali membutuhkan sentuhan tangannya. Sementara malam hari kerap ia gunakan untuk menyelesaikan pekerjaan sekolah yang tertunda. Waktu luangnya harus tergerus demi masa depan anak-anak dikapungnya itu.

Di daerahku, banyak Bu In-Bu In lain yang masih istiqomah hingga saat ini. Bagiku mereka adalah pahlawan. Mereka tulus berbuat tak inginkan balas jasa. Terus mengabdi tanpa tendensi.

Anak-anak telah duduk rapi menatapku tak berkedip. Mereka semua telah belajar mengaji tak terkecuali. Kini giliranku memberikan materi TPA. Ada sedikit perasaan grogi saat berada di depan wajah-wajah polos itu. Kelak akan kuceritakan kisah-kisah kepahlawanan kepada mereka. InsyaAllah.

4 Respon untuk Bagiku Dia Pahlawan

  1. Subhanalloh mulia betul hati si Ibu, entah apakah masih banyak orang2 seperti beliau seluruh muka bumi ini.

    Setidaknya ditempat antum masih ada, ternyata…….

  2. bagiku, dia juga pahlawan kok…

  3. Karena itu adalah pengorbanan dan ketika berkorban itu disertai keikhlasan, maka kelelahan pun tak kan terasa

    Edi: Trims Mb Niefha sudah mampir di blog saya. btw, alamat webnya g valid ya?

  4. bagus saya suka, buka blog saya juga yaaa

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s