Pemilu ini mengajarkan keikhlasan…

Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Begitulah kutipan SMS dari seorang teman setelah mendengar kabar dariku mengenai perolehan suara sementara partai kami pada pemilu kali ini.  Hingga tulisan ini dibuat, aku masih belum tahu apakah partai kami mampu menempatkan satu anggota dewan dari daerah pemilihanku. Yang jelas, data yang kuperoleh dari para saksi tidak seperti yang diharapkan.

Semula kami sangat optimis bisa menjaring simpati masyarakat dalam jumlah yang signifikan, meningkat dari 5 tahun yang lalu. Dari jumlah kader yang ada, dana dan alat peraga yang dikeluarkan, serta program kerja yang kami lakukan jauh lebih banyak dibandingkan tahun 2004 yang lalu. Namun optimisme itu mulai goyah saat data dari daerah  yang diperkirakan menjadi ‘lumbung’ suara partai ternyata meleset dari perkiraan semula.

Sebut saja daerah “K” dan “W”, di mana bangunan masjid didonasikan di wilayah tersebut atas bantuan kader partai yang diamanahi sebagai pengelola yayasan.  Masjid tersebut didirikan di wilayah tersebut memang tanpa tendensi politik, apalagi sampai kontrak politik.  Namun silaturahmi kader partai dengan masyarakat dua desa tersebut menjadi lebih intensif setelah masjid mulai dibangun. Beberapa tokoh masyarakat akhirnya bersimpati dengan partai kami. Tidak hanya itu, mereka juga berjanji akan membantu partai kami dalam pemilu kali ini. Bahkan seorang tokoh dari desa “W” meyakini PKS di sana bisa memperoleh 600-an suara.

Namun Allah maha membolak-balikkan hati manusia (terlepas dari isu money politic dan aksi sebar selebran gelap  yang dilakukan partai lain). Informasi yang masuk kepada kami mengabarkan kemenangan yang tertunda. Desa “K” dan “W” yang diperkirakan menjadi lumbung suaran, bahkan tidak genap memberi 3 digit angka. Bagitu pula Belasan desa lain yang menjadi tempat kami melakukan bhakti sosial. Hanya beberapa yang memberikan hasil menggembirakan. Bahkan di sebuah desa “Kg”, tempat kami melaksanakan kegiatan bazar murah, tidak satupun suara partai kami ada di sana.

Untunglah, kami bukan partai yang haus kekuasaan. Bagi kami, kekuasaan seperti halnya rumput yang tumbuh di sawah beberapa saat setelah menanam padi. Kami hanya berniat menanam padai dan berharap panen dengan sukses di kemudian hari. Adapun rumput yang tumbuh, itu bukan tujuan utama. Harus kuakui, tidak jarang rumput yang tumbuh justru menghambat pertumbuhan padi.

Dari pengalaman ini, paling tidak ada beberapa pelajaran yang bisa didapatkan. Pertama, Masyarakat masih harus mendapatkan pendidikan politik yang benar: politik yang tidak menghalalkan segala cara. Aku mendengar langsung dari masyarakat yang mengatakan bahwa mereka tidak akan memilih partai yang tidak memberi apa-apa kepada mereka. Artinya, masyarakat masih belum paham bahwa budaya korupsi di negeri ini bermula dari politik uang. Mereka masih perlu dikenalkan dan dipahamkan dengan politik yang bersih.

Kedua, kemenangan yang tertunda ini mungkin mengabarkan kepada kami bahwa kami belum siap berdakwah melalui parlemen. Mungkin akibat buruk akan terjadi apabila salah satu kader kami masuk ke dalam parlemen.  Allah Maha Mengetahui. Ketiga, pemilu ini memberikan pelajaran keikhlasan kepada kami. Barangkali kerja-kerja sosial dan dakwah yang kami lakukan selama ini hanya mengharapkan simpati dari masyarakat. Bukan diniatkan untuk beramal sholeh demi mengharap Ridho-Nya. Mudah-mudahan ini menjadi pengingat agar kami selalu memperbaiki niat dalam setiap langkah di masa-masa yang akan datang.

4 Respon untuk Pemilu ini mengajarkan keikhlasan…

  1. Tragis jika PKS betul2 berkoalisi dengan SBY si pelindung bisnis kafir, saatnya PKS merapat ke partai2 Islam lainnya yang telah mereka gembosi suaranya dan berjuang bersama mereka dan jangan biarkan sebagian umat Islam jadi membenci PKS, demi untuk kemshalahatan umat. INSYA ALLAH!

    Buktikan bahwa dana umat yang telah disedot untuk iklan politik PKS memang benar2 untuk kepentingan umat Islam, bukan kepentingan petinggi PKS saja, buktikan hijaumu PKS!
    Jangan biarkan dirimu dianggap sebagai partai pragmatis dan oportunis, itu memalukan!

    Buat para kader, saatnya kita mawas diri dan berkaca kembali akan manuver2 petinggi PKS yang haus kekuasaan saat ini, mari kembali melayani masyarakat dalam tatanan bermasayarakat yang lebih Islami, daripada sekedar tercuci otak dan terjebak dalam permainan partai!
    Tujuan kita awalnya mendukung PKS adalah untuk mengagungkan Islam, bukan untuk kepentingan kekuasaan para petinggi partai, dan sayangnya banyak kader yang tidak menyadarinya!

  2. Dimana-mana kalah y?
    ga papa…bukan kekuasaan yang dinomorsatukan kan? Tapi kontribusi dan perbaikan itu yang terus dipertahankan

  3. yang penting ga golput lah…

  4. eh tau nggak dikelurahanku menang Lho
    Subhanalloh^^

    Edi: Nggak gumun, coz di Klaten ada pak HNW di daftar caleg

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s