Kalimat Tanya Untuk Sebuah Perintah

Mengungkapkan sebuah kalimat perintah atau larangan terkadang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Diperlukan pertimbangan-pertimbangan tertentu agar kalimat yang kita ucapkan tidak membuat kita dicap sebagai orang yang tidak sopan, tidak tahu diri, atau semacamnya. Pertimbangan itu diantaranya adalah pilihan kosa kata, nada bicara, disamping kepada siapa kita berbicara. Tidak mungkin kita berbicara dengan kata-kata gaul, atau dengan nada tinggi kepada orang yang sangat  kita hormati.

Begitu pula ketika seseorang  hendak memberikan perintah kepada orang yang dicintai, mungkin perlu ada bumbu-bumbu tertentu yang membuat si pelaksana perintah lebih bersemangat menjalaninya tanpa ada unsur paksaan. Misalnya seorang ibu yang meminta tolong kepada anaknya dengan mengatakan : “Sayang.. tolong belikan ibu korek api dong..” atau mengatakan : “Adik manis, kalo makan tidak boleh pake tangan ki… riii”.

Demikian pula ketika seseorang memberikan perintah kepada orang yang dihormati, bumbu-bumbu itu diperlukan juga, misalnya : “Maaf Pak, tempat duduk ini khusus untuk para pejabat. Silahkan bapak pindah ke sebelah sana.”  Atau, “Mohon bapak tidak mengajak serta balita masuk ke rumah sakit ini.”

Selain dengan ‘bumbu-bumbu’ tadi, sebuah perintah atau larangan ternyata bisa disampaikan dalam bentuk pertanyaan. Pertanyaan yang diberikan tersebut berisi sebuah sindiran tentang sesuatu hal yang sebenarnya sudah dipahami oleh orang yang diberi pertanyaan.  Orang yang diberikan pertanyaan harus benar-benar menyadari bahwa pertanyaan yang diberikan itu hanya merupakan sindiran. Misalnya ada anak yang membuang sampah di sembarang tempat, padahal di depannya ada bak sampah. Dengan kata-kata seperti ini : “Dik, jangan buang sampah sembarangan!”, bisa jadi si anak tidak mau peduli dengan kata-kata kita, bahkan menjadi sinis dengan kita. Berbeda kalau kita memberikan sebuah pertanyaan kepada anak itu “Dik, lihat bak sapah itu nggak?” sambil mengacungkan tangan kita ke bak sampah, kemungkinan besar si anak akan luluh lalu segera mengambil sampah yang semula tercecer dan memasukkannya ke dalam bak sampah. Namun perlu diingat, si anak harus sudah paham terlebih dahulu tentang anjuran membuang sampah pada tempatnya.

Begitu pula ketika kita melihat seorang sahabat yang  melanggar sebuah peraturan yang sudah disepakati bersama, maka perintah untuk menaati aturan itu cukup menggunakan kalimat tanya yang berfungsi untuk mengingatkan.  Misalnya: “Sudah tahu kan, kalau pakaian nggak segera dicuci bisa jadi bau?” Atau dengan kalimat sindiran : “Sekarang boleh ya kalau naik sepeda motor ke Malyoboro  nggak pake Helm?”. Boleh dicoba.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s