Ada perasaan sedih tatkala teman perjalanan yang sekitan lama berjalan beriringan tiba-tiba berpisah di sebuah persimpangan. Perasaan sedih itu memang tak sama seperti sedihnya orang yang ditinggal mati kelurganya. Namun dalam kesedihan itu masih tersisa harapa kelak bisa kembali bersama.
Bagaimana tidak, perjalanan panjang telah kami lalui bersama. Suka dan duka berganti dirasa. Saatu harus melewati terjalnya perbukitan, kami saling membantu dan saling memotivasi agar kaki-kaki kecil ini sanggup menapakinya. Saat harus melewati derasnya air sungai, kami harus bahu membahu agar salah satu dari kami tidak terhanyut. Ya, tempat yang dituju sepertinya terlampau jauh. Namu bukan tidak mungkin dengan rute perjalanan ini kami lebih mudah menuju ke sana.
Sekian lama kami terus bersama, hingga suatu saat berpapasan dengan rombongan berbeda di sebuah persimpangan. Tujuan mereka sebenarnya sama dengan kami. Hanya saja mereka bersikukuh bahwa rute yang mereka lalui lebih bisa dipertanggungjawabkan. Artinya ada sebuah kepastian untuk bisa sampai ke tujuan tanpa harus tersesat. Namun kami juga bersikukuh bahwa rute yang kami lalui bukan rute yang asal-asalan. Kami tak mungkin berani menapaki jalan tanpa adanya peta yang memandu.
Barangkali kami dan mereka memang ditakdirkan untuk berkompetisi. Tidak mungkin kami berjalan bersama dengan ego yang berbeda. Biarlah waktu yang membuktikan siapa yang lebih cepat sampai ke tempat tujuan.
Tiba-tiba muncul ketidak percayaan di antara kami. Mungkin perjalanan yang terlalu jauh ini memperlihatkan sifat-sifat asli kami yang selama ini tertutupi. Apalagi kejenuhan muncul saat tujuan yang diinginkan tak jua terwujud dalam waktu yang begitu lama. Satu persatu kami pun berpisah. Ada yang putus asa lalu berbalik arah, ada pula yang akhirnya bergabung bersama rombongan lain mengikuti rute mereka. Bagi yang berputus asa, aku tak bisa banyak berkata. Aku hanya bisa berdoa semoga suatu saat semangatnya kembali membara.
Terus terang aku lebih suka dengan teman yang berpisah dari kami lalu bergabung dengan rombongan lain meski menyisakan perasaan sedih. Itu artinya dia masih punya semangat untuk bertemu kembali di tempat yang memang kita tuju. Begitu juga semangat perjuangan masih ada meski melawati jalur yang berbeda. Kubiarkan sahabatku itu melangkahkan kaki dengan ucapan penuh harap : “SELAMAT JALAN SAHABATKU, SEMOGA KITA KEMBALI BERSUA DI PERSIMPANGAN BERIKUTNYA…”
kita ini sedang meraih keberhasilan mencapai tujuan
atau
sedang belajar memahami sebuah kegagalan mencapai tujuan
tetapi
kalau berbelok atau berbalik di persimpangan
ini pilihan atau kekecewaan?
Kalau tujuannya sama yaitu surga pasti akan bertemu disana akh…untuk kali ini percayalah padaku.
ya begitulah hidup, pertemanan mungkin tak akan bisa sama2 selamanya kadang setiap dari kita punya aktivitas masing2 dan waktu akan menjawab segalanya sampai pada suatu saat kelak kita akan tahu teman seperti apa yang punya ikatan yang kuat yaitu pertemanan yang dilandasi ikatan ukhuwah islamiyah ^^