Siaran

Mimpi semalam mengingatkanku pada perjalanan hidup yang nyaris terlupakan. Dua hari ini diriku tidur ditemani suara radio, menyibak kembali memori masa SMP saat di rumah belum ada televisi. Apa yang kulakukan ini membuatku kembali memainkan imajinasi seperti waktu itu. Pikiranku hanya bisa mereka-reka seperti apa wajah sang penyiar, suasana, dan keadaan di sekitarnya, tanpa tahu kenyataan yang sebenarnya. Namun aku menyadari benar bahwa dengan mendengarkan radio itulah kemampuan otak kananku akhirnya terasah. Di usia SMA diriku telah mencipta belasan lagu—yang meski tidak terlalu bermutu—namun sempat membuatku bangga. Sebab tidak semua orang bisa melakukannya.

Aku pernah ngefans berat dengan seorang penyiar salah satu radio swasta di Purworejo. Dari suaranya yang enak didengar, obrolannya yang mengundang tawa, serta banyaknya pendengar yang menjadi penggemarnya, kubayangkan wajah dan postur tubuhnya seperti pemain sinetron. Namun pengakuannya seringkali merusak imajinasiku. Mas Ipung—nama penyiar itu—mengaku kalau dirinya adalah laki-laki berkulit kehitaman dan berambut gondrong. Diriku tak pernah tahu apakah pengakuannya ataukah imajinasiku yang tepat, sebab aku tak pernah bertemu langsung dengannya.

Keinginan untuk menjadi seorang penyiar sempat muncul saat Mas Ipung absen dari siarannya lalu digantikan oleh penyiar lain yang baru. Aku kecewa dengan gaya siarannya yang jauh berbeda dengan mas Ipung. Aku berfikir andai saja bisa menggantikan Mas Ipung siaran. Aku yakin bisa karena sering mendengarkannya. Namun aku tak pernah mencari tahu tentang informasi lowongan penyiar di radio itu. Bahkan berkunjung ke radio itu pun tidak pernah sebab banyaknya aktivitas saat masih di SMA.

Keinginanku untuk “cuap-cuap” di udara akhirnya terwujud saat masa akhir perkuliahan. Baru kusadari menjadi penyiar ternyata tidak semudah yang kubayangkan. Aku mengira seorang penyiar hanya sebatas berbicara. Namun seorang penyiar juga menjadi operator lagu, pemutar iklan, pengatur suara, sekaligus menjadi  seorang penentu dalam sukses atau tidaknya sebuah mata acara.  Bahkan andai saja penyiar hanya ditugaskan sekedar untuk bicara, tetap saja tidak semua orang bisa melakukannya.

Dalam mimpiku semalam, aku berada di sebuah stasiun radio sedang menunggu waktu siaranku tiba. Namun tidak ada yang bisa kuingat dengan jelas. Mungkin ini hanya bunga tidur yang tumbuh karena aktivitasku mendengarkan radio sebelum tidur. Ah, paling tidak diriku pernah merasakan kejadian seperti itu di dunia nyata. Meski mimpi tak berarti apa-apa, namun pengalaman itu tetap menjadi guru yang paling berharga.

2 Respon untuk Siaran

  1. cuma mimpi y om?

  2. Penyiar aha itu obsesi jaman Smp dulu tapi mungkin nggak bakalan terwujud………

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s