Ada yang tidak tahu kesemek? buah dengan warna hijau kekuningan. bentuknya seperti buah tomat, namun daging buahnya agak keras seperti apel. Rasanya juga manis, namun dengan sensasi yang berbeda dengan buah-buah lainnya. Berbeda dengan apel, dii dalam buah ini tidak ditemukan adanya biji, meski kulitnya sama-sama bisa dimakan. Buah kesemek biasa dijumpai di pasar-pasar tradisional saat musimnya tiba. Di pasar Kaliboto–pasar yang paling dekat dengan rumahku–buah tersebut biasa dibawa oleh pedagang dari daerah Magelang. Kebetulan aku tidak pernah melihat pohon kesemek di sekitar rumahku.
Beberapa hari yang lalu ibu pergi ke pasar dan membawa beberapa kilogram kesemek. Pada mulanya sama sekali tidak ada keinginan untuk mencantumkan istilah ‘kesemek’ di blog ini. Namun keberadaan kesemek di rumah yang tak habis dalam beberapa hari ini membuat memori masa laluku tersibak.
Tidak biasanya makanan di rumah mubadzir begitu saja. Apalagi jika makanan itu adalah buah-buahan, yang mana kami termasuk jarang membelinya. Ibu pun sempat heran ketika mengetahui diriku hampir tak menyentuh buah yang dibelinya itu. Inilah yang membuatku teringat kembali saat aku kecil dulu, ketika orang tuaku mengalami masa-masa sulit dalam membiayai kebutuhan hidup anak-anaknya. Penasaran ya? simak saja catatanku ini.
Aku adalah anak bungsu dari 4 bersaudara. Saat masih duduk di bangku SD, kakak pertama dan kedua telah masuk ke Perguruan Tinggi. Saat aku SMP, kakak ke tiga menyusul ke bangku kuliah. Meskipun semuanya masuk ke sekolah negeri, tapi bisa dibayangkan betapa berat membiayai mereka dalam waktu yang hampir bersamaan. Rupanya orang tua kami sadar betul dengan kondisi tersebut jauh-jauh hari sejak kami terlahir. Inilah yang membuat mereka berdua selalu hidup sederhana serta menghemat pengeluaran. Apalagi mereka sudah terbiasa dengan hidup susah sejak belum menjadi PNS.
Pola hidup sederhana juga diajarkan kepada kami putra-putrinya. Selain konsumsi sehari-hari yang bisa dikata”seadanya”, kami bersekolah di lokasi yang tidak jauh dari rumah untuk menghemat biaya transportasi. Barulah saat SMA kami harus ke kota, karena memang tidak ada SMA Negeri di Kecamatanku. Tidak hanya itu, uang saku kami cukup minim dibandingkan dengan anak-anak lain pada waktu itu.
Aku masih ingat betul, tahun pertama masuk SD, aku hanya dibekali Rp. 50 setiap minggunya. Uang itu diberikan pada waktu ada jadwal olah raga untuk jajan di kantin, menutupi rasa malu jika hanya meminta segelas air putih. Menjelang lulus SD, uang sakuku ditambah menjadi Rp. 100 setiap minggunya. Aku masih ingat betul, saat itu 25 rupiah sudah bisa dibelanjakan sepotong bakwan/tempe, snack kemasan kecil, atau 3 buah permen asem.
Saat SMP tidak jauh beda. uang sakuku menjadi Rp. 200 setiap minggunya. Namun harga-harga saat itu sudah naik, serta makanan kecil yang tersedia di kantin berbeda/ lebih mahal. Seringkali ada pengeluaran mendadak saat aku tidak membawa uang sepeserpun. Untuk itu aku tidak segan meminjam ke seorang teman yang kira-kira membawa banyak uang.
Banyak kejadian-kejadian menarik saat aku masih SD. Pada waktu kelas satu, aku seringkali diledek oleh teman-temanku. Aku lupa hal ikhwal yang menjadi bahan ledekan, tapi aku masih ingat betul siapa yang meledekku itu. Aku mengejar anak itu hingga akhirnya kuraih tas punggung yang dibawanya. Aku tidak sengaja merobekkan tak punggung yang dipakainya. Aku sangat ketakutan karena anak itu berbalik mengancamku. Akhirnya aku membuat komitmen untuk memberi ganti rugi tasnya yang robek dengan uang Rp. 100. Ingat, aku hanya diberi uang saku 50 Rupiah per minggu. Akhirnya aku membayar uang ganti rugi itu dengan mencicil 4 kali. Dengan 50 rupiah per minggu itu, 25 Rupiah keserahkan kepada anak itu, sedangkan 25 Rupiah yang lain kupakai untuk membeli jajan di kantin sekolah selepas olahraga.
Masih saat di SD juga saat demam bola mewabah di kampungku. Tak ingin ketinggalan dengan teman-teman yang lain, aku pun sering ikut menonton pertandingan sepakbola antar desa yang diadakan di lapangan Kaliboto. Lama-kelamaan aku jadi ingin bermain bola bersama teman-temanku. Aku pun berkeinginan mempunyai bola plastik sendiri untuk latihan di rumah. Waktu itu harga bola Rp. 750. Namun ibu tidak memberiku uang begitu saja. Ibu bersedia memberi uang sebanyak itu asalkan aku bersedia tidak diberi uang saku selama 7 minggu berturut-turut. Akupun menurutinya, sebab kupikir ini hampir sama dengan aku menabung. Bahkan uangnya lebih aman, tidak keburu kupakai.
Aku masih duduk di Sekolah Dasar juga ketika musim buah kesemek datang, lalu Bu Jarot, pemilik kantin, menjualnya di sekolahku. Jatah uang saku diriku yang hanya seminggu sekali tidak memberiku banyak kesempatan untuk membeli buah kesemek. Berbeda dengan teman-temanku yang hampir setiap hari menikmatinya. Seringkali aku hanya menatap teman-temanku menikmati kesegaran buah kesemek sambil membayangkan buah itu ada dalam kunyahanku. Bahkan saat itu aku masih belum hafal seperti apa rasa buah kesemek, karena aku hanya memakannya saat ada teman yang berbelas kasih kepadaku. Nah, untuk mengurangi rasa inginku pada buah kesemek, aku pun menanamkan mindset dalam pikiranku: AKU TIDAK INGIN MAKAN BUAH KESEMEK. BUAH KESEMEK TIDAK ENAK. Bahkan kubayangkan aku menjadi mual jika makan buah kesemek.
Rupanya mindset itu masih melekat dalam diriku hingga saat ini. Meski kusadari bahwa buah kesemek sangatlah lezat, namun masih tak ada keinginan yang menggebu untuk sekedar mencicipinya. Itulah mengapa buah kesemek yang dibeli ibu beberapa hari lalu tidak habis hingga saat tulisan ini dibuat.
blash ra ono bayangan tuk buah yang satu ini
Btw uang sakuku pas SD Rp. 100