Tidak ada yang istimewa saat aku pertama kali melihatnya. Kulitnya yang kehitam-hitaman serta postur tubuhnya yang biasa-biasa aja tidak cukup menarik perhatianku untuk mengenal lebih dekat dengannya. Waktu itu aku malah berandai-andai bisa bersahabat dekat dengan F*** , yang selain cakep juga terlihat pinter dengan kaca matanya yang tebal. Meski akhirnya aku tidak duduk sebelahan dengan F, namun aku jadi satu meja dengan W****, yang tidak kalah cakep dan pintar dari F.
Wajar kalau aku harus pandai-pandai cari teman di sekolah itu: teman yang bisa memberi pengaruh positif kepadaku, teman yang kepandaiannya bisa berdampak pada meningkatnya kepandaianku. Masuk ke sekolah yang cukup favorit, aku tidak terlalu pede sebab asal sekolahku yang pada waktu itu minim prestasi. Sementara teman-teman baruku, F, W, bersekolah di SMP ‘kota’ yang prestasinya tak diragukan lagi.
Namun aku mulai dekat dengan sahabatku ini saat ayahandanya meninggal dunia. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan kita saat orang yang kita cintai, orang yang selalu melindungi pergi untuk selama-lamanya. Aku ikut berempati. Oleh karena itu ketika wali kelas menyuruh para siswa untuk melayat ke rumahnya aku pun ikut serta. Di rumahnya, ia terlihat tampak tegar. Tak ada raut muka kesedihan, justru senyuman yang menyambut kedatangan teman-temannya. Ia pun dengan tetap tegar mempersilahkan aku dan beberapa teman untuk menyolatkan jenazah ayahnya.
Sejak saat itulah aku menyadari beberapa sifatnya. Ia adalah seorang yang periang, humoris, dan cerdas. Saat aku mendapat peringkat 3 di kelas, dia justru yang mendapat peringkat 2. bahkan F dan W berada jauh di bawah peringkatku. Penampilan memang seringkali menipu.
Dia juga sangat religius. Saat aku dekat dengannya, interaksi dengan teman-teman rohis menjadi lebih sering kulakukan. Ia pun tak segan mengajakku dan sahabat-sahabat yang lain, untuk melakukan sholat dhuha saat bel istirahat pertama berbunyi. Ia pula yang menyarankan kepada kami agar terlebih dulu sholat dhuhur berjamaah sebelum pulang ke rumah. Ah, barangkali aku bukan seperti diriku saat ini jika dulu tak bersahabat dengannya.
Kedekatanku dengannya tidak sia-sia. Saat diriku terbaring lemas di Rumah Sakit, konon dia ikut menungguiku. Aku tidak tahu betul apa yang dilakukannya kepadaku, karna saat itu diriku masih tidak sadarkan diri. Aku hanya mendengar dari cerita ibuku bahwa sahabatku itu sangat tlaten dalam merawatku, bahkan hingga larut malam. Ketika aku sembuh, dia masih sering mendatangi rumahku, memastikan tidak terjadi apa-apa dengan diriku.
Sekitar 5 tahun kami berpisah semenjak lulus SMA. Aku yang berasal dari keluarga mampu melanjutkan ke perguruan tinggi di luar kota, sedangkan ia cukup bangga bisa kuliah di salah satu PT swasta setempat. Selain kuliah, ia harus tetap menjaga sang ibu.
Setelah sekian lama tak bertemu, kemarin pagi dia datang ke rumah. Sekedar bersilaturahim mumpung ada kesempatan. Baik aku maupun dia sama-sama belum terikat pekerjaan. Ia pun menyampaikan keinginannya untuk mendirikan lembaga kursus bahasa inggris di rumahnya, daripada sekedar menjadi mentor bergaji minim. Sedangkan aku dengan berat hati harus bercerita tentang keinginanku untuk menggapai cita ke luar kota. Aku tak mungkin mengajaknya turut serta, sebab ia harus tetap berada tak jauh dari ibunya. Tapi aku sangat yakin, dengan kemampuannya saat ini, impiannya pasti akan terwujud.
Sahabat, teruslah berusaha meraih impianmu. Aku pun akan berjuang untuk meraih cita-citaku. Meski kita akan berjauhan, aku akan tetap sahabatmu.
(kupersembahkan untuk sahabatku, saudaraku, Dwi Prasetyo)
So Sweet! Persahabatan yang indah.
salam kenal sahabat persahabatan memang indah gimana rasanya kalau hidup ini tanpa ada sahabat
Pergi tuk kembali to^^
rasah sedih sarana komunikasi sekarang kan buanyak^^
Betul mbak kendri, diriku jg nggak sedik kok…