Masih teringat dibenakku saat anak-anak berlarian menuju ke pelataran berlumut tak jauh dari rumahku. Masing-masing anak itu berlarian secara berkelompok lalu berheti di tempat itu dengan sebilah kayu di tangannya. Aku baru menyadari beberapa saat kemudian kalau yang dipegang anak-anak itu adalah pedang-pedangan. Anak-anak itu rupanya sedang bermain perang-perangan. Sayup-sayup masih kuingat teriakan salah satu ‘pimpinan’ mereka yang sesumbar, mengatakan bahwa pedang-pedangan mereka jauh lebih bagus dari pada kepunyaan kelompok lain. Dasar anak-anak!
Namun waktu itu diriku juga masih anak-anak. Bahkan umurku jauh lebih muda dari anak-anak yang bermain perang-perangan itu. Melihat mereka, ditambah inspirasi dari banyak film perang di televisi yang sering kulihat membuatku tertarik untuk turut serta bermain perang-perangan. Namun aku tidak kenal dekat dengan anak-anak itu. Mereka adalah anak RT sebelah yang sebagian besar hanya kuketahui namanya.
Akhirnya aku pulang ke rumah membawa sebuah tekad. Kebetulan di rumah kutemukan sepotong kayu memanjang yang dengan sedikit penambahan potongan kayu lebih pendek di bagian pangkal menjadikannya seperti pedang. Dan… jrenggg…. sebuah pedang-pedangan akhirnya kumiliki, meski sebenarnya lebih mirip dengan salib yang terbalik…
Beberapa hari kemudian aku bertemu dengan beberapa teman yang usianya lebih tua dariku: Mas Rudi, mas Wisnu, dan beberapa yang lain yang aku lupa. Aku mengajak mereka turut serta bermain perang-perangan. Mereka pun setuju dan melangkah bersamaku menuju pelataran berlumut tempat anak-anak RT sebelah bermain. Kebetulan tempat itu adalah perbatasan 3 RT yang berbeda. RT-ku, RT03—terletak di sebelah Barat pelataran itu, RT02 berada di sebelah Timur pelataran itu. Anak-anak yang beberapa hari sebelumnya bermain perang-perangan adalah anak RT01. Rumah mereka berada sebelah Selatan, juga tidak jauh dari pelataran berlumut itu.
Di perjalanan menuju pelataran itu, kami bertemu dengan Andik, anak seorang guru TK, yang pada waktu itu terkenal kenakalannya. Melihat kekompakan kami, rupanya Andik jadi tertarik untuk bermain perang-perangan juga. Ia pun turut serta bersama kami menuju pelataran berlumut. Sesampainya di sana, kami kebingungan, sebab sama sekali belum ada gambaran mengenai apa yang seharusnya dilakukan saat bermain perang-perangan.
Kami pun hanya duduk-duduk di pelataran itu menikmati sejuknya angin yang berhembus di sela-sela pohon bambu. Hanya Andik yang sepertinya begitu bersemangat di hari itu. Ia terus berjalan ke arah timur, menuju wilayah RT02. Sungguh tidak kusangka, ia meneriakkan kata-kata yang memancing emosi anak-anak RT 02—jika diterjemahkan kurang lebih artinya: “Hoi… anak RT02.. ayo kita berduel!”
Beberapa saat kemudian beberapa anak RT03 berjalan ke arah kami. Sepertinya sih mereka hanya numpang lewat. Namun saat lewat di depan Andik, mereka disuguhi dengan kata-kata umpatan serta ditantang berkelahi. Rupanya mereka terpancing emosi Andik. Aku tidak bisa berbuat apa-apa saat Andik dan anak RT02 berkelahi. Teman-teman yang ada bersamaku pun mendekati Andik, bukan untuk melerai, tapi untuk membantunya. Sadar kalah jumlah, anak-anak RT02 kabur menuju tempat tinggalnya. Ternyata mereka tidak menyerah. Mereka justru datang lagi dengan membawa beberapa anak dengan jumlah yang lebih besar.
Duel besar pun tidak bisa dielakkan. Diriku pun secara spontanitas berlarian mencari bala bantuan. Beberapa teman pun berdatangan untuk turut serta dalam ‘peperangan’ itu. Aku hanya menyaksikan duel tanpa senjata yang dilakukan teman2ku, sebab tak ada lawan yang seimbang denganku. Perang-perangan yang semula direncanakan berubah menjadi perang yang sesungguhnya, meski tak memakan korban. Aku masih ingat benar duel hebat antara Andik dan Wawan, saling banting di padang berlumut itu, yang hingga peristiwa itu berakhir, tak diketahui siapa yang menang ataupun yang kalah. Namun ‘perang’ tak terencana itu akhirnya berhenti dengan sendirinya setelah dua belah pihak mengalami kelelahan.
Untunglah duel antar RT itu tidak berlanjut di kemudian hari. Penyebabnya adalah, dua orang yang pada waktu itu berduel sengit kini menjadi saudara dekat. Ya, tak lama setelah itu Oom-nya Andik menikah dengan kakaknya Wawan. Jadi mau tidak mau, Andik menjadi harus memanggil Oom pada Wawan.
Hingga beberapa waktu setelah itu, ternyata teman-temanku juga masih mengingat peristiwa itu. Hatiku begitu teriris saat mereka mengatakan bahwa akulah orang yang menyebabkan terjadinya peristiwa itu. Aku tidak bisa mengelak, sebab akulah orang yang pertama kali mengajak mereka bermain perang-perangan.
Kini aku sadar mengapa seorang inisiator justru seringkali harus menanggung akibat buruk dari hasil pemikirannya itu. Bahkan tidak jarang orang lain juga ikut merasakan dampak buruknya. Tentu hal tersebut disebabkan karena kurangnya perhitungan yang matang sebelum mengambil tindakan. Aku jadi tahu, kenapa Pak SBY begitu hati-hati dalam bersikap atau berbicara. Sebagai seorang presiden, tentunya beliau tidak ingin sebagian rakyatnya menjadi korban gara-gara salah kata atau tindakannya….. (Lho… kok malah kampanye? J)