Imam

Ada wajah yang terekam jelas di dalam ingatanku saat minggu pertama berada di Al Multazam. Bukan karena parasnya yang tampan atau kelakukannya yang nganeh-anehi, namun karena bacaan qurannya yang sangat bagus. Beberapa kali ia terlihat menjadi imam di masjid sekolah dengan bacaannya yang panjang-panjang namun enak didengar. Kakiku menjadi betah berlama-lama berdiri dalam shalat saat ia menjadi imam. Mendengar ia membaca Quran seperti laiknya mendengarkan MP3 murotal keluaran timur tengah.

Oh iya, berbeda dengan masjid-masjid di sekolah reguler, Masjid di boarding school digunakan untuk shalat 5 waktu tak terkecuali. Begitu pula di Al Multazam. Imam yang memimpin shalat di sana bergantian, biasanya oleh ustadz-ustadz muda yang memiliki hafalan banyak dan bacaan yang bagus. Variasi imam seperti ini membuatkau lebih bersemangat untuk shalat berjamaah. Sebab masing-masing imam memiliki ciri khas tersendiri atau lagu yang berbeda dalam melantunkan ayat-ayat suci. Aku jadi ikut bersemangat untuk perlahan-lahan menhafal Al Quran, sebab menyadari betapa hafalanku sangat sedikit dibandingkan mereka.

Adapun wajah yang paling kuingat tadi bukan saja karena bacaan qurannya yang banyak dan bagus, namun juga karena tubuhnya yang mungil. Baby Face! Memang, Rata-rata ustadz di sini memiliki postur tubuh yang tidak jauh dari para santrinya. Bedanya kadang cuma bisa dilihat dari ada atau tidak adanya jenggot. Namun aku sangat terkejut saat melihat laki-laki yang seringkali menjadi imam masjid itu ternyata berpakaian putih abu-abu saat jam masuk sekolah. Subhanallah…. ternyata ia adalah seorang santri.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s