Jeritan Hati Seorang Agen

Orang itu masih terus bermandikan harap saat diriku tiba di depan ‘kantor’nya. Terus setia menunggui tempat kerjanya yang sepi meski tak ada kepastian apakah klien baru akan datang lagi.  Oh iya, aku merasa harus membubuhkan  tanda petik untuk melengkapi kata kantor, sebab tempat itu memang tak layak disebut kantor. Jangankan seperangkan komputer beserta printernya, mesin ketik pun tak ada. Hanya beberapa kursi plastik, sofa usang, meja yang juga usang, etalase yang tak terpakai, dan barang-barang kerajinan yang terbuat dari kayu yang sepertinya tak terurus. Satu-satunya hal yang paling berharga yang bisa ditemui di tempat itu hanyalah segepok karcis yang disetiap lembarnya terdapat pundi-pundi rejekinya.

Lagi-lagi diriku sepertinya menjadi satu-satunya penumpang di hari itu. Kebetulan memang aku tidak bepergian di akhir pekan, awal, atau akhir liburan. Pada akhir pekan pun pelanggan yang datang paling banyak  hanya sekitar 7 orang sehari. Padahal penghasilan yang diperolehnya hanyalah komisi penjualan karcis sebanyak 7 persen dari jumlah harga karcis yang berhasil dijualnya. Kalau hari itu hanya diriku yang membeli tiket seharga 65 ribu, maka pendapatan beliau hari itu hanya Rp. 4.450,00. Untunglah, tak lama setelah aku duduk-duduk seorang wanita paruh baya hendak pergi ke Tegal. Lumayan, paling tidak uang 7 ribu rupiah dia kantongi hari itu.

Menunggu kedatangan bus malam yang baru akan lewat satu jam lagi, aku memanfaatkan waktu untuk mengobrol dengan pak agen bus itu. Beliau pun bercerita panjang lebar tentang suka dukanya menjadi seorang agen. Juga cerita tentang masa lalunya yang suram. Juga kesulitannya hidupnya yang ia alami hingga saat ini. Ah, ia seringkali memaksakan diri untuk tersenyum. Padahal wajahnya menampakkan kesedihan yang begitu mendalam.

Mulanya ia bercerita tentang situasi sebelum era reformasi. Saat itu kliennya masih banyak. Namun uang yang ia dapatkan tak seberapa, sebab ada ‘preman’ bersepatu yang minta setoran setiap harinya. Ngakunya sih polisi yang mau bertugas ke daerah pegunungan dan minta ongkos. Saat reformasi tiba, Pak Agen sudah tak mau memberi lagi. Dia katakan kepada polisi itu. “Wong yang tugas kamu kok mintanya ke aku. Kan sudah dibiayai sama negara..” Dengan keberaniannya itu, polisi nakal itu tak meminta ‘sumbangan’ lagi hingga saat ini.

Tak lama kemudian beliau bercerita tentang duka menjadi seorang agen bus. Suatu ketika ia pernah ditipu oleh penumpang. Penumpang itu mengaku kehabisan uang selama dalam perjalanan lalu meminjam uang kepadanya. Namun hingga kini uang itu belum kembali. Pernah juga ia lalai dalam tugasnya. Empat orang penumpang yang masuk bus hanya membeli 3 tiket. Beliau lupa mengeceknya. Padahal peraturan dari perusahaan, setiap menaikkan 1 penumpang ilegal, agen dikenai denda 2 kali lipat harga tiket. Itu yang seringkali menyebabkan beliau merugi. Tak ketinggalan, beliau pun menceritakan tentang keuntungan menjadi seorang agen. Ia pernah melakukan perjalanan jauh tanpa mengeluarkan uang sepeserpun, sebab banyak kru bus yang mengenalnya tak meminta ongkos. Beliau juga sering mendapatkan tips dari para sopir bus perusahaan yang kebetulan lewat, meski tak ada karcis yang terjual. Lumayan, walaupun satu bus hanya memberi seribu rupiah, namun  beberapa bus yang lewat menjadikan uang yang ia kumpulkan bertambah banyak. Pernah juga suatu malam, saat beliau ketiduran di ‘kantornya’, tiba-tiba dikejutkan dengan mampirnya sebuah sedan mengkilap ke depan kantornya. Ternyata orang bersedan itu adalah pemilik perusahaan bus yang baru saja pulang dari Bandung hendak menuju Jogja. Pak Agen pun diberikan oleh-oleh yang banyak dan uang 50 ribu rupiah. Mungkin bagi pemilik perusahaan, uang itu tidak ada apa-apanya. Tapi sungguh, Pak Agen terlihat sangat bahagia.

Beberapa menit sebelum bus yang kutunggu datang, Pak Yono—nama pemilik agen itu—bercerita tentang pahit kehidupannya. Sebelum menjadi Agen tiket bus, beliau adalah seorang pencuci bus malam yang hanya digaji 5 ribu rupiah setiap mencuci satu bus. Namun kemudian ia dipecat karena suatu hal. Beberapa waktu setelah itu, ia diminta untuk mengelola agen yang ditinggalkan oleh tetangga samping rumahnya. Hanya mengandalkan komisi penjualan tiket 7%, beliau harus makan seadanya. Apalagi tidak setiap hari beliau bisa menjual tiket.  Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi bila dalam sehari tak satupun tiket terjual. Mungkin hanya tips dari para sopir itulah yang menolongnya.

Tak lupa ia becerita tentang anaknya yang sebentar lagi lulus dari SMA. Meski sang anak sarat prestasi–namun sayang—uang sekolahnya menunggak selama setahun. Besarnya mencapai 1,5 juta rupiah. Belum terpikir bagaimana ia bisa melunasi uang itu, sebab beliau sama sekali tak punya tabungan. Untuk mengumpulkan uang sebanyak itu mungkin butuh berbulan-bulan, sebab makan untuk esok hari pun belum tentu ada.  Mencari hutang pun kebingungan sebab hutangnya kepada para tetangga juga belum terbayar.  Sungguh, aku sudah tidak tahan lagi mendengar ceritanya. Mungkin air mata ini akan berlinang jika saja bus yang ku tunggu tidak datang tepat pada waktunya.

(Memori: Purworejo, 12 Juni 2009 jam 11 malam)

3 Respon untuk Jeritan Hati Seorang Agen

  1. Msh byk lg yg lain yg ‘mnjerit’….
    Cb kl bis dtg ga tepat wkt, jd ngucur air mata ga?
    =======================
    Edi Gunt: Btul!!!

  2. Hhhmmm cerita beneran pa ga ni bro?
    ===========================
    Edi Gunt: Beneran kok…

  3. mampir Mas Gunt
    kangen….

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s