Lagu

Ada sedikit kekhawatiran dari sebagian kalangan pendidik saat pada zaman sekarang ini anak-anak cenderung lebih hafal lagu-lagu orang dewasa daripada lagu-lagu untuk usia mereka. Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alas an, sebab lagu-lagu dewasa yang mereka hafal secara tidak langsung akan memberikan dampak psikologis bagi mereka. Di satu sisi, anak mungkin saja mengalami pendewasaan dini akibat syair-syair lagu dewasa yang mereka sering nyanyikan. Tidak menutup kemungkinan juga anak akan mengalami degradasi akhlak apabila lagu-lagu yang akrab di telinga mereka itu adalah lagu-lagu yang tidak mendidik.

Pencipta lagu tidak bisa disalahkan sepenuhnya dalam hal ini. Sebab itu adalah bagain dari bentuk kreasi mereka. Namun orang tualah yang sebenarnya perlu menjadi ‘benteng’ bagi anak-anaknya. Begitu pula guru, perlu memberikan bimbingan kepada anak didiknya agar .”mereka terhidar dari hal-hal yang menyimpang.

Akhir-akhir ini, anak-anak begitu familier dengan lagu-lagu buah karya Mbah Surip. Wajar, lagu-lagu beliau termasuk lagu-lagu yang sederhana, mudah diingat, dan enak untuk didengarkan. Lagu “Tak Gendong” bahkan bisa dihafal oleh anak yang berusia dibawah 2 tahun. Lagu “Bangun Tidur”—judulnya saya kurang tahu—juga cukup dikenal oleh anak-anak. Lagu yang ke dua inilah yang salah satunya penulis khawatirkan bisa merusak tatanan hidup dalam diri anak. Anak seolah akan dibiasakan melakukan aktivitas sesuai dengan lagu itu: Bangun tidur, trus tidur lagi. Bandingkan syair lagu tersebut dengan syair lagu “bangun tidur” yang cukup dikenal anak-anak tempo dulu: “Bangun tidur kuterus mandi; tidak lupa menggosok gigi; habis mandi kutolong ibu; membersihkan tempat tidurku. Berbeda 180 derajad bukan?

Saat anak-anak terlalu sering mendengar sebuah lagu, mereka menjadi hafal dengan sendirinya. Mereka pun bisa mencerna lagu itu dengan baik, dan tertarik untuk mengaplikasikan dalam hidupnya. Saat mereka sering mendengar “Bangun tidur, tidur lagi” mereka pun menganggap hal tersebut—tidur setelah bangun tidur—adalah sesuatu yang biasa saja, Ini hanyalah satu contoh. Masih banyak lagi lagu yang menjadi ‘trend setter’ suatu kebiasaan atau perkataan yang kurang baik. Yah, akhlak seringkali terbentuk dari sebuah kebiasaan. Kebiasaan yang buruk bisa jadi akan membentuk kepribadian buruk pada diri sang anak.

Untuk mencegah dari hal-hal yang mengkhawatirkan, maka—sekali lagi—orang tua perlu berperan. Begitup pula saat sang anak sudah mulai menunjukkan gejala degradasi moral, segera mungkin ingatkan sang anak. Ceritakan kepada anak tentang apa yang baik dan apa yang buruk. Saat bersama-sama dengan anak mendengarkan sebuah lagu, katakan kepada anak apakah lagu tersebut isinya baik atau tidak. Kalau perlu, terjemahkan sebuah lagu ke dalam bahasa mereka. Berikanlah tafsir lagu kepada anak-anak sedemikian rupa sehingga mendukung prekembagan psikologis mereka. Semoga anak-anak kita termasuk anak-anak yang sholeh.

(Tulisan ini terinspirasi dari perkataan seorang rekan kerja saat menasehati anak-anak asrama:

“Jangan “BANGUN TIDUR TIDUR LAGI”! nanti nggak bangun-bangun seperti Mbah Surip))

Al Multazam-Kuningan, Ramadhan 1430

4 Respon untuk Lagu

  1. Kalo lagu itu datngnya dari pembantu gimana ? Ponakannku belajar dari pembantu. Orang tuanya malah udah beliin dvd khusus anak muslim namun karena bekerja ya lamanya dengan pembantu. Kali bapak ada saran .. Terimaksih sebelumnya .

  2. hmm….kalau menurut saya sih mencari pembantu yang berakhlak baik. Atau ada yang mau berpendapat??

  3. Pembantu itu yang bisa dipercaya pak … Berakhlak baik sich utama yang penting bisa dipercaya jaman sekarang pak. Nyari pembantu yang mau ngemong anak dan gak nuntut dan dapat dipercaya susah pak.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s