Nama aslinya tak perlu kusebutkan di sini. Entah sejak kapan orang-orang, para tetangga—bahkan termasuk orang tuanya sendiri memanggilnya “Temon”. Setahuku dia adalah anak asli dari orang tua yang selama ini mengurusnya, bukan anak temuan (temon dalam bahasa Jawa berarti temuan). Mungkin saja nama panggilan itu berasal dari kata Temon, nama sebuah kecamatan di wilayah DIY–tempat saudara atau leluhur orang tuanya tinggal.
Temon adalah manusia biasa yang hidup dengan cara biasa seperti kebanyakan manusia pada umumnya. Tak ada yang istimewa dalam hidupnya. Namun sepenggal kisah hidupnya memberikan inspirasi hingga diriku tertarik untuk mencantumkan namanya di blog ini.
Masih tergambar jelas kehidupannya beberapa tahun lalu ketika diriku masih sering berada di kampung halaman. Rumahnya yang berbeda desa namun hanya berjarak beberapa puluh meter dari rumah orang tuaku membuat diriku sedikit tahu tantang kehidupan sehari-harinya. Seperti kebanyakan pemuda di kampung–mungkin karena terkendala biaya–Temon tidak melanjutkan sekolahnya. Aku kurang tahu apakah dia lulusan SMP atau SMA, sebab usianya terpaut agak jauh dengan diriku. Yang jelas, begitu tamat dari sekolah Temon lebih sering dicap sebagai pengangguran oleh para tetangga.
Beberapa kali Temon sempat bekerja secara serabutan, mulai dari ikut program padat karya, proyek melipat kartu suara, buruh bangunan, dan pekerjaan lain yang tidak kuketahui dengan jelas. Namun–seperti kebanyakan pemuda pada umumnya–begitu upah diperoleh, uang tiba-tiba habis tak jelas kemana. Nyaris tak ada peningkatan dalam hidupnya. Tidak ada kamus menabung dalam hidupnya, sebab uangnya seringkali habis untuk foya-foya. Aku masih ingat, beberapa kali lebaran yang lalu dirinya rutin menjadi ‘donatur’ petasan yang membuat bising suasana pagi di hari raya. Entah berapa ratus ribu terbuang percuma begitu saja hampir setiap tahunnya.
Beberapa waktu yang lalu berhembus kabar bahwa Temon hendak menikah. Sempat muncul komentar-komentar miring menanggapi berita itu. Beberapa orang yang tahu ‘track recordnya’–termasuk teman-teman nongkrongnya–meragukan kemampuan Temon dalam menafkahi keluarga. Salah satu kalimat yang sering terdengar “Mau dikasih makan apa istrinya nanti?”
Namun apa yang dikira oleh orang-orang ternyata salah besar. Ternyata kehidupan Temon berubah 180 derajat setelah menikah. Aku melihat ada keteraturan yang lebih dalam hidupnya. Ia mencukupi hidupnya dengan berjualan ‘angkringan’ di dekat jalan raya. Kebetulan orang tuanya adalah pembuat tempe. Sementara istrinya ternyata orang yang pandai meracik bumbu gorengan. Hobinya yang dulu–nongkrong malam hari di pinggir jalan–kini ia manfaatkan untuk menunggui rejeki yang datang dari pelanggan-pelanggannya. Dari hari ke hari, dagangannya semakin laris. Ia tak pernah kehabisan pelanggan meski banyak pesaing di kampungnya. Diriku pun begitu yakin, kelak ia akan menjadi orang yang sukses dalam kehidupannya.
Ya, Allah tak akan pernah mengingkari janjinya. Sebagaimana yang kita tahu, Allah akan mencukupi kebutuhan orang-orang yang menikah meski tadinya dalam kondisi yang tidak mampu. Begitu pula Temon, seorang pemuda yang semula diragukan kemampuannya, ternyata kini mampu hidup mandiri justru setelah melepas masa lajangnya. Hidupnya menjadi lebih teratur dan terarah setelah ia menyadari adanya sebuah amanah. Supaya senantiasa mampu memberi nafkah. Biar rejeki yang didapat selalu melimpah. Agar keluarga yang terbentuk sakinah mawaddah wa rahmah.
Terus terang, perjalanan hidupnya menjadi inspirasi bagiku untuk segera mengikuti jejaknya–merintis kesuksesan. Wallahu a’lam bishshowab.
Purworejo, 20 Ramadhan 1430
> Produktif & Progresif Pasca Nikah, Ayo Pak tak dukung. Kurang apalagi Coba?
Btw Ada jug kisah kayak gini didaerahku lho.
=================================================
Edi Gunt: kurang apa ya… kurang calon-nya… he he.
Ditunggu kisahnya di bloge njenengan..
btw, yg nulis kapan nyusul temon tuh…
================================
Edi: hm… secepatnya…
Subhanallah… Suatu kisah yg sungguh inspiratif…. Syukron mas edi untuk share story’a… ^_^