THR

Rejeki–apapun wujudnya–sudah ada yang mengatur. Sering kali orang harus berjuang mati-matian untuk mendapatkannya. Kadang ia datang kapan saja tanpa terduga. Namun tak jarang ia menguap begitu saja tanpa terkira. Selalu ada jalan bagi Allah untuk melapangkan atau menyempitkan rejeki bagi para hamba-Nya. Begitu pula yang terjadi pada diriku beberapa hari terakhir ini.

Baru bekerja selama 2 bulan, sebenarnya diriku sudah begitu pasrah jika lebaran ini belum berhak mendapatkan THR. Mau bagaimana lagi? Menurut peraturan Yayasan di tempatku bekerja, hanya karyawan yang minimal telah satu tahun bekerja yang berhak mendapatkan Tunjangan Hari Raya. Namun–mungkin karena alasan kemanusiaan–peraturan tersebut tidak dijalankan sepenuhnya. Semua karyawan, baik baru atau yang lama, mendapatkan THR meski jumlahnya tidak sama. Sungguh, ini rejeki yang tidak kuduga sebelumnya. Alhamdulillah.

Sudah terbayang dikepala–apa saja yang bisa kulakukan dengan uang THR itu: Memberi uang saku ponakan, baju baru, oleh-oleh, atau ditabung untuk persiapan walimahan (ups… calon-nya aja ada blm ada kok udah berfikir ke sana!).  Kalau semua keinginan dituruti, jelas tidak akan mencukupi. Tapi diriku patut bersyukur atas apa yang kuperoleh tersebut.

Saat pulang ke kampung halaman, kusadari motor yang biasa kupakai saat kuliah kini dalam keadaan merana. Sangat memprihatinkan: slebor depan robek karna dulu menabrak pohon mlinjo saat dipakai kakak, kaca lampu depan rusak, kunci stang tak berfungsi lagi, dan kerusakan lain yang terlalu banyak untuk disebutkan. Kerusakan-kerusakan itu sebenarnya sudah terjadi sejak dahulu, tetapi sengaja dibiarkan karena terkendala masalah dana. Lagi pula–bagiku–asalkan motor sudah bisa jalan, seburuk apapun penampilannya tak jadi apa.

Namun kini aku telah bekerja. Gaji pun sudah kuterima. Ada perasaan tidak nyaman saat diriku harus membawa motor buruk rupa–sementara dengan uang yang kumiliki  aku bisa memperbaikinya. Akhirnya sebagian uang di dompet kualokasikan untuk perbaikan motor itu. Sebagian rencanaku untuk membeli ini itu pun tidak jadi terlaksana.

Tidak hanya itu. Meski tampilan motor terlihat baru, namun karena jarang dipakai, ada onderdil bagian dalam yang sebenarnya juga mengalami kerusakan. Ini baru aku ketahui setelah kubawa berkendara ke kota Jogja, tiba-tiba macet saat hendak pulang. Ah, dengan sangat terpaksa diriku kembali berurusan dengan bengkel. Ratusan ribu rupiah harus kukeluarkan dalam 2 hari. Kelanjutan ceritanya sudah bisa ditebak: THR nyaris habis–jauh hari sebelum Hari Raya. Saat hari lebaran tiba, mungkin yang ada hanya THR–Turahan Hari Raya.

Purworejo, 22 Ramadhan 1430

2 Respon untuk THR

  1. KEPADA SAHABAT… SAMBUTLAH UCAPAN DARI SAYA. SERANGKAI KATA PENGGANTI DIRI. UNTUK MENYAMBUT HARI BAHAGIA. JARI SEPULUH DI SUSUN JUGA. AGAR KESALAHAN DIAMPUN SEMUA. TANDA IKHLAS PERSAHABATAN KITA. SELAMAT HARI RAYA AIDIL FITRI 1 SYAWAL 1430 H. MOHON MAAF ZAHIR DAN BATIN. SALAM KEMESRAAN DARI SARIKEI, SARAWAK.

  2. > Rodo mesake tapi ra popo saudaraku, kita hanya merencanakan tapi Alloh Tetap yang mentakdirkan. Wah jadi terinspirasi nulis tentang THR, Kalau kisahku lebih menyenangkan dan Thr bisa difungsikan secara semestinya^.
    ==============================================
    Edi Gunt: buruan aja ditulis di blog… sebelum lupa lho..

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s