Ini kisah tentang anak kelas 1 SD yang baru belajar menulis dan membaca. Anak itu begitu belia. Usianya dibawah anak-anak di kelasnya. Bahkan ia belum sempat lulus dari TK. Ini lantaran saat memasuki bulan ketiga di TK, seorang anak yang nakal menghadang keberangkatannya, lalu kepalan tangan anak nakal itu melayang ke dadanya. Peristiwa itu tampaknya menyisakan trauma, hingga nyali untuk berangkat sekolah tiba-tiba hilang entah ke mana. Tanpa terasa, teman sebaya sudah menamatkan pendidikan-nya di TK.
Pada saat teman-teman seusianya didaftarkan orangtuanya ke SD, anak itupun diikutsertakan pula. Meski usianya belum genap 6 tahun, tidak ada alasan bagi panitia penerimaan siswa baru untuk menolaknya. Maklum, akta kelahiran yang dimiliki anak itu menunjukkan umurnya 1 tahun lebih tua dari umur sebenarnya. Konon saat anak itu lahir di awal tahun, sehingga akte kelahiran untuk tahun yang baru masih langka. Karena jumlahnya terbatas, ‘harga’ akte kelahiran pun mengikuti hukum ekonomi: mahal. Untunglah, ‘sisa-sisa’ akte tahun sebelumnya masih ada. Orang tua anak itu pun berlega hati bisa mendapatkan akte dengan segera, tanpa dipusingkan dengan biaya. Masih ditambah bonus usia sang anak yang menjadi satu tahun lebih tua. Ya, tahun 1985 menjadi tahun resmi lahirnya anak itu meski usia sebenarnya satu tahun lebih muda.
Berbeda dengan teman-temannya yang sudah sedikit terlatih untuk baca tulis selama di TK, tangan anak itu masih sangat kaku untuk sekedar memegang pensil. Hal itu menjadikannya seringkali merasa kesulitan mengikuti pelajaran. Barangkali ia termasuk anak yang membutuhkan perhatian khusus saat KBM berlangsung. Namun sepertinya tidak ada guru yang jeli dengan hal itu. Maka kegiatan belajar pun berlangsung mengalir apa adanya dan seperti biasanya.
Pada saat pelajaran Bahasa Indonesia, guru memberikan materi tentang huruf tegak bersambung. Bisa ditebak, si anak dalam tokoh cerita ini mengalami kesulitan yang teramat sangat. Tangannya terasa kaku saat menggerakkan pensil membentuk lekuk huruf yang baru dikenalnya. Ia pun memilih untuk lebih banyak diam, menunggu pelajaran usai dengan sendirinya. Benar saja, suasana ceria di kelas membuat pelajaran berlalu tanpa terasa. Sang guru pun memberikan PR sebagai penutup pelajaran di hari itu: buatlah huruf ‘b’ tegak bersambung sebanyak 5 baris!
Saat berada di rumah, sang anak lebih banyak bermain ketimbang belajar. Ah, bahkan bagaimana cara belajar saja pada waktu itu belum ia ketahui. Sang Ayah yang kebetulan bekerja juga sebagai seorang guru SD ternyata begitu peduli dengan keadaan anaknya. Beliau hampir selalu menanyakan tentang ada atau tidak-nya PR yang diberikan oleh guru setiap harinya. Hari itu adalah untuk kesekian kalinya sang anak diberikan PR, namun belum jua ada satu pun yang dikerjakannya. Rupanya sang ayah paham dengan kondisi anaknya, meski bingung bagaimana ia harus berbuat. Akhirnya, di antara bingung dan tidak tega, tangan sang ayah pun bergerak menuliskan huruf 5 baris huruf ‘b’ tegak bersambung di buku catatan anaknya. Hari itu, si anak bisa berbangga, sebab untuk pertama kalinya PR bisa terselesaikan.
Keesokan harinya dengan percaya diri tinggi anak itu berangkat ke sekolah. Hari ini tidak lagi ada kata ‘setrap’—berdiri di di depan selama sekian jam sebagai hukuman tidak mengerjakan PR—seperti hari-hari sebelumnya. Saat pelajaran Bahasa Indonesia, guru berkeliling ke meja seluruh siswa untuk memeriksa hasil PR mereka. Saat menghampiri meja anak itu, sang guru dikejutkan dengan situasi yang berbeda dengan bisanya. Lebih terkejut lagi, sebab ia mendapati tulisan di buku catatan anak itu begitu sempurna. Ah, sang guru rupanya tahu tentang apa yang telah terjadi. Beliau pun bertanya kepada sang anak, “Wah, tulisannya bagus sekali. Siapa yang menuliskan?”
Dari bibirnya yang mungil, keluar sebuah kata yang membuat sang guru tersenyum: “Bapak.”
Ternyata si anak, dengan kepolosannya, dengan jiwa kekanak-kanakan yang masih ada, dengan kesucian hatinya yang belum ternoda oleh dosa, menjawab dengan apa adanya. Ia jujur, apa adanya. Tidak terpikirkan konsekuensi lain yang akan ia terima dengan jawaban itu. Sama sekali tidak terbesit keinginan untuk berbohong, mengatakan bahwa PR itu adalah hasil karyanya sendiri.
Sang guru pun, masih dengan tersenyum menuliskan angka 6 di bawah 5 baris huruf ‘b’ itu. Anak itu sadar sepenuhnya bahwa itu bukan nilai atas ‘karya’ sang ayah, melainkan hadiah atas kejujuran yang ia lakukan.
Sahabat, ketahuilah bahwa si anak yang kuceritakan di atas tidak lain adalah diriku. Kisah ini barangkali untuk menjawab pertanyaan tentang tandatangan-ku yang di sana ada bentuk huruf ‘b’ tegak bersambung, padahal dalam namaku sama sekali tidak ditemui huruf itu. Ya, tanda tangan itu sengaja kubuat sedemikian rupa, agar diriku selalu mengenang masa laluku. Kejujuran yang ada di hari-hari masa kecilku ingin selalu kubawa hingga kelak ketika tandatanganku menjadi sesuatu yang berarti.
Maka sahabat, apabila kelak diriku menjadi orang yang berhasil, dan ternyata kejujuran itu sudah tidak lagi menyertai langkahku, MAKA INGATKANLAH AKU. Wallahu a’lam bisshowab.
*tertegun* salut.. unik.. pinter, gurunya juga pinter…
======================================
Edi Gunt: tertegun juga… Trims..
Subhanallah. . . Judul yg sangat menarik dan Enak di bc dan full hkmah. Aku tak berhenti sebelm benar2 menyelesaikanya membc. Keren bgt pak.
ide bagus, tandatangan untuk mengingat masa lalu.. cerdas … salam sukses…
sedj
http://sedjatee.wordpress.com
salam kenal sekaligu mo memperkenalkan
KONTES SEO kecil2an n gendeng2an nih sapa tau ad yang tertarik
Assalaamu’alaikum
Pengkisahan yang mengharukan. Masa lalu mempunyai pelbagai cerita yang menarik dan pastinya tidak pernah dilupakan terutama peristiwa yang dapat mendidik kita menjadi manusia yang berguna. Salam mesra selalu.
Ok Bro ak pasti akan mengingatkan antum jika ada yang keliru, begitu juga sebaliknya ya…antum sering diam saja kalau aku berbuat salah
subhanallah…sederhana tapi da pelajaran besar
sy belajar banyak dari tulisan antum pak guru^^
jazakallah khoir…
jangan berhenti menulis
SMANGAD!
=======================================
Edi Gunt: Terimakasih sudah mampir di blog ini..
InsyaAllah terus berusaha menulis.
same with the first comment above