Aku pernah bercerita tentang masa kecilku melalui blog ini (Ada Huruf ‘b’ di Tanda Tanganku). Ya, cerita tentang seorang anak yang yang tiba-tiba menghadangku saat hendak berangkat ke sekolah, lalu dengan sekuat tenaga ia melayangkan tinjunya ke dadaku. Ups… Sesaknya masih kuingat hingga saat ini. Tatapan kasihan dari teman-teman yang menyaksikan tangisku-pun masih terbayang di kepala. Nah, sejak saat itulah diriku tidak lagi pernah masuk ke sekolah.
Selalu saja ada alasan bagiku untuk bisa menolak saat ibu memaksaku kembali ke sekolah. Hari-hari setelah kasus pemukulan itu (wah.. kayak peristiwa kriminal aja!), ketakutan menjadi alasan kuatku untuk tidak berangkat ke sekolah. Beberapa waktu kemudian alasan-alasan yang lain muncul dengan tiba-tiba saat bapak hendak berbaik hati mengantarkanku ke sekolah tiap paginya. Entahlah, kenapa Edi kecil saat sudah pandai membuat alasan—dari yang logis sampe yang tidak logis. Tapi rasa-rasanya berbagai alasan itu muncul untuk menutupi rasa ketakutanku bertemu dengan si ringan tangan saat berangkat atau kembali dari sekolah.
Akhir ceritanya pasti sudah diketahui. Aku tidak menyelesaikan pendidikan pra –sekolah itu. Kata ibu sih, diriku cuma tiga setengah bulan mengenyam pendidikan Taman Kanak-kanak. Ah… diriku tidak seperti teman-temanku yang begitu terkenang dengan saat-saat terakhir di TK. Mereka yang begitu bangga dengan foto-foto saat pentas seni—yang terpajang menghiasi dinding-dinding rumah mereka. Belum ada yang bisa dibanggakan dariku saat itu, sebab aku tak punya apa yang mereka punya. (duh, kok malah sedih begini…)
Baiklah, sekarang kita beralih ke cerita 18 tahun setelah peristiwa itu. Seperti yang sudah diketahui, diriku bekerja di sebuah sekolah swasta sebagai seorang guru. Selain itu, diriku juga dipercaya memegang sebuah jabatan yang luar biasa berat: Wali kelas. (huuuu…. Jadi wali kelas aja bangga!). Sebenarnya tidak terlalu berat juga sih. Hanya saja diriku merasa bak orang tua dari belasan anak. Padahal menjadi suami dari seorang istri saja belum..lho???
Untunglah, diriku senasib dengan beberapa rekan guru baru. Kami sama-sama baru dalam ‘jabatan’ ini. Dalam beberapa kesempatan kami pun berdiskusi (baca: ngobrol) tentang bagaimana menjadi wali kelas yang baik. Dari beberapa obrolan dan kebersamaan dengan rekan-rekan guru, terungkaplah sebuah hal yang menarik perhatianku—dan ini membuatku lebih tenang. Ya, ternyata ada satu rekan guru—juga menjadi wali kelas—yang tulisannya tidak bagus-bagus amat (baca: jelek). Kenapa aku merasa tenang? TEPAT, sebab aku jadi punya teman… ha ha…
Dari pembicaraan empat mata ( gak pinjam istilahnya mas thukul lho…), terungkap bahwa kami—guru dengan tulisan yang tidak bagus-bagus amat—ternyata sama-sama tidak lulus TK. Namun berbeda dengan diriku, rekan kerjaku tersebut tidak bisa menyelesaikan TK karena sang ayah—yang biasa mengantarkannya sekolah—tidak terlalu cukup banyak waktu untuk mengantarkannya ke lokasi taman kanak-kanak terdekat.
Sempat terfikir di benakku, ada nggak ya hubungan antara tidak lulus TK-nya seseorang dengan tulisan tangannya yang buruk. Namun kami berdua yakin bahwa hal tersebut sangat berkorelasi. Ya, setahuku—siswa Taman Kanak-kanak bukan hanya diajarkan baca tulis dasar atau mengenal huruf dan angka, tetapi juga dilatih untuk teliti dan telaten dalam melakukan suatu hal. Nah, tulisan tanganku yang jelek berawal dari tidak adanya ketelatenan pada saat belajar menulis kala menduduki bangku Sekolah Dasar. Tulisan tangan-ku pun terkesan asal-asalan pada saat itu. Kata Pak Pujono—guru kelas 4 SD-ku; “kaya cambah mawut” (Jawa: seperti kecambah tumpah). Parahnya, tipe tulisan masa kecilku seringkali terbawa hingga saat ini. Tak apalah…