Beberapa hari yang lalu, kami—guru-guru Al Multazam—mengikuti pelatihan PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan) yang diselenggarakan oleh yayasan bekerjasama dengan Makmal Pendidikan. Sebenarnya tidak banyak hal baru yang kami dapatkan. Sebab buku-buku yang membahas tentang materi tersebut sebenarnya sudah sangat banyak dan sebagaiannya pernah kami baca. Sungguh, 2 hari adalah waktu yang terlalu pendek untuk mengupas metode pembelajaran itu. Pada kenyataannya memang pelatihan tersebut tidak bisa secara tuntas metode tersebut. Kami pun bisa memahami hal itu. Namun pelatihan itu benar-benar memberikan motivasi bagi kami untuk selalu memperbaiki kualitas kegiatan belajar mengajar.
Dirikupun merasa sayang apabila apa yang kudapatkan selama pelatihan tidak diaplikasikan dalam pembelajaran di kelas. Dari sedikit yang aku dapatkan itu, aku justru yakin bisa mempraktikkannya. Aku berharap dengan berjalannya waktu, referensi atau ide-ide baru tentang PAKEM akan banyak kudapatkan.
Aku pun langsung mempraktikkan ilmu yang kudapatkan pada hari pertama mengajar setelah pelatihan itu. Keringat dingin, jantung berdebar-debar bercampur dengan rasa was-was takut metode itu akan gagal diterapkan. Untunglah, semua itu hilang saat kegiatan belajar dimulai. Bagaimana tidak hilang? Di kelas aku banyak bergerak layaknya seorang trainer di sebuah pelatihan. Anak-anak pun banyak berbicara setelah stimulus aku berikan. Sempat kudengar celotehan anak di tengah-tengah jam belajar: “Hari ini Pak Edi beda dengan biasanya…. Enerjik banget…”
Metode tersebut kuterapkan juga di kelas lainnya. Diriku sangat senang, sebab anak-anak menanggapinya dengan positif. Memang sebagian siswa—khususnya yang laki-laki—tampak malu-malu untuk mengekspresikan diri mereka se-aktif mungkin. Namun keterlibatan seluruh siswa dalam kegiatan belajar tidak perlu diragukan lagi. Tubuhku seraya melayang di udara saat ada anak yang berkata : “Pak, besok lagi kita belajar seperti tadi saja!” Sungguh, kata-kata itu seolah merayu diriku untuk menerapkan pembelajaran “PAKEM” selama mengajar. Apalagi saat post test yang kuberikan di akhir pelajaran memberi sebagian besar siswa nilai lebih dari 90.
Sayang, metode tersebut tidak bisa selalu kuterapkan di kelas X—dimana aku mengajar mereka hanya 1 jam setiap minggunya. Dengan metode yang biasanya saja, aku masih belum bisa menyelesaikan materi yang ditargetkan. Tapi tak apa, aku bisa menyiasatinya dengan metode yang lain.
Ternyata, guru-guru yang lain pun juga langsung mempraktikkan apa yang didapatkan dari pelatihan itu. Permasalahannya, banyak guru yang mengambil mentah-mentah apa yang didapatkan dari pelatihan itu. Akibatnya bisa ditebak. Ya, siswa merasakan kebosanan sebab banyak guru yang—meskipun menerapkan PAKEM—tetapi mengunakan teknik yang sama persis dengan guru yang lain. Sempat kudengarkan perkataan siswa; “Guru-guru A-eM jadi aneh sejak dapet pelatihan kemarin…..”
Begitulah. Tapi aku menganggap celotehan anak itu sebagai sesuatu yang biasa—seperti halnya celotehan kebanyakan orang saat melihat ada perubahan terjadi. Meskipun itu perubahan menuju arah kebaikan. Dan kelak, saat mereka tahu bahwa perubahan itu benar-benar membawa mereka ke arah yang lebih baik, mereka akan berkata: “O…ternyata!”
Kuningan, 15 Januari 2010
Ga mau susah2 makanya dipraktekkan mentah-mentah
“aneh” bagi yang baru mengenalnya. Itulah, mengapa pendidikan di negeri ini tidak jauh beda dari masa ke masa, salah satunya karena pembelajaran yang diterapkan oleh para pelaku pendidikan saat ini masih “terkungkung” dengan metode “tradisional”, dimana peran guru dalam pembelajaran masih sangat dominan, siswa masih menjadi objek yang cenderung pasif dalam pembelajaran.
Jika guru-guru sudah sadar dengan hakekat pembelajaran yang inovatif, termasuk PAIKEM, yang insyaAllah akan menghasilkan generasi-generasi terdidik dengan kualitas lebih baik lagi, maka bukan “Guru-guru Kok jadi aneh” yang akan mereka temui, namun “Guru-guru hebat” yang akan mereka rindukan, karena sebenarnya mereka juga ingin menjadi “hebat”.
the next educator: Sepakat!