Ulang Tahun

Pagi hari ini begitu cerah. Sinar mentari  menghangatkan sebagian belahan bumi memicu hembusan angin di sela-sela daun. Seolah-olah ada bisikan yang menyuruhku menuliskan sebuah kisah yang seringkali membuat hatiku berada di antara lembah senyum dan tangis. Kisah ini pernah kuceritakan kepada beberapa sahabat dekat, rekan kerja, atau murid-muridku tercinta.

Ini kisah tentang keluarga guru di tahun 80-an. Tidak seperti sekarang–dimana profesi guru pegawai negeri begitu menjanjikan bagi sebagian kalangan—guru pada masa lalu kehidupannya begitu memprihatinkan. Lagu Umar Bakri-nya Iwan Fals barangkali cukup memberikan gambaran betapa menderitanya kehidupan guru di saat itu. Ya, gaji guru saat itu begitu kecil. Tak ada istilah berbagai macam tunjangan apalagi sertifikasi. Untuk memenuhi semua kebutuhannya, seringkali keluarga guru harus mempunyai usaha sampingan, apakah beternak, berdagang, bertani, atau bahkan nderes (mengambil sari kelapa sebagai bahan pembuatan gula).

Namun keluarga dalam kisah ini tidak mempunyai usaha sampingan yang begitu berarti. Beberapa ekor ayam di kandang belakang rumahnya hanya menjadi pelengkap gizi keluarga setiap hari raya. Ya, kehidupan keluarga itu benar-benar ditopang oleh gaji dari suami-istri yang keduanya adalah guru SD. Tak ada cara lain untuk bertahan hidup kecuali dengan menerapkan pola hidup hemat dan sederhana. Sementara itu, ketiga anaknya telah memasuki usia sekolah, sehingga biaya hidup semakin besar.

Sungguh, bagian cerita di paragraf inilah yang kadang membuatku berkaca-kaca saat ikut membayangkannya. Keadaan keluarga itu sungguh bertolak belakang dengan kehidupanku saat ini yang relatif berkecukupan. Agar semua kebutuhannya bisa tercukupi, mereka melakukan penghematan dengan cara meminimalisir pengeluaran dalam hal konsumsi. Setiap menu makan dibuat semurah mungkin. Tempe, telur, apalagi daging menjadi barang langka yang belum tentu ditemui seminggu sekali. Perbaikan gizi hanya terjadi manakala ada tetangganya yang mengundang kenduri. Itu-pun, telur rebus yang hanya satu dibagi untuk ke-tiga anaknya yang sebenarnya masih sangat butuh nutrisi. Lantas, apa makanan kesehariannya? yup, Nasi dari beras ‘jatah’ ditambah sayur, sambal atau kerupuk bakar (tidak digoreng, sebab minyak mahal).

Pada awal tahun 1986, lahir seorang bayi lagi dari keluarga itu: bayi yang cakep, montok, putih, menggemaskan, serta menjadi piala bergilir—barang rebuatan—remaja putri di kampung. Ups, sebelum cerita tentang bayi montok itu, lebih baik diriku bercerita tentang sesuatu yang seringkali kuceritakan pada sahabat-sahabatku.

Beberapa hari setelah kelahiran, bayi itu mendapatkan surat kelahiran dari desa setempat. Berbekal surat kelahiran itu, maka sang ayah hendak mengurus akte kelahiran di kecamatan. Namun alangkah terkejutnya sang ayah ketika tahu biaya pengurusan akte kelahiran begitu besar dibandingkan isi dompetnya. Maklum, pada awal tahun waktu itu jumlah surat berharga yang diproduksi negara masih sangat sedikit. Nah, berdasarkan hukum ekonomi, …bla bla bla…. (bukan kompetensiku!).

Sang ayah akhirnya bisa tersenyum saat tahu masih ada sisa surat berharga untuk akte kelahiran tahun 1985. Di mana-mana, yang namanya barang sisa pasti dijual dengan murah. Seperti halnya toko-toko yang cuci gudang di akhir tahun, kenapa harganya bisa murah? Ya, karena barang sisa! Nah, karena keterbatasan uang yang dimiliki, sang ayah akhirnnya ‘membelikan’ akte untuk anaknya yang lahir tahun 1986 dengan akte tahun 1985. Sejak saat itulah, umur ‘resmi’ sang bayi selalu satu tahun lebih tua dari umur sebenarnya. Cerita dari paragraf inilah yang seringkali membuatku tersenyum sendiri. Kadang tersenyum karena konyolnya cerita, kadang tersenyum bangga saat menyadari diriku mampu bersaing dengan teman-teman kelasku yang kebanyakan usianya lebih tua.

Sekarang kita kembali ke kisah sang bayi, yang mulai tumbuh dan berkembang, hingga akhirnya memasuki usia TK. Oh iya, sejak kelahiran bayi itu, perlahan-lahan kesejahteraan keluarga itu terus bertambah. Yach, seperti yang kita percayai, masing-masih anak yang lahir telah membawa rejekinya masing-masing. Mungkin si anak tadi telah ditakdirkan oleh Allah untuk selalu menikmati kehidupan yang berkecukupan sejak kelahirannya—berbeda dengan kakak-kakaknya.  Pola konsumsi keluarga itu juga sudah mulai ada perubahan. Tidak hanya kebutuhan primer atau sekunder saja yang terpenuhi, namun sesekali kebutuhan neko-neko juga ikut ter-cover.  Hingga usia si anak yang ke-5, keluarga itu tak pernah melewatkan perayaan ulangtahunnya.

Pagi itu, entah hari apa, si anak 5 tahun tiba-tiba disuruh mandi oleh kakaknya. Kata sang kakak “Hari ini kita akan foto-foto!”. Setelah ganti pakaian dan berhias diri, si anak tampak kebingungan mencari sesuatu yang hilang. Sesuatu yang akan membuatnya lebih cakep saat acara foto-foto benar-benar dilakukan. Kacamata! Beberapa hari yang lalu ia diberikan kacamata mainan oleh sang ayah. Namun kacamata itu justru menghilang saat ia dapat ide untuk memakainya. Andai saja ia memakai kacamata itu, tentu wajahnya lebih tampak mirip Pandu, penyanyi cilik waktu itu yang terkenal dengan lagu ‘Laura’-nya.

Tiba-tiba sang kakak muncul membawa nasi kuning berbentuk kue tart seraya mengucapkan “Selamat ulang tahun”, lalu menyalami si anak sambil menciumnya. Bapak dan ibu juga melakukan hal serupa. Sang kakak lalu menyerahkan sebungkus kado cantik seraya berkata “Jangan dibuka dulu! Buka-nya nanti setelah kita foto-foto!” Setelah makan nasi kuning bersama-sama, keluarga itu lalu berjalan menuju stodio terdekat.

Maka beberapa waktu sejak saat itu, sebuah foto seorang anak berseragam TK bersama sebuah kado dan 5 batang lilin selalu menghiasi album foto keluarga itu. Oh iya, ada sebuah penggalan cerita yang terlupa.

Setelah acara foto-foto selesai, si anak yang begitu penasaran dengan isi kado cantik itu segera membukanya. Alangkah terkejutnya si anak, sebab isi kado itu ternyata sebungkus roti kering dan kacamata yang tadi sempat dicari-carinya. Sang kakak hanya senyum-senyum menyaksikan adiknya yang sedikit menggerutu. Sungguh, ini adalah ulang tahun yang paling dikenang oleh anak itu.

Setelah perayaan ulangtahun yang ke-5 itu, tak ada lagi perayaan ulang tahun berikutnya. Bahkan hingga si anak itu menjelma menjadi diriku—seorang pemuda yang berusia 24 tahun. Diriku pun bertekat tak akan pernah lagi mengadakan pesta ulang tahun. Aku sadar sepenuhnya, bahwa dengan bertambahnya bilangan usia, jatah umur kita justru berkurang. Maka tidak selayaknya berkurangnya umur disambut dengan pesta. Bersyukur tentu harus kulakukan sebab artinya, diri ini masih diberi kenikmatan dan kesempatan hidup di dunia. Hanya saja, perwujudan syukur itulah yang semestinya lebih mengena, baik untuk kehidupanku di akhirat ataupun di dunia. Wallahu a’alam bisshowab.

(Saat kurangkai tulisan ini, diriku berumur tepat 24 tahun—bukan 25)

2 Respon untuk Ulang Tahun

  1. Tarbiyatul banin

    SIAPA YANG ULANG TAHUN MAS

    NEW POSTING
    STOP SMOKING, PLEASE!!! Mencoba mengurangi Self Genoside
    http://tarbiyatulbanin.wordpress.com/2010/01/25/stop-smoking-please-mencoba-mengurangi-self-genoside/

    tukeran link temen

    http://tarbiyatulbanin.wordpress.com/

  2. Fb=Benz cimahi

    Minat m3 tahun lahir 0856 2401 1985 add fb aku ya benz cimahi

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s