Duh, Inikah Indonesia?

Bandung. Benar-benar kota yang memesona. Wajar saja kalau murid-muridku begitu bersemangat saat hendak diajak fieldtrip ke sana. Mereka rela mengeluarkan kocek lebih banyak demi memenuhi keinginannya : fieldtrip di tempat yang jauh dari Kuningan. Ah, semangat mereka begitu kentara, bahkan beberapa hari sebelum keberangkatan. Biaya tambahan yang terpaksa dipungut dari kantong mereka dengan cepat dilunasi oleh sebagian besar anak tanpa banyak bicara .

Puncaknya adalah beberapa saat sebelum keberangkatan ke Bandung. Diriku hanya mengirimkan SMS kepada para musrif asrama agar mereka mengingatkan anak-anak bahwa bus telah datang. Sebelum berganti hari mereka sudah keluar dari kamar masing-masing menuju ke arah parkiran bus yang letaknya lumayan jauh dari pintu gerbang sekolah. Tepat pukul 00.00 anak-anak sudah siap di dalam bis.  Keberangkatan bis memang agak terlambat—Cuma 5 menit sih—tapi itu bukan karena ketidaksiapan atau keterlambatan anak-anak.

Sungguh, dalam bayanganku—beberapa waktu sebelumnya, diriku merasa akan sangat kesulitan untuk mengajak anak berangkat tepat waktu. Bagaimana tidak? Mereka harus berangkat saat tengah malam, waktu dimana saat selimut melekat terasa begitu nikmat. Hm… tapi ternyata sebagian besar anak-anak rela tidak tidur. Mereka menyadari perjalanan itu begitu sayang untuk dilewatkan. Terlelap sedikit saja akan membuat mereka malas untuk bangun, yang pada akhirnya bisa membawa alam bawah sadar mengatakan “Aku tidak jadi ikut…ngantuk!”. Aku sangat yakin, hal seperti itulah yang mereka takutkan.

Tak perlu lagi kuceritakan tentang Bandung beserta tempat wisatanya. Diriku merasa tidak lebih lihai dari para penyedia biro perjalanan dalam menarik pelanggan.  Yang jelas, meski Bandung begitu memesona, diriku sempat kecewa dengan sebuah fenomena yang nyaris sama dengan yang ada di daerah wisata lain di Indonesia.

Kebetulan diriku sedang berniat untuk menghemat pengeluaran di bulan ini. Itulah kenapa saat bus berhenti di CIHAMPELAS, diriku tetap berada di dalam bus. Berbeda dengan rekan-rekan pembimbing atau anak-anak, yang begitu bersemangat menghabiskan uang (baca: belanja) di tempat itu. Hingga akhirnya datang beberapa pedagang asongan menawarkan oleh-oleh dengan harga yang diturunkan secara bertahap. Pada mulanya diriku tidak menggubris. Sebenarnya sudah bisa kutebak apa yang akan terjadi bila diriku  menaruh rasa belas kasihan kepada pedagang asongan yang masuk ke dalam bus yang kami tumpangi. Diriku  pasti akan tertipu seperti saat perjalananku ke daerah lain beberapa tahun yang lalu. Saat itu aku membeli roti dengan harga yang tampaknya sangat murah. Namun ternyata, bagiaan tengah dari wadah roti tersebut diselipi dengan kardus, sehingga seolah-olah wadah tersebut berisi penuh dengan roti.

Kejadian itu terulang lagi. Kali ini aku merasa kasihan dengan penjual moci yang datang silih berganti. Sementara, telingaku terus terngiang-ngiang pesan anak-anak dekat asramaku sehari sebelumnya “Oleh-olehnya jangan lupa Pak…”. Dengan pertimbangan untuk menghemat sekaligus untuk memenuhi keinginan anak-anak, diriku pun membeli dua paket moci yang ditawarkan dengan harga murah itu. Begitu pedagang itu turun, diriku langsung membuktikan apa yang akan terjadi. Ternyata benar, diriku tertipu. Satu paket moci tersebut terdapat 4 wadah kecil yang masing-masing hanya berisi 6 biji moci. Ini jelas sebuah bentuk  kecurangan dari sang pedagang, sebab sampel yang ia tunjukkan padaku tidak seperti itu.

Entah, kenapa banyak pedagang yang tidak jujur di negeri ini. Parahnya, fenomena ini banyak dijumpai di daerah sekitar tempat wisata. Padahal lokasi wisata merupakan jendela negeri kita. Bisa jadi para wisatawan mancanegara tidak tahu seperti apa sebenarnya Indonesia. Tetapi mereka tahu gambaran negeri ini dari tempat wisata yang dikunjunginya. Saat ditanya seperti apakah keindahan Indonesia, tentu kita berharap mereka akan menceritakan sebagaimana apa yang mereka lihat di daerah wisatanya. Saat ditanya tentang Indonesia, kita berharap mereka bercerita tentang Bali dengan keindahan panoramanya, tentang Jogjakarta dengan keratonnya, atau tentang Bunaken dengan wisata terumbu karangnya.

Tentu kita tidak rela bila akhlak orang Indonesia dianggap seperti pedagang asongan yang menipu diriku itu gara-gara banyak wisatawan mancanegara banyak yang berbelanja kepada mereka. wallahu a’lam bishhowab

3 Respon untuk Duh, Inikah Indonesia?

  1. Ciri2 pedagangnya kayak apa akh? Jadi pelajaran bagiku nanti kalau ada kesempatan kesana

  2. presentasinya tadi mantap lho, amat meyakinkan, afwan kalau saya terkesan galak

    =================================================
    Edi Gunt: Trims Pak. Biasa saja kok..

  3. apakah karna pendidikan moral dan agama di indonesia ini sangatlah rendah pa?

    sehingga tak ada lagi yang mau berusaha untuk bersikap jujur?

    (masih hq-anak 10.1 dulu)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s