Arsip Bulanan: Oktober 2011

Catatan Menuju Pernikahan (7)

Silaturahim

Pernikahan sebenarnya adalah sesuatu yang sederhana. Proses menuju ke sana sebenarnya juga merupakan jalan yang simple. Diawali dengan proses lamaran, maka proses pernikahan bisa segera berlangsung apabila lamaran seorang laki-laki diterima oleh wali atau keluarga pihak perempuan. Sangat mungkin seorang laki-laki tertarik Lanjut membaca

Catatan Menuju Pernikahan (6)

Ta’aruf

Seperti yang kutuliskan sebelumnya, diri ini menjalani proses ta’aruf beberapa hari setelah akhwat dambaanku siap untuk diajak hidup berumah tangga. Ta’aruf adalah salah satu tahap menjelang pernikahan yang semestinya dilakukan agar masing-masing calon mempelai mengetahui hal-hal mendasar mengenai calon pasangannya. Dalam proses tersebut, seorang ikhwan boleh menanyakan beberapa hal yang ingin dia ketahui mengenai calon istrinya, Lanjut membaca

Saat Harus Kembali Menjadi Murid (1)

Bahasa Inggris. Pelajaran itu menjadi momok bagiku sejak pertama kali mendapatkannya di tingkat SMP. Bagaimana tidak? Pertemuan pertamaku dengan pelajaran ini bukan sebuah hal yang menyenangkan. Nah, pertemuan yang kurang mengesankan itu rupanya berdampak pada keseriusanku belajar bahasa Inggris di waktu-waktu berikutnya. Lanjut membaca

Catatan Menuju Pernikahan (5)

Sabar

Sebenarnya diri ini hendak segera mungkin menikah begitu sudah ada calon pendamping yang sudah siap. Waktu itu,2  bulan sebelum bulan Ramadhan, calon pendamping sudah menyatakan siap menikah. Maka sesuatu yang realistis apabila diri ini menargetkan  bulan Ramadhan sudah menjalani puasa berdua. Namun rupanya Allah masih menguji hati ini. Beberapa minggu setelah ta’aruf, calon istriku harus melaksanakan tugas belajar di Jawa Timur sehingga tertundalah keiginanku untuk segera mengakhiri masa lajang. Lanjut membaca

Catatan Menuju Pernikahan (4)

Komunikasi

Semenjak diriku merasakan jatuh cinta, hingga beberapa saat menjelang pernikahan, tak pernah sekalipun terucap dari bibir ini kata-kata “I love You” dan semacamnya yang ditujukan kepada akhwat dambaanku. Jangankan ucapan seperti itu, komunikasi dua arah pun hanya sekali, lewat SMS, itupun bukan dalam rangka mengungkapkan perasaan yang ada dalam hatiku. Itu bukan berarti aku mengesampingkan pentingnya komunikasi. Komunikasi adalah sesuatu yang sangat vital, termasuk bagi calon pasangan suami istri. Lanjut membaca

Catatan Menuju Pernikahan (3)

Allah mempertemukanku dengan Dedy, adik kelas sewaktu SMA. Kami justru tidak pernah merasa kenal selama masih mengenyam pendidikan di sekolah itu. Ya, pertemuan itu mungkin tidak terjadi bila saja aku tidak bergabung dalam MALIKI—majelis Alumni kerohanian Islam. Intensitas pertemuan kami sebenarnya tidak terlalu sering. Hanya ketika ada acara-acara tertentu saja, misalnya ketika ada silaturahmi ke guru SMA. Namun ukhuwah itu begitu terasa. Setiap bertemu, kami seolah adalah sahabat akrab yang telah lama terpisah oleh jarak. Padahal dahulu pun kami merasa tidak pernah akrab. Mungkin kesamaan fikroh diantara kami yang membuat hal itu terjadi. Lanjut membaca

Catatan Menuju Pernikahan (2)

Sungguh, kegagalanku pada usaha yang pertama tidak menyurutkan langkahku untuk menghikhtiarkan pendamping hidup. Yang ada justru semangatku yang bertambah. Telah dikhitbahnya dua orang akhwat yang diusulkan kepadaku memberi motivasi tersendiri bagiku. Artinya, apabila diriku berdiam diri terlalu lama, maka tidak menutup kemungkinan akhwat yang nantinya menjadi targetku tiba-tiba dikhitbah oleh ikhwan lain. Ah, sebuah pikiran yang buruk. Tapi tak apalah, biar diri ini termotivasi untuk cepat bergerak.

Ehm…. Kebetulan diri ini sebenarnya telah memendam rasa kepada seorang akhwat yang pada tulisan ini belum akan kusebutkan namanya.( Hehe.. tulisan ini dibuat saat khitbah belum dilaksanakan. Aku takut akan terjadi sesuatu yang tidak baik jika ada ‘oknum’ yang membuka-buka netbook-ku, lalu membaca tulisan ini). Getaran hati ini sebenarnya ada setiap kali berpapasan dengan akhwat itu. Sejak pertama bertemu. Lanjut membaca

Catatan Menuju Pernikahan (1)

Kegagalan

Sebenarnya tak sabar rasanya diri ini menuliskan pejalanan menuju genapnya agama ini. Begitulah. Sejak melangkahkan kaki mengikhtiarkan seorang pendamping hidup, ada keinginan untuk mengisahkannya kepada orang-orang di sekitarku. Agar kisahku itu menjadi motivasi bagi mereka yang belum juga melangkah. Agar kisahku juga menjadi pengaya cerita bagi mereka yang telah menggenapkan agamanya. Agar kisahku menjadi teladan kalau memang hal itu layak untuk diteladani. Lanjut membaca