Catatan Menuju Pernikahan (4)

Komunikasi

Semenjak diriku merasakan jatuh cinta, hingga beberapa saat menjelang pernikahan, tak pernah sekalipun terucap dari bibir ini kata-kata “I love You” dan semacamnya yang ditujukan kepada akhwat dambaanku. Jangankan ucapan seperti itu, komunikasi dua arah pun hanya sekali, lewat SMS, itupun bukan dalam rangka mengungkapkan perasaan yang ada dalam hatiku. Itu bukan berarti aku mengesampingkan pentingnya komunikasi. Komunikasi adalah sesuatu yang sangat vital, termasuk bagi calon pasangan suami istri.

Aku beruntung mempunyai seorang kakak perempuan yang mengerti tentang agama. Kakak yang mengajariku mengaji semenjak kecil, membimbingku melebihi seorang guru ngaji, bahkan mungkin dialah kunci pembuka pintu hidayah bagi beberapa anggota keluarga kami yang semula tidak pernah menjalankan syariat agama ini. Maka saat diriku hendak menikah, aku tidak segan untuk meminta bantuannya. Aku yakin bahwa itulah cara terbaik bagiku untuk mengikhtiarkan jodoh.

Tidak lama setelah diriku mengungkapkan keinginan untuk segera menikah, juga memberi tahu kepadanya tentang seseorang yang telah menggetarkan hatiku, maka beliaupun tidak menunggu lama untuk beraksi. Meski tak tahu seperti apa wajah calon adik iparnya, meski tak tahu bagaimana sifat dan karakternya, dan banyak hal lain yang sama sekali tidak terpikirkan dalam benak kepala, kakakku tetap bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Justru berbekal ketidaktahuan itulah banyak informasi baru yang bisa diperolehnya—meski hanya bermodalkan sebuah Handphone.

Tentu bukanlah hal yang berat bagiku untuk sekedar menanyakan informasi secara langsung kepada akhwat  dambaanku tentang alamat rumahnya, latar belakang keluarganya, dan informasi lainnya. Namun dengan cara seperti itu akan membuatku merasa berat untuk menjaga hati ini dari sesuatu yang tidak dibenarkan. Toh meskipun komunikasi tidak dilakukan secara langsung, proses menuju pelaminan itu tetap berjalan dengan baik.

Tulisan ini kubuat saat diriku sedang gelisah dengan permasalahan klasik yang selama ini kurasakan ketika selama ini bergabung dalam sebuah organisasi atau kepanitiaan. Ya, masalah komunikasi. Sudah tidak terhitung lagi diriku merasakannya dalam suasana, lingkungan, dan rekan yang berbeda. Sungguh, berawal dari komunikasi yang kurang ini berbagai hal buruk seolah terjadi tanpa terduga (padahal sebenarnya kemuncul itu karena kurangnya komunikasi itu).

Maka diriku berpesan kepada calon istriku—yang mungkin saat membaca tulisan ini engkau sudah menjadi pendampingku—untuk selalu menjalin komunikasi dengan  baik. Tak usah malu, tak usah ragu. Apapun yang sekiranya dirimu ketahui dan akan lebih baik jika diriku ikut mengetahui, maka beritahukanlah kepadaku. Apapun yang sekiranya kau inginkan dan aku mampu untuk memenuhi keinginan itu, maka sampaikanlah.  Dan apapun yang tidak kau sukai yang ada pada diriku, maka segera hilangkanlah. Percayalah, bahtera rumahtangga kita kan mengarungi samudra kehidupan ini dengan baik, meski gelombang datang menerjang, meski batu karang menghadang. Asalkan komunikasi kita terjaga. Wallahu a’lam bishshowab.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s