Catatan Menuju Pernikahan (7)

Silaturahim

Pernikahan sebenarnya adalah sesuatu yang sederhana. Proses menuju ke sana sebenarnya juga merupakan jalan yang simple. Diawali dengan proses lamaran, maka proses pernikahan bisa segera berlangsung apabila lamaran seorang laki-laki diterima oleh wali atau keluarga pihak perempuan. Sangat mungkin seorang laki-laki tertarik kepada seorang gadis yang belum dikenalnya, lantas ia datang kepada orang tua gadis tersebut dalam rangka melamarnya. Masalahnya, pihak keluarga gadis tidak bisa begitu saja menerima pinangan. Butuh berbagai pertimbangan meski sekedar untuk kata ‘menolak’ atau ‘menerima’. Bahkan meski seorang gadis sudah kenal baik dengan laki-laki yang melamarnya pun, orang tua yang bersangkutan belum tentu bisa menerima.

Menikah tidaklah perlu dipersulit, karena menikah merupakan  sesuatu yang mudah. Tetapi  bukan berarti dilakukan tanpa pertimbangan, sebab kehidupan paska pernikahan bukan untuk waktu yang sebentar. Itulah  pentingnya ‘pendekatan’ kepada orang tua si perempuan apabila seorang laki-laki hendak menikah. Sebab dengan pendekatan yang kita lakukan, pintu hati yang tertutup perlahan terbuka, memberi  jalan kemudahan bagi para jomblowan menggapai sebuah keinginan. Cara yang paling efektif dalam rangka pendekatan kepada orang tua adalah dengan bersilaturahim ke rumah kediamannya.

Hal itu pula yang kulakukan beberapa saat setelah proses ta’aruf. Sengaja kusisihkan waktu untuk datang langsung ke rumah orang tua calon istri. Kukatakan kepada orang tuanya bahwa kami telah bertemu, saling cocok, dan sepakat untuk melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Kuceritakan pula bahwa diri ini telah menghubungi pihak keluarga, dan mereka semua mendukung proses kami berlanjut. Pihak keluarga  calon istriku pun menyambut baik keinginanku untuk menikah. Mereka  pun menunggu kedatangan keluarga besarku, untuk membicarakan segala sesuatunya.

Sebenarnya, tidak sesederhana itu. Diriku adalah keturunan jawa yang kebetulan menjalani takdir untuk hidup di tanah Sunda. Dan di tanah Sunda pula aku bertemu dengan gadis pujaan yang ingin kunikahi. Kusadari, adat Sunda dengan Jawa tentu berbeda. Sedangkan diri ini, berbahasa Sunda saja hampir tidak pernah mempraktikkannya. Padahal diri ini sangat ingin menyampaikan maksud hati kepada calon mertua dengan bahasa yang sopan menurut mereka.

Diri ini pun meminta tolong kepada teman kerja yang mempunyai kemampuan berbahasa Sunda secara halus untuk menemaniku bersilaturahmi. Beliaulah yang sebenarnya lebih dominan berbicara banyak dengan orang tua gadis pujaanku… hehe. Aku juga tidak paham-paham amat dengan apa yang dibicarakan antara temanku dengan orang tua gadis pujaanku itu. Yang penting, niatk baikku untuk hidup  berumah tangga tersampaikan dengan baik.

Jazakumullah khairan katsiroon untuk Ust Hendra dan Istrinya yang telah membantu proses awal kami menikah. Bagai mana kabar antum sekeluarga??? J

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s