Seperti yang kutuliskan sebelumnya, pelajaran Bahasa Inggris selalu menjadi momok bagiku hingga lulus SMA. Diri ini pun merasa tidak mempunyai kepercayaan diri untuk berbahasa Inggris, sebab menerjemahkan text saja masih sangat kesulitan. Pada saat kuliah, ketika beberapa dosen memberikan tugas untuk menerjemahkan artikel berbahasa Inggris, diriku pun harus merogoh kocek lebih karena harus membayar penerjemah.
Saat keinginan untuk menguasai bahasa inggris mulai tumbuh, suasana tidak mendukung. Di jurusanku, mata kuliah Bahasa Inggris hanya 2 SKS. Keinginan ikut kursus bahasa Inggris terkendala oleh waktu mengingat diriku banyak kegiatan organisasi. Satu-satunya cara belajar bahasa Inggris yang kulakukan pada waktu itu hanya membaca buku modul kuliah yang sama sekali tidak dibahas oleh dosen bahasa Inggris, serta buku gramer pinjaman dari seorang teman. Setelah berusaha belajar sendiri, diri ini merasa sedikit lebih baik. Tetapi tetap saja tidak mempunyai kepercayaan diri untuk berbicara bahasa inggris.
Saat sudah bekerja, barulah lingkungan begitu mendukung untuk belajar bahasa Inggris. Setiap hari minimal ada satu dua kalimat bahasa Inggris yang terdengar di telinga, apakah itu sapaan guru kepada murid, atau suara panggilan di pengeras suara yang memang diwajibkan menggunakan bahasa Inggris atau arab. Guru-guru yang menguasai bahasa Inggris pun di sini cukup banyak, yaitu dari bagian bahasa. Merekalah yang memberikan bimbingan bahasa Inggris dan Arab kepada anak-anak. Ya, anak-anak yang masuk ke pesantren tempatku bekerja diharapkan mempunyai ketrampilan berbahasa Inggris dan Arab.
Setelah 2 tahun bekerja, kemampuan bahasa Inggrisku ternyata tak juga membaik. Wajar saja, walaupun sering mendengarkan orang berbicara bahasa Inggris, diri ini jarang mempraktikkannya. Terusterang, diri ini masih kurang percaya diri untuk itu. Ternyata guru-guru lain juga kurang pede untuk berbicara bahasa inggris kepada anak didiknya. Nah, pihak pimpinan bagian bahasa melihat hal ini sebagai kendala bagi anak dalam membiasakan berbahasa inggris. Semestinya, guru juga harus bisa berbahasa inggris apabila muridnya dituntut menguasai bahasa internasional tersebut.
Akhirnya, sesuai dengan kesepakatan dan kesediaan guru, pelatihan bahasa inggris pun diadakan bagi para pengajar non bahasa inggris. Tentu saja diri ini bersemangat, meski harus mengorbankan waktu. Kutinggalkan beberapa rutinitas siang yang biasanya diri ini lakukan. Tak apa, meski harus mengurangi honor bulanan karena tidak mengisi kegiatan ektra kurikuler. Sebab kesempatan belum tentu datang kembali.
22 Pertemuan pun terlaksana, meski diriku tidak selalu bisa menghadirinya. 22 pertemuan itu pula para guru yang biasanya berhadapan dengan murid harus memoposisikan dirinya sebagai murid. Hal ini mungkin mengingatkan kembali masa-masa yang lalu ketika masih duduk di bangku sekolah.
Berkaca pada masa lalu, beberapa guru berkomentar; “Koq pada waktu saya masih jadi murid dulu, belajar bahasa Inggris tidak seperti ini ya?” Ya, kami merasa belajar Bahasa Inggris kali ini begitu menyenangkan dan mudah memahaminya.
Saat harus kembali menjadi murid, kami pun semakin sadar bahwa metode belajar begitu berpengaruh terhadap pemahaman materi, motivasi, dan tentu saja prestasi yang didapatkan. Pertanyaannya, mampukah diri ini sebagai seorang guru, menjadikan muridku se-enjoy diriku saat harus kembali menjadi murid seperti ini? Mungkin butuh waktu….