Pesan Untuk Murobi

Terus terang saya merasa tidak berkopeten ketika harus membuat tulisan dengan judul di atas. Saya bukan siapa-siapa—kecuali hanyalah seorang ’pembelajar’—yang merasa terpanggil untuk memberi solusi atas permasalahan dalam aktivitas pembelarajan—dalam hal ini adalah aktivitas tarbiyah. Tidak ada yang bisa saya perbuat kecuali hanya urun rembug melalui sebuah tulisan. Beberapa waktu yang lalu saya menemukan sebuah catatan pribadi yang sebenarnya bukan konsumsi publik. Namun demi kemaslahatan kita bersama, catatan tersebut akan saya beberkan di sini, dengan beberapa perubahan dan ’sensor’ untuk menjaga privasi orang-orang yang terkait dengan tulisan ini.

 !!!!…….GUE MARAH MUR…….!!!!

Habis nonton FILM ‘’SANG MUROBI’’ kayak –kayak di ingatkan aja… nih ada kata-kata kayak KURANG lebih begini”Apakah kedudukan lebih indah dari pada dak’wah,Ustad!!!???’’.AKUKAN punya “MR” juga dan Alhamdulillah beliau terpilih jadi Ketua xxxxx di kampus, yang kata temen –temen aktivis namanya campus tarbiyah…wah…keren ya…? Eh sebel banget deh habis beliau terpilih jadi Ketua xxxxx kita malah gak pernah kumpul tuk Halaqoh….ih….saking sebelnya aku SMS “MR” Begini bunyinya” Rumus Kera: kalau kera sedang manjat pohon di beri 3 macam jenis angin,angin Topan,Tornado, Puting beliung untuk menjatuhkannya maka tidak akan jatuh karena pegangannya semakin kuat, tapi kalau di beri angin sepoi-sepoi maka kera akan jatuh karena terlena dan ketiduran” ih….sebel deh …mengaharap di balas eh…. Tak juga di balas…….”MUR” ku tambah dongkol…..tau gak cih…!!!??? Menunggu beberapa hari aku miscall deh akhirnya eh… lagi-lagi gak di balaszzzzz….pengen banget ku katakan” Sudah terlenakan ANTUM ‘’ MUR” kok tega-teganya kami di biarkan begini sih……. Sebelllllllllll………………..!!!!!!!!!!!!!!!!! Akhirnya hari ini aku ketemu beliau, di masjid tercinta tentunya,…coz disini nih tempat ngumpul orang-orang cool lagi keren……….!!! (Eh kok malah ngelantur ceritanya) ketemu beliau aku pasang tampang sangar lagi serem…Ku jawab Salam sambil berjalan lurus tanpa tatapan….eh beliau mengulurkan tangan nya dan bilang”AFWAN ya….akh..ane ga’bisa ngisi karena Kalau tiap Jumat ane ke luar kota terus….Insya Alloh kita mulai Halaqoh lagi bulan Februari>> Ku jawab ajah.. dengan nada Dongkol “Afwan akh ane dah punya ‘’MR” BARU….>> eh…beliau tanya lagi yang lain gimana dengan yang lain??? EHEM….sok.. peduli..(batinku sih) tapi tak jawab lagi >> Ga’ tau!!!…dah deh …ku langsung pergi…….. akh aku sebel!!!!!!

Tulisan tersebut menggambarkan betapa sakit hatinya sang penulis—seorang mutarobi—ketika murabi yang mengampu sering ’libur’ dari aktivitas halaqohnya. Sebagai manusia yang sudah mencicipi sedikit asam-garam tarbiyah, saya bisa memaklumi apa yang dirasakan oleh sang penulis. Saya justru memberi acungan jempol, sebab sang penulis—yang notabene masih mahasiswa semester awal—sudah merasa butuh dengan aktivitas tarbiyah. Ini dibuktikan dengan inisiatifnya mencari MR baru (meski kondisi riilnya saya tidak tahu apakah penulis benar-benar sudah punya MR baru, apa hanya ekspresi atas rasa sakit hatinya). Terlepas dari hal itu, saya justru menyayangkan sikap si ’MUR’ yang seolah tanpa dosa meninggalkan adik-adiknya dalam keadaan ’merana’. Masih beruntung jika ternyata adik-adiknya tetap istiqomah dalam tarbiyah. Namun menjaga istiqomah bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika murobi—orang yang sepatutnya memberikan keteladanan—justru sering meninggalkan aktivitas tarbiyah. Pepatah mengatakan guru kencing berdiri murid kencing berlari (teman saya menambahkan : guru kencing berlari, murid kencing sambil salto!)—maksud saya—keteladanan seorang murabi sangat penting dalam membentuk akhlak para mutarobi.

Akhlak yang baik yang dimiliki seorang mutarobi ternyata bukanlah jaminan untuk bisa menjadikan mutarobi seorang yang berakhlak baik pula. Berdasarkan peribahasa tadi, akhlak tidak baik seorang guru justru membuat murid memiliki akhlak yang lebih buruk dari pada gurunya. Salah satu misi tarbiyah adalah menjadikan seseorang memiliki akhlak yang luhur (matinul khuluq), disamping 9 lainnya yang tidak bisa secara lengkap saya sampaikan di sini. Jangan sampai kesalahan sedikit yang dilakukan oleh murabi, menyebabkan aktivitas tarbiyah jauh dari tujuan yang diinginkan. Memang, murobi hanyalah manusia biasa yang tidak pernah luput dari kesalahan. Namun bila kesalahan itu terjadi berulang-ulang, dan terlebih jika diketahui oleh para mutarobinya, hal tersebut bisa berakibat fatal. Terkait dengan kasus di atas—dimana murobi yang terlalu sibuk dengan urusannya, kemudian sering meninggalkan mutarobinya—ada beberapa saran dari saya. semoga Bisa ini menjadi bahan instropeksi dan masukan.

1. Komunikasikan segala hal yang berkaitan antara murobi-mutarobi Komunikasi adalah faktor yang sangat penting. Kadang suatu permasalahan bisa diselesaikan dengan komunikasi yang baik. Sebaliknya, komunikasi yang kurang baik bisa menimbulkan permasalahan. Seorang murabi atau mutarobi yang berhalangan hadir, sudah semestinya memberikan kabar ketidakhadirannya. Lebih baik lagi jika pemberitahuan dilakukan sehari sebelum hari-H, sehingga tidak terlalu mengecewakan pihak lain.

2. Luangkan waktu minimal 2 kali dalam sepekan untuk aktivitas tarbiyah.

3. Buat jadwal rutin harian, kemudian dicantumkan dalam buku agenda kita.

4. Catat setiap ada janji bertemu dengan orang lain, masukkan pula dalam buku agenda. Ingat, janji adalah hutang. Begitu pula janji untuk datang halaqoh.

5. Hindari keterlambatan. Menunggu adalah aktivitas yang paling menjenuhkan. Tanamkan pada diri kita, bahwa terlambat adalah bagian dari AKHLAK yang BURUK. Antisipasi setiap keterlambatan dengan jeda setidaknya 15 menit (untuk jarak dekat) antara jadwal aktivitas satu dengan yang lain. Misalnya : Pekerjaan kita selesai pada pukul 15.30—seyogyanya jangan janjian bertemu pada pukul 15.30. Ini TIDAK REALISTIS—kecuali janji bertemu di tempat kerja.

6. Bila segala usaha dan upaya sudah dilakukanp–atau dengan alasan yang syar’i–boleh lah jika sekali dua kali harus absen dari pertemuan. syaratnya : usahakan cari pengganti, atau sudah memberikan tugas/bahan diskusi.

 

Semoga tips yang enam ini bermanfaat. Adapun bila kita sebagai mutarobi—menjumpai murabi yang menyimpang dari ketentuan yang ada, maka sudah semestinya kita ingatkan, sebab sekali lagi—manusia adalah tempat salah dan lupa. Tidak perlu ikut-ikutan dengan sikap murabbi yang salah, sebab orang yang paling layak kita teladani adalah Rasulullah Muhammad SAW. ”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Q.S. Al Ahzab :33)

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s