Untuk para Keponakan

Tulisan ini kupersembahkan untuk Hilal, Isnan, Fatha n Yasmina.. (untuk adiknya Yasmina—yang saat ini masih ada dalam kandungan—InsyaAllah akan ada tulisan baru saat kau sudah terlahir).

Saat tulisan ini dibuat, kalian belum punya selera membaca—meski satu diantara kalian telah mampu membaca. Namun Oom berharap, 20 tahun kemudian—atau kapanpun setelah bisa memahami tulisan—sudilah kalian membaca tulisan ini. Mudah-mudahan bisa menjadi pematik memori kehidupan masa kecil kalian,  serta bisa mengambil pelajaran yang  ada. Oom juga berharap kalian akan terus saling menyayangi meski kelak dipisahkan oleh jarak; serta saling menjaga silaturahmi yang terkadang memudar ditelan waktu.

Muhammad Halim Al Hilali

Hilal, engkau satu-satunya keponakanku yang terlahir di perantauan. Berbeda dengan Isnan, Fatha, dan Nana yang lahir di kota kelahiran Umi-mu. Diantara keponakanku yang lain, engkau pula yang paling banyak merasakan pindah rumah (mungkin ada lebih dari 5 kali umi abi-mu berpindah rumah—sejak dari Serang, Cilegon, Tuban, dan Purworejo). Ya, beberapa waktu yang lalu, saat engkau belum mencicipi bangku sekolah—umi-abi masih menjadi kontraktor (tinggal di kontrakan). Mungkin saat kau membaca tulisan ini—hidupmu sudah enak. Berbeda dengan pada saat 4 tahun pertama umi-abi memasuki masa pernikahan.  Mungkin kau sudah lupa saat Umi–harus berjuang mambatu Abi mencukupi kebutuhan hidup—berjualan lumpia di perumahan Griya Tani Cilegon.  Hampir setiap hari Umi berjalan berkeliling perumahan membawa barang dagangan sambil menggendongmu. Pernah suatu hari, disaat Umi sedang melayani pelanggan, tiba-tiba kau mengambil salah satu dagangan Umi—lalu memakannya dengan wajah tak berdosa, padahal ummimu merugi 500 perak karenanya. Itulah masa lalumu.

Namun beberapa tahun kemudian—kau sudah membuat iri orang-orang di sekitarmu, termasuh Mbah Kakung sendiri. Bagaimana tidak? Engkau dan adikmu, Isnan, yang bahkan baru tahun pertama masuk sekolah—sudah bisa pergi ke negara lain—Dubai,UAE—tempat abimu bekerja. Itu sudah menjadi rejeki kalian berdua, sebab cita-cita Abi-mu untuk bisa bekerja di sana ternyata justru terkabul setelah kalian ada.  Oom jadi ingat kata-kata orang tua jaman dulu : banyak anak banyak rejeki.

Hilal, saat tulisan ini dibuat, kau masih belum suka makan sayuran. Oom sudah capek menjelaskan kepadamu betapa pentingnya sayuran untuk tubuhmu. Bahkan bekali-kali Oom katakan—bahwa engkau sudah kelihatan lebih kurus dengan muka lebih pucat jika dibandingkan dengan Adikmu—Isnan—yang menyukai sayuran. Untungnya Umi masih sering membelikan buah-buahan untukmu—sehingga bisa mengganti fungsi sayuran.  Oom berharap—setelah kalian bisa memahami tulisan ini—banyak-banyaklah makan sayuran. Insyaallah akan berdampak positif bagi kesehatanmu. Kalau engkau tak percaya, carilah referensi/buku-buku yang menjelaskan tentangnya.

Hilal, Oom sebenarnya sangat khawatir dengan kehidupan masa kecilmu. Bagaiana tidak? Kau sekolah di SDIT Ulul Albab—Purworejo—yang hampir setiap hari kegiatan belajar mengajarnya hingga menjelang sore.  Kau bahkan baru sampai rumah sekitar jam 3 sore, itu pun jika angkutan bisa didapat dengan mudah. Sampai di rumah—kau sudah sibuk dengan duniamu sendiri: bermain dengan mainan yang dibeli oleh Ummi-abi, serta main game di komputer atau internet. Kau sangat kurang bersosialisasi. Sebenarnya Oom lebih suka jika kau pergi bermain bersama Irsyad, Ipul, Hanif, Fauzi, atau yang lain—baik maen sepeda, sudamanda, sepakbola, atau yang lain—sehingga engkau bisa kenal lebih jauh dengan dunia anak desa selain juga belajar bersosalisasi. Namun Oom berharap—ketika kau membaca tulisan ini—kau sudah bisa bersosialisasi dengan orang lain. Tidak seperti yang Oom takutkan.

Mushab Husein Isnan

Seperti yang didamba oleh orang tuamu—dengan memberimu nama seperti seorang sahabat: Mus’ab bin Umair—engkau bermuka tampan. Yah, ketampannmu sudah terlihat sejak engkau masih kecil. Wajahmu yang berseri semakin enak dilihat dengan adanya lesung pipi. Wajar saja jika ada tetangga—seorang gadis—yang mengatakan: aku tak sabar menunggumu dewasa. Cuma bercanda sih—tapi ini bisa menjadi justifikasi kalau kamu memang benar-benar tampan.  Tak menutup kemungkinan kelak kau bisa menjadi seorang bintang sinetron—atau paling tidak coverboy lah, yang penting kau tetap berpegang teguh pada  akhlak islam, seperti yang kau pelajari saat sekolah di TK Ulul Albab.

Isnan, saat tulisan ini dibuat—kau adalah anak yang cengeng, manja, dan satu lagi : kemayu. Kemayu? Ya…masak anak laki-laki sukanya main ma cewek? Sama cowok malah takut. Anehnya, kemayunya Cuma di sekolah. Sebab kalo di rumah, kau tampak biasa saja jika ketemu dengan ipul, uzi atau irsyad—bahkan kau menjadi komentor ulung saat mereka sedang bermain game.

Sebelum menulis ini, tadi Oom mengantar kalian pergi ke sekolah. Masih ingatkah, saat ada temanmu yang juga diantarkan—uminya pulang meninggalkan nya bersama-sama temannya di sekolah. Tapi Isnan tidak berani di sekolah sendiri. Katamu “aku nggak mau kalo nggak sama umi”. Padahal di sekolah, ada Bu Desi—guru yang juga budhe kamu.

Yang Oom suka darimu adalah kamu suka sayuran. Bahkan terkadang kamu lebih memilih tempe meskipun ada daging ayam didepanmu. Ini yang mungkin  membuatmu lebih gemuk dan ceria dibandingkan kakakmu, Hilal. Oom yakin—kalau Isnan membiasakan makan sayuran secara rutin—hidupmu akan sehat.

Asma Fatha Qunaita

Diantara keponakan-keponakanku, engkaulah yang paling jarang bertatap muka dengan Oom. Bapak dan Umi–mu lebih sering tinggal di Nglaris—tempanya mbah, orang tua bapak)—dari pada di Bener. Sehingga tidak banyak pengalaman masa kecilmu yang terekam oleh Oom. Tapi tidak masalah—sebab Bapak dan umi masih sangat sering bersilaturahmi atau menginap di tempat Oom.

Fatha, satu yang istimewa darimu adalah—kau sudah mengenal banyak kosa kata  meski masih balita. Ini membuat banyak orang merasa heran dan membuat bapak dan umimu bangga. Aku tidak merasa heran—cara mereka berdua mendidikmu sudah sangat tepat. Kau sudah diajak bicara meski belum bisa mengucap kata. Ini adalah sesuatu yang jarang dilakukan oleh para orang tua. Oom berharap ketika kelak kau dewasa—engkau bisa melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh orang tua.

Dibandingkan mbak Yasmina—yang 3 bulan lebih muda darimu, berat badanmu masih sangat kurang. Mungkin karena kau sangat sedikit makan. Hikmahnya, ini menjadi alasan yang kuat kau memanggil Yasmina dengan kata Mbak—disamping alasan bahwa Abinya Yasmina adalah Kakak dari uminya Fatha.

Di antara para ponakan, tangismu lah yang paling berkesan. Kalau kau menangis—disaat sedang tidak enak badan—hampir tidak ada orang yang bisa menghentikan kecuali umi-mu. Berhenti pun ketika kau sudah tidak punya tenaga lagi untuk menangis, lalu ketiduran. Tangismu terkadang terdengar dari rumah tetangga yang berjarak puluhan meter. Namun saat tulisan ini dibuat, kau lebih banyak memperlihatkan keceriaan.

Fatha, terkadang aku ikut bersedih—saat melihatmu berwajah sendu, bermain seorang diri dengan pengawasan Mbah Putri—karena kedua orang tuamu harus pergi bekerja. Kau sungguh beruntung memiliki Mbah yang peduli pada cucu-cucunya. Beliau rela pensiun dini—berharap bisa momong para cucu, termasuk dirimu.

Yasmina Ramadhani

Barangkali engkaulah orang yang paling beruntung di dunia ini, sebab merasakan paling banyak digendong oleh Oom J he he… Tidak hanya itu, engkaulah bayi pertama yang memberi ‘hadiah kuning’ ketika Oom menggendongmu pada waktu kau berumur 3 hari. Tapi tak masalah…coz itu menjadi kebanggaan tersendiri.

Semula kami memanggilmu Iyas, kependekan dari Yasmina. Namun seiring pertumbuhanmu—hingga kau bisa mengucapkan kata—kau sebut nama ‘Yasmina’ dengan ‘nanana’.  Oom jadi teringat—ketika putra pak RT yang bernama Breni Setioko masih kecil, dia menyebut nama setioko  dengan  ‘totok’—hingga akhirnya nama  itulah yang menjadi panggilannya sampai saat ini. Akhirnya Oom lebih sering memanggilmu dengan Nana. Ini jelas lebih mudah kau ucapkan dari pada ‘Iyas’. Hampir semua keluargabesarmu akhirnya memanggilmu ‘nana’.  Tapi tidak dengan Fatha. Ia tetap memanggilmu mbak Iyah (karna tidak bisa mengucapkan huruf S). Tak usah kaget jika—mungkin hingga 20 tahun setelah tulisan ini dibuat—Fatha terus memanggilmu mbak Iyas. Wajar, uminya Fatha tidak mengetahui sejarah perubahan nama panggilanmu….

Hal yang membuat semua orang merasa senag adalah ketika melihatmu makan. Hampir semua jenis makanan—dalam keadaan tidak kekenyangan—kau mau melahapnya. Bahkan pernah kau menemukan remah makanan yang terinjak kaki orang—lalu kau ambil setelah orang itu melangkah. Kata abimu “nggak pa-pa, bisa menambah stok bakteri di perutnya.” Mungkin karena banyak makan itulah, tubuhmu menjadi terlihat montok. Engkaupun terlihat cerdas dengan kemampuan-kemampuan yang belum tentu dimiliki oleh anak seusiamu. Di saat yang lain masih merambat, kau sudah bisa berdiri. Bahkan Fatha—anak bu lik mu yang 3 bulan lebih tua darimu—kalah tinggi dibandingkan tubuhmu.

Mungkin kau akan tersenyum ketika membaca tulisan ini. Hobimu saat masih berumur 1  tahun 3 bulan adalah memanjat jendela, bermain bola dengan Oom, dan nonton Telettubies. Satu lagi ; saat abimu punya banyak kelinci, kamu suka sekali mengejar-ngejar anak kelinci yang dilepas di luar kandang.

Saat tulisan ini dibuat, engkau sedang ikut umi bekerja di rentalan. Barangkali tak ada yang bisa kau perbuat selain mengganggu. Tapi kehadiranmu di sana bisa menghibur para pelanggan, meski terkadang (mungkin) membuat jengkel para karyawan. Yang jelas kata Abi-mu, keberadaanmu bisa menambah semangatnya dalam bekerja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s