Bahaya penggunaan ponsel dan cara mengantisipasinya

Sebenarnya agak miris juga ketika hendak memuat tulisan ini di blog saya. Bagaimana tidak? Saya adalah penggemar fanatik ponsel. Ia hampir tidak pernah berpisah bak seorang kekasih (padahal kekasih aja malah g punya J). Paling-paling saya hanya bisa bertahan selama seminggu jika harus ‘tidak’ memegang ponsel. Itupun kasusnya dulu—ketika ponsel saya hilang. Dan… segera beli lagi setelah punya uang cukup. Kebetulan pagi tadi saya nonton Apakabar Indonesia di TVOne, yang membahas tentang masalah ini. Pengin tahu bahaya ponsel? nih…

“Wahai para pengguna ponsel, sesungguhnya ada bahaya yang selalu mengintaimu. Maka bacalah tulisan ini, agar engkau menjadi selalu waspada dan lebih tahu.” (sastroedi)

 

1. Berpengaruh terhadap kesehatan.

Menurut beberapa penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat dan Inggris, konon meletakkan ponsel di saku celana, bagi seorang laki-laki bisa menyebabkan berkurangnya  produksi sperma. Tidak hanya itu, meletakkan ponsel di saku baju bisa menyebabkan gangguan pada jantung. (jadi gimana dong? Sabar dulu…). malah konon menggunakan ponsel terlalu lama  bisa berpotensi kanker otak (tapi kayaknya belum didukung penelitian)

2.Berdampak  pada pengeluaran rumah tangga

Sendiri kan, berapa uang yang harus kita keluarkan untuk membeli pulsa setiap bulannya? Masing-masing kita berbeda. Ada yang 100 ribu aja kurang, tapi ada yang sudah cukup hanya dengan 5 ribu (kasihan bgt sich…). Padahal dulu sewaktu jaman masih tidak enak—ketika bisnis wartel masih menggiurkan—jarang sekali kita menganggarkan sekian rupiah untuk komunikasi (terutama orang desa kayak saya). Tapi sekarang, satu keluarga bisa punya 5 ponsel, sebab masing-masing anggota keluarganya punya—termasuk adik kecil yang baru masuk TK. Hitung aja sendiri berapa yang harus dikeluarkan setiap bulan, jika masing-masing HP membutuhkan ‘uang-makan’ 10 ribi rupiah? Ya, kecuali kalo mbayarnya  pake daun….

3. Sebagai salah satu pemicu kecelakaan lalulintas

Ini peringatan bagi para sopir yang suka mengemudikan HP sambil nyetir… jangan diulang lagi lho… bahaya! Tapi tidak Cuma sopir, saya sering liat remaja-remaja yang naik motor sambil bercakap ria, bahkan ada yang sempatt-sempanya sambil buka SMS… waaah mengundang bencana! Lha kalo pake free hands gimana? Tetap saja berbahaya, karena ketika kita bercakap, otak kita berfikir pada dua hal yang berbeda. So, konsentrasi kita menjadi terpecah. Bila ada kejadian mendadak, kecelakaan sulit dihindari.

4. Beresiko menyebabkan konflik karena kesalahpahaman dalam komunikasi.

Komunikasi yang paling efektif itu kalo qta bertemu langsung dengan orang yang kita ajak berkomunikasi—itupun masih memunculkan kemungkinan-kemungkinan ketidakevektifan. Contoh kongkritnya ya iklannya Indosat(kalo ini nggak tak sensor, coz katanya bukan milik Yahudi)—tentang bang Panji yang minta dibeliin kemeja.

(Sumber : bank data TVOne, dengan sedikit penambahan)

Selain ke-4 hal itu, ada lagi bahaya ponsel. yang lain… nggak percaya?

5. Media penular virus merah jambu

Dampak yang satu ini udah terbukti. Udah berapa banyak kasus—yang disebabkan karena aktivitas SMS, menelpon—lalu berujung ke cerita cinta?

Oh iya, kemarin baca-baca blognya akhii Firman—katanya sebagian besar wanita yang ditemui di RSJ—hampir pasti disebabkan oleh ulah lelaki lho. Banyak laki-laki yang suka mengumbar janji—lewat SMS, telepon, chatting, yang—seringkali hanya berujung pada sakitnya hati. Udah… mbahas hal kayak gini, ane g punya kompetensi..

6. Memudarnya tali silaturahim

Sebagian orang menganggap keberadaan ponsel bisa menjadi sarana silaturahmi. Yang bener aja? Padahal, dulu—waktu  nggak punya  ponsel—hampir  tiap minggu kita silaturahmi ke saudara. Tapi kini—setelah ada ponsel—cukup lewat SMS saja. Lha bagaimana?

 

Nah, sekarang bagaimana cara menyikapinya?

Pertama, jangan letakkan ponsel di saku celana atau saku baju, kalo bisa di ikat pinggang. Kedua, tentukan batas pengeluaran maksial untuk keperluan komunikasi. Kalo udah sampai pada batas itu, stop penggunaan ponsel, kecuali kepepet!. Oh iya, gunakan ponsel seperlunya saja.  Ketiga, jangan make ponsel ketika berkendara. Kalau kepepet, minggir dulu, baru boleh buka ponsel—setelah kira-kira aman. Keempat, perlu pertimbangan penggunaan bahasa—bahasa gaul, bahasa ilmiah, atau bahasa planet mana—ketika hendak SMS atau telpon ke orang lain. Saya pernah mengalaminya sendiri—ketika berkomunikasi dengan dosen—hanya gara-gara salah penggunaan bahasa, akhirnya saya dimarahin… (habis…ngeSMS dosen pake bahasa kaya’ direktur ma sekretarisnya sich…). kelima, jangan menggunakan ponsel untuk hal-hal yang sia-sia. Kurangi penggunaan  ponsel dalam hal berhubungan dengan lawan jenis. Coz, ngobrol dengan lawan jenis via ponsel—hampir tak ada bedanya dengan orang pacaran—sama-sama tidak diketahui orang lain, kecuali di load speaker. Keenam, meskipun kita sudah pegang ponsel, hendaknya tetap menjalin silaturahmi,  baik kepada kerabat; orang yang dekat dengan ayah kita; teman-teman; jama’ah pengajian  (kalo punya).

 

Nah…. kalo ke-6 hal itu tetap tidak bisa dilakukan,  mending dijual aja! Atau dikasihkan ke saya…he2..:)  (kebetulan etalase di Conter HP milik kakak lagi kosong tuh…)

3 Comments

  1. walah, kalo gw sich, HP itu bukannya cuma pacar, tapi dah jadi istri kaleee.. heheheh. Gmn nggak, wong tiap malem tidur bareng terus tuh… Kalo gak ada pasti deh ada yg kurang gitu… Tapi ya hati2 aja lah ya…..

    begitu ya? he2… makanya, buruan nyari istri yang sebenarnya aja… coz g ada bahayanya… :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s