Karena Aku mencintaimu (2)

Saudaraku, mencintaimu adalah sebuah pilihan—kalau bukan keharusan. Namun tidak mencintaimu adalah sebuah pengingkaran atas sunnah Rosulullah, sang teladan. Untuk itu ijinkanlah aku mencintaimu atas nama iman.

Saudaraku, mencintai—kepada siapapun—pastilah berbuntut konsekuensi. Cintanya sang hamba kepada Robbul ‘izzati dibuktikan dengan ibadahnya sehari-hari. Cintanya  sang suami kepada istri dibuktikan dengan menafkahi. Cintanya Ulul amri kepada rakyatnya dibuktikan dengan mengayomi. Begitu pula cintaku  kepadamu tidak sekedar basa basi.

Namun tak usah kecewa saudaraku, sebab cintaku hanya kubuktikan dengan tulisan. Ya, tulisan. Sebab dengan tulisan—apapun bisa kukatakan. Kau berbuat salah—aku bisa mengingatkan. Kau berbuat benar—aku bisa mengiyakan. Kau berbuat dosa—aku bisa memberi teguran. Bahkan bila kau tak berbuat apa apa—aku bisa memicu stimultan.

Ya, aku tak ingin orang yang kucintai terjerembab di lubang kesesatan. Aku tak ingin orang yang kucintai jauh dari kebenaran. Aku tak ingin orang yang kucintai kehilangan pegangan. Yang selalu kuinginkan adalah—orang yang kucintai selalu istiqomah dalam iman.

Saudaraku, aku berharap kau mencintaiku sebagaimana aku mencintaimu. Begitu pula aku telah berusaha mencintaimu sebagaimana aku mencintai  diriku. Namun aku perlu pembuktian semua itu.

Maka tegurlah, saat aku berbuat salah. Hiburlah, saat  hatiku gundah; serta berilah masukan saat diriku banyak masalah. Semoga—sampai kapanpun—kita masih dalam lingkaran ukhuwah. Aku pun berharap, persaudaraan kita menuai berkah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s