Karena Aku Mencintaimu (4)

Sahabat, kutahu dan yakin kau pernah—mudah-mudahan tidak sering—terlambat. Tidak saja ketika sekolah/kuliah, ngaji, atau rapat. Bahkan pernah kulihat engkau tidak tepat waktu dalam sholat. Aku hanya berharap—semua itu disebabkan oleh suatu alasan yang memang dibenarkan oleh syariat.

Namun saudaraku, tak perlu keterlambatanmu menjadi laksana candu: membuatmu ketagihan dan terus mengulangi kapanpun kau mau. Sebab Islam—agama kita—sangatlah menghargai waktu.

Saudaraku, terlambat masuk kelas hanya akan membuat jengkel guru atau dosenmu. Di matanya, kau tampak tidak bersunggung-sungguh dalam mencari ilmu. Kegiatan belajar mengajar pun jadi terganggu. Sementara di mata temanmu, kau menjadi sosok yang tak pantas untuk ditiru.

Bagaimana mungkin kebaikan yang kita lakukan bisa menjadi teladan, sementara semua itu terkubur oleh kekeliruan sebuah tindakan? Bagaimana mungkin kita bisa menyampaikan kebenaran, sementara kita sendiri melakukan kesalahan? Bagaimana mungkin kita mendakwahkan Islam—yang begitu menghargai waktu—sementara kita tak bisa menghidari keterlambatan?

Saudaraku, terlambat datang baik dalam meeting, syuro’, ataupun rapat,  hanya akan mendhalimi teman yang datang terlebih dahulu. Hintunglah berapa waktu yang terbuang demi menunggumu. Coba kalkulasikan dengan jumlah keterlambatan, lalu bayangkan apa yang bisa mereka lakukan dengan waktu yang hilang itu. Beruntung engkau jika memiliki teman yang biasa meluangkan waktu dengan membaca Al Quran ataupun buku. Sebab ia bisa membaca sembari menunggu kedatanganmu.

Namun bagaimana jika teman-temanmu itu orang yang mudah marah? Keterlambatanmu hanya akan menambah keluh kesah, bahkan berpotensi terjadi ghibah.

Kalaupun tanpa kehadiranmu—rapat tetap dimulai—engkaulah yang justru merugi. Sebab betapa banyak informasi yang tak kau ketahui. Ini hanya membuatmu—maaf— tampak telmi. Bahkan tidak jarang menyebabkan miss komunikasi.

Saudaraku, masing-masing kita punya cara sendiri dalam mengatur waktu. Evaluasilah selalu—dan kalau  memang cara itu tidak efektif, carilah cara baru. Kalau kau belum menemukan cara itu, diskusikanlah dengan sahabat-sahabatmu. Waktu tak mungkin menunggu. Ia terus berjalan meninggalkan masa lalu.

Saudaraku, berusahalah menghargai waktu. Pesan itu kuberikan karena aku mencintaimu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s