Trauma ala kucing

 

 Ada seekor kucing tak bertuan yang hampir setiap hari mengais rejeki di rumah kami. Selalu ada jalan rejeki bagi si kucing itu: sisa gorengan, tulang belulang, atau bahkan nasi campur kuah sayur pemberian ibu khusus untuk kucing itu. Ibuku adalah penyayang binatang. Begitu pula aku, seringkali tidak tega ketika mendengar kucing mengeong dengan tingkah polahnya yang terlihat kelaparan. Namun sayangku terhadap kucing tidak berarti selalu membopong-bopongnya, mengelus-elus, atau membawa-nya ke dalam rumah. Bahkan kucing itu hampir tak pernah masuk ke dalam rumah. Kami tahu betul bahwa di bulu-bulunya kemungkinan besar terdapat bakteri yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Hanya saja kami memberikan tempat makan khusus untuk kucing itu di dekat pintu samping rumah.

Setiap kali ada sisa makanan yang kira-kira bisa dimakan kucing, ibu selalu berteriak keras memanggil binatang itu. Tak lama kemudian, binatang berbulu tiga warna itu menampakkan diri seraya mengeluarkan suara memelas seperti menagih janji. Barangkali kalau diterjemahkan ke dalam bahasa manusia: “Mana….mana… mana makanannya??..”

Keponakanku yang masih berusia satu setengah tahun suka sekali bercanda dengan kucing itu. Sering kali kaki mungilnya bersusah payah mengejar si kucing yang memang sengaja dijauhkan dari jangkauan balita. Namun keberadaaan si kucing seringkali menjadi pelipur lara. Misalnya saat keponakanku menangis menjari ibunya, tangisnya bisa segera terdiam dengan kata-kata : “eh, di mana kucingnya? Yuk kita cari… “

Walau tidak pernah masuk ke dalam rumah, Ibu seringkali dibuat jengkel oleh kucing itu. Pasalnya saat di rumahku tidak ada sisa-sisa makanan, si kucing tetap datang ke rumah dan memasang wajah memelasnya. Tidak jarang tubuhnya yang berbulu lebat itu menyenggol-nyenggol kaki anggota keluargaku saat keluar rumah, dalam rangka mencari perhatian.  Dasar kucing.

Diantara anggota keluargaku, bapakku adalah orang yang paling tidak bersahabat dengan kucing. Begitu pula kucing itu, sangat takut menatap wajah bapakku. Seringkali tingkahnya membuat kami sekeluarga tertawa. Bagaimana tidak, ibuku telah mempersiapkan sisa lauk untuk santapan si kucing, lalu memanggilnya. Si kucing pun segera menyambut panggilan ibuku. Namun begitu melihat bapak berada di depan pintu, kucing itu segera lari terbirit-birit.

Usut punya usut, ternyata dulu bapak sering memukul kucing itu dengan sapu saat ia berani mencuri makanan di dalam rumah.  Mungkin kucing itu merasa kesakitan dan trauma dengan pukulan-pukulan itu. Hingga sekarangpun, selain takut melihat bapak, kucing itu juga segera lari saat melihat siapa pun yang memegang sapu lidi. Sepertinya bapak adalah orang yang paling berjasa dalam ‘mendidik’ kucing sehingga tak berani masuk rumah ataupun mencuri.

9 Comments

  1. iya, yang aku tahu kucing memang bs mengalami trauma. Kucingku takut setengah mati sama tetanggaku. Ternyata tetanggaku itu pernah mukul dia dulu.
    kasian deh kalo ngeliat dia terbirit birit ketakutan gitu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s