Calo Terminal Cirebon: Kedzalimannya Paling Kurasakan

Cerita tentang kengerian Terminal Cirebon sebenarnya sudah beredar luas di masyarakat. Namun aku baru mendengar cerita itu dari Mas Caleg beberapa waktu yang lalu. Seperti mengamini, sopir angkutan yang mengantarku dari Kuningan ke Cirebon mewanti-wanti diriku agar menghindar dari bujuk rayu calo. Namun rupanya aku terlalu mengesampingkan sarannya. Maklum, hari itu sudah menjelang sore, sementara diriku ingin segera sampai di rumah.

Entah apa yang membuat aku tidak bisa mengelak dari para calo yang tak karuan banyaknya itu. Padahal aku sudah berusaha sekeras tenaga untuk mengelak ‘jasa’ mereka. Sepertinya argumentasiku kalah dengan gertakan mereka. Ya, aku sempat mengelak mereka dengan alasan sudah punya bus langganan. Namun mereka menggertakku dengan memanfaatkan ketidaktahuanku akan jadwal keberangkatan bus yang kumaksudkan. Mereka pun menawarkan harga yang lumayan tinggi. Kali ini aku berharap bisa keluar dari jebakan mereka, sebab aku sudah tahu harga tiket yang sesungguhnya. Di luar dugaanku, mereka menawariku bus lain dengan spesifikasi sama (ber AC) dengan harga yang sama pula. Dan tawaran yang paling menarik adalah, bahwa bus yang mereka maksud tidak lama lagi akan diberangkatkan.

Aku pun menyetujuinya. Aku sempat was-was saat membayar dengan uang besar, ternyata di ‘kantor’ mereka tidak ada uang kembalian. Aku takut calo itu akan kabur dengan membawa uangku. Namun ternyata tidak. Sebuah tiket ‘tak resmi’ pun diserahkan kepadaku. Aku lalu diminta mengikuti seseorang untuk menuju ke bus yang dimaksud. Dugaanku salah. Ternyata aku diarahkan untuk memasuki sebuah angkutan kota. Mereka berdalih bahwa bus yang akan kutumpangi tersebut berada di luar terminal, tepatnya di sebuah rumah makan  tak jauh dari pintu tol.

Di dalam angkutan, aku masih berfikir positif. Aku memperkirakan  para calo itu mengambil keuntungan dari biaya administrasi yang terpotong karena bus tak masuk ke dalam terminal serta ‘komisi’ dari kru bus karena telah membatu mengisi kursi yang kosong. Belum terfikir dibenakku betapa kecil keuntungannya jika apa yang kupikirkan tersebut benar. Aku yakin teoriku tidak 100 persen salah. Hanya saja sang calo berusaha meraih keuntungan setinggi-tingginya dengan cara yang tidak dibenarkan. Itu yang menyebabkan uang yang dikeluarkan penumpang seringkali menjadi berlipat.

Kejanggalan makin terasa saat para penumpang korban calo berinteraksi di tempat menunggu bus. Kami saling memperlihatkan tiket yang kami peroleh dari calo-calo itu. Alangkah terkejutnya kami, ternyata masing-masing penumpang membayar tiket dengan harga berbeda meski satu tempat tujuan. Beruntung, aku sudah tahu harga tiket sebenarnya sehingga membayar lebih murah dari pada yang lain. Sama-sama menuju kota Purwokerto, selisih harganya bahkan mencapai 35 ribu.

Tidak hanya itu, kepastikan kami untuk mendapatkan bus yang sesuai dengan spesifikasi ternyata nihil. Maklum, tidak mudah bagi para calo tersebut untuk menemukan bus dengan spesifikasi tertentu, dengan sejumlah kursi kosong masih tersisa, lewat di tempat kami menunggu. Bahkan bilapun ada, bus belum tentu mau berhenti, sebab bekerja sama dengan calo hanya akan berakibat buruk bagi citra perusahaannya.

Setelah menunggu hampir 6 jam (3 waktu shalat), akhirnya para calo bisa menghentikan bus yang masih ada sisa kursi. Meski harga tiket penumpang bervariasi, nyatanya kami disuruh masuk ke bus yang sama. Tidak hanya itu, semua penumpang diminta tambahan 20 ribu rupiah dengan alasan spesifikasi bus yang lebih baik. Padahal sama sekali tidak. Bahkan jauh lebih buruk dari yang kuharapkan.

Para calo itu telah mendzalimiku dalam banyak hal. Sholatku jadi tidak khusyuk sebab tidak ada kepastian jadwal. Waktuku banyak terbuang sebab bus tak kunjung didapatkan. Bahkan uangku harus keluar lebih dari dua kali lipat akibat perbuatan para calo itu. Astaghfirullaha’adzim… aku yang terdzalimi ini sebenarnya ingin mendoakan agar mereka ditimpa keburukan. Bukankan doa orang yang teraniyaya itu mustajab? Namun aku menyadari doa semacam itu tidak dibenarkan. Akupun hanya mendoakan diriku sendiri agar tetap sabar, dan berharap agar para calo itu mendapatkan hidayah-Nya.

(untuk akhi Gino yang juga turut serta dalam perjalanan pulangku….)

Iklan

2 respons untuk ‘Calo Terminal Cirebon: Kedzalimannya Paling Kurasakan

Add yours

  1. Thanks infonya,,kebetulan saya juga mau pulang ke jakarta dari cirebon.kalo udah tau gini mending naek kereta api saja deh mahaldikit tapi puas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: