Purworejo-Kuningan Perdanaku: Indahnya ukhuwah

Hari Jumat lalu seolah menjadi hari yang paling pendek bagiku. Beberapa menit setelah pulang dari masjid, HP-ku berdering. Seorang teman  yang kebetulan adalah kakak kelas se-fakultas menelpon. Aku sudah menduga ini sebelumnya, sebab sejak sebelum jumatan beliau juga telah menelponku. Ia memberitahu bahwa aku telah lolos administrasi untuk mengikuti seleksi guru di sekolah tempatnya bekerja. Aku agak panik, sebab sebenarnya pelaksanaan tes tertulis sudah dimulai hari ini. Apalagi lokasi sekolah tersebut berada di lereng gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat. Begitu jauh dari rumahku.

Dengan persiapan sangat singkat yang dibantu oleh saudara kandungku, aku pun bertekat bulat untuk menuju ke Kuningan hari itu juga.  Sebuah koper kecil berisi perlengkapan dan pakaian ganti menemani perjalananku kali ini. Kakak menelpon sebuah agen bus jurusan Jogja-Cirebon untuk memastikan waktu keberangkatan bus. Ia lalu mengantarkan diriku hingga ke sebuah agen segera setelah kami melakukan shalat ashar. Tak sampai lima menit kami menunggu, bus sudah datang. Aku pasti tertinggal bus ini jika saja persiapanku tidak cepat.

Sudah beberapa lama aku tidak menikmati perjalanan jauh. Dan ini adalah pertama kali aku bepergian jauh tanpa seorang teman. Namun aku begitu menikmatinya. Wajar. Perjalanan  jauhku biasanya begitu melelahkan, apalagi saat aku harus membawa kendaraan sendiri. Kali ini aku mengendarai bus ber-AC yang tidak sesak oleh penumpang. Aku pun bisa memilih-milih kursi untuk kududuki dengan posisi sesukaku. Nyaman sekali.

Sebenarnya sempat kubayangkan diriku akan mengalami kesulitan saat sampai di Cirebon nanti. Bagaimana tidak? Aku yang sama sekali tidak tahu gambaran kota itu, harus menunggu satu malam, lalu mencari angkutan yang membawaku menuju Kuningan. Padahal setahuku tak ada kerabat ataupun kenalan yang ada di sana. Ah, aku kan laki-laki. Tak masalah bagiku tidur di manapun. Termasuk di emper masjid sebuah terminal. Perasaan cemasku pun hilang berganti seiring diriku menikmati indahnya malam di perjalanan.

HP-ku berdering saat aku tertidur di dalam bus. Kakakku menelpon, memintaku untuk ganti menelponnya. Maklum, aku menggunakan operator yang bisa lebih murah di malam hari. Saat aku menelpon balik, ternyata bukan lagi suara kakakku yang terdengar.  Kali ini Mas Caleg yang berbicara denganku. Meski ia tak lolos menjadi anggota dewan, komunikasi diantara kami masih terjalin dengan baik.

Mas Caleg ternyata pernah hidup di kota Cirebon. Ia pernah  menjadi pengusaha di sana sebelum akhirnya bangkrut dan mendirikan usaha baru di kampungnya. Beliau sudah paham benar dengan  kondisi kota Cirebon. Begitu juga dengan kondisi terminalnya yang menurutnya penuh dengan orang-orang jahat. Ah, aku jadi merinding mendengar ceritanya. Namun ternyata ia memberiku solusi.

Aku diminta turun di perempatan pertama sebelum terminal. Seseorang telah berdiri di depan sepeda motor menyambutku dengan tanya: “Dari Purworejo ya?” Ternyata mas Caleg telah menelpon mantan karyawannya untuk menjemputku di sana. Aku pun diajak menginap di rumah bosnya yang baru, dijamu bak seorang tamu, dan aku pun bisa mempersiapkan keperluan untuk besok di sana. Alhamdulillah… kesulitan yang sempat kubayangkan sirna sudah. Ukhuwah yang telah dibina kadangkala membawa kita ke sesuatu yang tidak terduga.

2 Comments

  1. Jadi ingat kata akh Syahdan, pas lagi kita kepepet kebetulan ada teman yang bisa meminjamkan uang,..kalau kita tidak hidup dalam lingkungan jama’ah mungkin itu takkan terjadi y?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s