Pacaran & Perang Pemikiran

Orang-orang Yahudi dan Nasrani itu tidak akan ridho kepadamu, sampai engkau mengikuti millah mereka (Al Baqoroh (2) : 120).

Saudaraku, terus terang diriku sangat sedih saat melihatmu berduaan dengan seseorang yang bukan muhrim-mu. Bukan lantaran aku iri dengan apa yang telah kau lakukan. Tapi aku justru prihatin dengan apa yang kau perbuat itu. Saudaraku, tahukan engkau bahwa pacaran adalah salah satu tema dalam perang pemikiran (Ghazwul Fikr) yang berhasil meluluh lantakkan moral umat Islam saat ini? Ya, kaum kafir menyadari bahwa ummat Islam adalah umat yang tidak bisa dikalahkan begitu saja dengan peperangan. Bersatunya ummat Islam akan membahayakan banyak kepentingan kaum kafir. Untuk itulah muncul istilah perang pemikiran. Perang yang bukan berarti pertempuran secara fisik, namun mengedepankan intelektual dengan memanfaatkan media masa, elektronik, iklan, atau apapun untuk menjauhkan ummat islam dari Al Qur’an dan As Sunnah.

Proses perang pemikiran ini secara sederhana bisa dijelaskan dengan permainan “yes-no” yang sering diadakan pada saat training/pramuka/outbond. Seorang instruktur mengatakan sesuatu yang benar atau salah, sedangkan peserta menanggapinya dengan “ya” atau “tidak” sambil mengangguk atau menggeleng. Meski pertanyaan yang diberikan oleh instruktur sangat mudah, kesulitan permainan ini adalah karena  peserta harus mengatakan “ya” sambil geleng kepala, atau mengatakan “tidak” sambil menganggukkan kepala. Namun permainan ini hanya sulit di awalnya saja. Saat para peserta sudah mengalami pembiasaan, mereka pun bisa dengan mudah mengatakan “ya” sambil menggelengkan kepala atau sebaliknya.

Begitu pula dalam perang pemikiran, ummat Islam dihadapkan pada banyak opini/pemikiran yang sebenarnya bertentangan dengan Al Qur’an dan As Shunnah. Namun karena faktor “pembiasaan” yang gencar dilakukan oleh orang-orang kafir melalui koran, televisi, buletin, majalah, internet, iklan, dan sebagainya, maka banyak ummat Islam yang akhirnya terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran itu. Banyak ummat islam yang akhirnya ikut-ikutan dengan sesuatu yang sebenarnya bertentangan dengan agamanya. Beberapa hal diantaranya: makan sambil berdiri/dengan tangan kiri dianggap hal yang wajar, wanita tidak menutup auratnya menjadi hal yang biasa, begitu pula dengan pacaran.

Pada era 70-an, pacaran bukan menjadi hal yang lumrah. Kalau tidak percaya tanyakanlah pada kakek atau nenek. Setelah berkembangnya teknologi, orang-orang kafir pun dengan gencar mempublikasikan kebiasaan mereka dengan media-media yang tersedia. Film-film yang menggambarkan pergaulan ala Barat pun beredar di Indonesia. Koran-koran, majalah, radio tak ketinggalan mempublikasikan tentang kehidupan luar yang tampak indah di mata. Akhirnya, media-media di Indonesia ikut  terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran media barat (mungkin, lebih tepatnya media-media kita telah dikuasai mereka). Mereka pun turut serta menyebarkan pemikiran-pemikiran itu. Hasilnya, Saat ini sudah terlihat. Berapa persen remaja Indonesia yang tidak pernah tahu istilah pacaran? Tentu sangat sedikit. Kebanyakan dari mereka telah mengadopsi perbuatan orang-orang kafir itu.

 

Padahal Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
“Aku diutus dengan pedang ketika Hari Kiamat makin dekat, sehingga seluruh manusia menyembah Allah Yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Allah menjadikan rezekiku di bawah baying-bayang tombak, merendahkan dan menghina siapa saja yang menentang perintahku. Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.”

Dengan berbagai kombinasi pemikiran-pemikiran yang berbeda, maka terjadilah degradasi moral masyarakat kita. Ah, kalau membicarakan kebobrokan moral, sepertinya tidak akan pernah ada habisnya. Tapi lihatlah, dari 90-an persen Ummat muslim di Indonesia, berapa persen yang masih melaksanakan shalat 5 waktu?  (mudah-mudahan engkau masih termasuk di dalamnya) Dari sekian persen yang melaksanakan shalat 5 waktu itu, berapa yang mau melaksanakan shalat secara berjama’ah? (mudah-mudahan engkau juga termasuk di dalamnya). Dari sekian persen yang mau melaksanakan shalat berjamaah itu, berapa persen yang mau shalat di Masjid? (mudah-mudahan engkau masih ada di dalamnya). Dan dari sedikit persen yang mau berjama’ah di masjid itu, berapa persen yang bisa tepat waktu dan khusyuk dalam shalatnya? (mudah-mudahan engkau juga masih termasuk di dalamnya). Wallahu a’lam bishshowab.

 

Untuk menambah referensi tentang perang pemikiran, silahkan baca ini juga:

http://isparmo.blogspot.com/2007/04/perang-pemikiran-gawzul-fikr.html

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s