Cium Tangan

Gaji pertama sudah kuterima. Selama sehari utuh hampir tak tersentuh. Maklum bujangan–urusan keuangan diatur sendiri. Bukannya senang, tapi sempat bingung, mau dikemanakan uang itu. Bukan merasa bahagia, tapi jadi takut akan kehilangan lembaran-lembaran tersebut. Ah, sempat terpikirkan tentang masih banyaknya keinginanku yang belum terpenuhi. Ini, ini, ini, dan itu, yang jika dinominalkan jauuuuh di atas lembaran-lembaran yang ada di saku. hmm… harus ada prioritas.

Kakiku pun melangkah tanpa beban menyusuri aspal beku di saat terik mentari masih terasa. Aku anggap ini sebagai olah raga sekaligus rekreasi dan belanja. 30 menit lebih diriku berjalan hingga sampai ke sebuah toserba megah yang cukup terkenal di Kuningan. Di toko itulah para santri juga mencari kebutuhan sehari-harinya, meski kadang harus kabur dari asrama. Maklum, perijinan yang hanya 2 minggu sekali kadang memicu mereka untuk mencuri-curi kesempatan. Bila seorang santri punya i’tikat yang baik, tentu mereka akan meminta ijin kepada pengurus asrama bila memang benar ada kebutuhan yang mendesak.

Selama di perjalanan, aku sudah menyangka kalau akan bertemu dengan santri, seperti beberapa saat yang lalu saat aku ke sana. Benar saja, aku bertemu dengan santri sekaligus siswa kelas binaanku. Seperti halnya ketika di lingkungan pesantren, santri itu menghampiriku dengan sopan lalu bersalaman sembari mencium tanganku. Tak kupedulikan tatapan beberapa pegunjung toserba yang menatap kami dengan tatapan aneh. Ya, kebiasaan mencium tangan di kalangan masyarakat kita memang sudah seperti barang langka. Susah untuk ditemui.

Bisa jadi anda adalah orang yang pada saat peristiwa di toserba itu sedang menatap kami. Atau anda adalah orang yang sering melintas di depan pesantren Al Multazam lalu menyaksikan para santri yang bersalaman sembari mencium tangan para asatidnya. Yah, itulah kebiasaan kami yang mungkin tak pernah dilakukan oleh anak-anak di sekolah lain. Tampaknya sederhana, namun dampaknya luarbiasa. Percayalah.

3 Comments

  1. emang santri adalah pengemban nilai2 luhur dalam islam…tp, di negara ini santri sering terpojokkan…krn statusnya yang belum banyak diakui instansi pemerintahan…Semangat terus Para Santri…tunjukan kita bisa..
    ==================================================
    Edi: Trims dah mampir di blog ini…. Allahu Akbar!

  2. Uangnya dikaminating satu buat kenangan..he he he
    Kebiasaan cium tangan ke ortu baru ku mulai ketika mulai kuliah di perantauan…sebelumnya g pernah, jangan ditiru ya
    ================================================
    Edi: Sayang kalo dilaminating… kyk Paman Gober saja!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s