Optimisme Yang Konyol

Hendi. Suatu saat Allah memperkenalkan aku dengan orang itu. Bukan nama asli, hanya untuk mempermudah diriku bercerita di halaman ini. Tak perlu kutuliskan nama sebenarnya mengingat ini adalah sebuah aib yang harus ditutupi. Ya, Allah saja bermurah hati menutupi aib-aib kita, kenapa diriku harus mengungkit-ungkit aib orang lain. Namjun diriku merasa perlu bercerita sebab ada hikmah yang bisa diambil dari kisah ini.

Aku dipertemukan dengan Hendi di serambi masjid kampus UNY. Aku lupa kapan, tapi yang jelas saat diriku masih kuliah di sana. Mulanya tampak raut keraguan di wajahnya saat hendak berbicara denganku. Namun rupanya ada keinginan yang kuat yang memaksanya harus segera menemuiku.

Setelah sempat berkenalan dengannya, akupun larut dalam pembicaraan dengannya. Hendi pun dengan terus terang mengatakan alas an mengapa ia mengajakku berbicara. Ternyata Hendi adalah seorang perantau dari luar Jawa(tak perlu kusebut tepatnya). Konon ia datang ke Jawa dengan keinginan yang kut untuk mengikuti lomba karya ilmiah.

Hendi begitu yakin hasil pemikiran beserta “karya” yang dibuatnya bisa menjuarai kompetisi berhadiah puluhan juta itu. Namun sayang, ia terlambat. Saat sampai di Jawa, batas waktu pengumpulan karya tulis itu sudah habis. Bahkan ia belum sempat menyalin karyanya itu ke dalam tulisan cetak. Ia pun urung mengikuti perlombaan itu. Sementar uang yang ia miliki tidak mencukupi untuk pulang ke rumahnya. Saat berangkat, ia mengusung optimism yang begitu tinggi untuk mendapatkan hadiah itu sehingga merasa tak perlu membawa bekal untuk pulang ke rumah.

Entah cerita itu betul atau tidak, sebab inti dari pembicaraan itu adalah ia hendak menjual satu-satunya barang berharga yang saat ini ia miliki: sepatu. Hendi sudah kehhabisan bekal hingga tak ada uang sepeserpun untuk sekedar makan. Rancana berikutnya adalah menjual sepatu miliknya untuk membeli makanan dan Koran di hari itu untuk mencari info lowongan kerja. Sebenarnya aku pesimis Hendi akan segera mendapatkan pekerjaan mengingat tak sehelai ijazah yang ia bawa. Namun aku tak punya solusi lain.

Mulanya aku sempat suudhon, jangan-jangan sepatu yang dibawa Hendi adalah sepat curian. Namun runtutan kisah yang ia ceritakan begitu detail, meyakinkan diriku bahwa ia tidak berbohong. Bagitu pula kisah tentang masa lalunya yang tidak pernah nyontek saat masih sekolah. Juga kisahnya pernah keluar dari bangku sekolah gara-gara tidak suka dengan oknum guru yang menjadikan sekolah sebagai ajang mencari uang. Cerita-cerita itulah yang membuatku luluh, hingga akhirnya bersedia membeli sepatu itu.

Hari berikutnya Hendi masih terlihat modar-mandir di Masjid. Aku maklum jika ia belum juga mendapatkan pekerjaan. Uang 20 ribu hasil ia menjual sepatunya itu mungkin saja tidak cukup dalam dua hari ini. Kali ini Hendi berinisiatif menghubungi takmir masjid untuk minta bantuan ala kadarnya. Aku sedikit lega dengan apa yang dia lalukan itu, sebab penyakit suudhon-ku sempat kambung mengingat pada waktu itu sering terjadi kasus pencurian di masjid. Yang aku khawatirkan adalah apabila Hendi kehabisan uang, malu untuk minta bantuan, sementara pekerjaan belum ia dapatkan.

Masih pada hari yang sama, pada tengah malam, kenyamananku agak terusik. Seorang teman menelponku, mengabarkan bahwa Hendi baru saja dihajar masa gara-gara ketahuan menuri uang 10 ribu dari kotak infak di masjid. Temanku itu menelponku bukan tanpa sebab. Saat digeledah, dalam tak Hendi tak dijumpai barang bukti yang menguatkan perbuatan pencuriannya, melainkan sebuah buku yang tertulis namaku. Itu memang buku agendaku yang kuberikan kepadanya. Buku itu sengaja kuberikan agar menjadi pengingat kami pernah bertemu. Buku itu juga menjadi kritik baginya agar lebih matang dalam merencanakan sesuatu. Namun malam itu, kesalahan yang ia perbuat terlanjur berbuah petaka. Tabiatnya tiba-tiba berubah akibat perutnya kosong. Idealisme kejujurannya tiba-tiba menghilang saat ia sangat membutuhkan uang. Optimisme-nya yang konyol akhirnya berbuah penjara.

(Untuk H*****: Lupakan masa lalu yang kelam. Diriku begitu yakin bahwa kelak kau menjadi orang yang berguna—bahkan optimis bahwa kau akan sukses. Tentu ini bukan optimisme yang konyol…)

Al Multazam-Kuningan, 2 Ramadhan 1430

2 Comments

  1. Jaman skr memang seperti buah simalakama,mau suudzon salah,husnudzonpun tnyt qt d tipu. Tak smua org py pkrn buruk memang,tp bpkr positif memang tak hrs buat kita lepas dr waspada. Inikah org y tertulis d oase ramadhan kala itu akhi?
    =========================================
    Sepakat ukhti….
    Bukan, yg di Oase itu lain lagi orangnya. Mujahidin kan dulu memang sering nangkep maling….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s