Hantu-hantu di Musim Kemarau

(sambungan pijat refleksi)

Saat sedang nikmat-nakmatnya dipijat, seorang ustadz masuk ke dalam ruangan sambil berbicara dengan seseorang melalui HPnya. Kebetulan kamar tempat diriku dipijat dihuni oleh 3 ustadz dengan kompetensi yang berbeda. Ustadz yang baru masuk ini berlatar belakang pendidikan Islam, sedangkan yang memijitku adalah alumni pesantren Tahfidzul Quran. Satu lagi penghuni kamar yang sedang tidak ada di kamar adalah pengajar bahasa inggris.

Sambil dipijat, kudengarkan pembicaraan dua ustadz di ruangan itu. Ustadz yang memegang HP tadi ternyata baru saja berbicara dengan adiknya yang berada di kampung halamannya. Rupanya sang adik sedang resah dengan isu yang sedang berkembang di sana. Konon akhir-akhir ini, di sebuah daerah di Jawa Tengah (tak perlu kusebutkan namanya), makhluk-makhluk dari ‘dunia’ lain sedang bergentayangan. Wujudnya macam-macam: ada hantu cekik, hantu tanpa kepala, manusia terbang, dan entah apalagi. Mungkin jika Edi kecil mendengar nama-nama tadi dia akan merinding, meski saat ini justru ketawa ketika ustadz tadi bercerita. Habis lucu!

Tak perlu diragukan lagi, bahwa adanya hantu-hantu itu tidak lain dan tidak bukan adalah perbuatan jin dalam rangka melemahkan akidah ummat Islam. Mustahil manusia melakukannya kecuali sekedar untuk akting sinetron atau film (padahal kan gema film horor sudah mulai redup?? Iya nggak??). Yang menjadi menarik untuk disimak adalah tentang adanya hantu tersebut yang nyaris selalu muncul di saat musim kemarau atau paceklik. Nah, rekan ustadz tadi punya hipotesis yang cukup menarik untuk dicermati.

Daerah di mana isu hantu tersebut muncul adalah wilayah yang sangat rentan terjadi bencana kekeringan. Saat musim penghujan telah berakhir, maka sesuatu yang paling ditakutkan oleh petani dan masyarakat setempat adalah kegagalan panen. Sebab bila ini terjadi, tak bisa dipungkiri juga akan berdampak pada perekonomian warga sekitar.

Kenyataannya, bencana kekeringan memang benar-benar terjadi. Dan benar saja–tidak hanya terhadap para petani–hal tersebut ternyata juga berdampak masyarakat luas, termasuk paranormal (baca: dukun) yang tinggal di daerah itu. Sebagian masyarakat di daerah tersebut memang masih percaya dengan ilmu klenik (hal-hal yang mungkin dilakukan diantaranya termasuk konsultasi rutin dengan paranormal sebelum menjalankan aktivitas). Saat bencana terjadi, wajar saja jika paranormal ditinggalkan begitu saja sebab memang banyak orang yang ‘kembali ke jalan yang benar’ saat bencana terjadi. Dengan demikian pendapatan para dukun otomatis berkurang dengan adanya bencana itu.

Lantas, apa hubungan antara seretnya rejeki para dukun dengan kemunculan hantu gentayangan itu? Nah, inilah yang menjadi hipotesis rekan ustadz tadi. Menurut beliau, hantu-hantu itu sengaja dimunculkan oleh para dukun itu untuk menakut-nakuti warga. Dengan munculnya hantu cekik misalnya, warga masyarakat menjadi takut keluar rumah. Tentu saja mereka tidak mau bertemu dengan makhluk yang sewaktu-waktu bisa mencekik tanpa alasan yang jelas. Lantas siapa yang betah berada di rumah terus menerus? Sedangkan kebutuhan hidup mengharuskan manusia keluar rumah.

Ketakutan masyarakat itulah yang menjadi modal utama bagi para dukun untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Caranya? Bisa ditebak! Rajah, pusaka, dan benda-benda ‘sakti’ lainnya diperjual belikan–yang katanya–untuk menangkal hantu. Semakin mahal harganya, maka benda tersebut semakin ampuh digunakan. Masyarakat ‘jahiliyah’ pun berbondong-bondong memborong benda-benda tersebut, berharap mereka tidak lagi diganggu oleh hantu. Sementara orang yang tidak mampu membelinya, diliputi rasa ketakutan yang mengintai setiap hari. Sedangkan orang-orang ‘tertentu’ tersenyum lebar menghitung keuntungan berlimpah ruah yang didapatkannya. Hantu cekik pun tetap beraksi menebar sensasi….

Tiba-tiba tubuhku merasa nyaman saat sepasang tangan menggerayangi leherku. Geli, nikmat, dan nyaman bercampur menjadi satu. Ah, diriku akan selalu merindukan saat-saat seperti ini. Kapan-kapan diriku akan minta dipijit kembali. Trimakasih pak Ustadz.

Wallahu a’lam bishshowab

Kuningan, 3 Oktober 2009

5 Comments

  1. masih percaya dengan yang namanya Hantu, Hantu tu gak da kali kalau kita gak takut maHAntu tapi law takut ya gt kamu akan diHantui rasa takut, jdi………………………………………. ceritanya tu bukan hantu-hantu di musim kemarau Tapi………………………………….dukun di musim penghujan duit. he……..he…………..

    ========================================
    Edi gunt: ha ha.. betul betul betul.. sepakat! trims dah mampir…

  2. setauku kalo di Saudi ada lembaga yg bertugas mencari para dukun / tukang sihir, utk disidang dan dihukum. Kalau di Indonesia sih spt surganya penyihir… hehe…
    ===================================================
    Edi Gunt:Wah, kalo di Indonesia mau didirikan lembaga semacam itu, pasti didemo rame-rame.. he he..

  3. dukun di kampung adik ustad itu belum kenal sama produk sms ya? seperti KETIK ….. SPASI….KIRIM KE 9090, makanya mereka miskin dan harus ngirim hantu
    ======================================================
    Edi Gunt: betul juga…. ha ha ha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s