Realistis

Dalam beberapa kesempatan, diriku sering bercerita tentang masa lalu saat masih di SMA. Termasuk kepada murid-murid yang ada di jurusan IPS—tak bosan-bosannya diriku bercerita tentang latar belakangku yang dari IPA. Bukan untuk menyombongkan diri lantaran jurusan IPA tampak lebih bergengsi, namun diriku hanya ingin berbagi cerita kepada mereka. Besar harapanku, anak-anak bisa mengambil hikmah dari cerita ini.

Diri ini sempat mengalami masa-masa sulit justru ketika masuk ke jurusan IPA. Berbekal nilai bagus di kelas 1 dan awal kelas dua, memang lebih dari cukup untuk bergabung dengan jurusan IPA. Namun saat masuk pertengahan kelas 2, sakit  berkepanjangan yang kuderita memaksaku untuk tidak banyak bermesraan dengan MATEMATIKA—pelajaran yang menjadi andalanku dalam mendongkrak nilai semenjak duduk di SD.

Saat diriku kembali ke sekolah, ketertinggalanku sudah terlalu jauh. Belajar matematika dan ilmu eksak lain bagiku tidak bisa sekedar menghafal rumus. Harus dengan latihan. Sementara kondisi diriku yang sering absen selama berminggu-minggu menyebabkan diriku begitu kesulitan mengikuti pelajaran. Apalagi dalam pelajaran matematika, sering kali ditemui materi-materi yang berhubungan dengan materi sebelumnya. Begitu banyak materi yang tidak kuikuti, membuatku bingung saat  berhadapan dengan rumus-rumus baru. Diriku pun berubah 180 derajad, dari seorang Edi yang pandai matematika menjadi Edi yang tidak berdaya dengan matematika. Diriku pun mengubur dalam-dalam cita-cita mnejadi guru matematika saat diumumkan nilai UAN matematika-ku yang hanya  0,1 di atas batas minimal kelulusan. Tapi terus terang, saat itu bisa lulus pun sebenarnya diriku sudah sangat bersyukur.

Masa sulit di SMA berlalu saat diriku memutuskan untuk “banting setir”  ke Ilmu Sosial saat duduk bangku perkuliahan. Jurusan Geografi menjadi pilihan paling realistis. Tentu ada benyak pertimbangan. Menurutku geografi adalah ilmu alam yang dipadu dengan ilmu social, sehingga tidak ada salahnya apabila diriku yang bersala dari jurusan IPA kuliah di jurusan pendidikan geografi. Selain itu, nilai geografiku termasuk yang tertinggi dibandingkan mata pelajaran yang lain. Pertimbangan berikutnya, persaingan masuk ke jurusan itu tidak terlalu berat dibandingkan apabila diriku masuk ke jurusan eksata. Bersaing dengan anak-anak dari jurusn IPS, diriku kemungkinan  akan kalah di mata pelajaran Ekonomi yang tidak diajarkan di kelas 3 IPA SMA. Sementara kemampuan lain yang diujikan pada saat SPMB—Bahas Indonesia, Matematika, Bahasa Inggrris, diriku masih optimis bisa mengalahkan anak-anak IPS.

Benar saja, target realistis itu mengantarkan diriku menuju ke Perguruan Tinggi Negeri. Sebuah kebanggaan, sebab dengan itu diriku bisa meringankan beban orang tua. Diriku pun berharap, orang tua menjadi semakin ridho kepadaku. Mungkin karena berbekal ridho orang tua itulah, banyak kemudahan yang kurasakan saat diriku duduk di bangku perkuliahan. Ya, hanya beberapa kerikil kecil yang menjadi penghalang perjalananku saat itu. Namun aku percaya bahwa SETELAH KESULITAN selalu ADA KEMUDAHAN—maka kerikil-kerikil kecil itu menjadi penghias yang mempernikmat perjalananku. Wallahu a’lam bishshowab.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s