Saat siswa-ku menangis

Sesuatu yang bagiku baru kusadari saat mengajar anak-anak IPS adalah kemampuan mereka dalam hal berhitung yang tidak sebaik anak-anak IPA. Maklum, diriku saat SMA berada di jurusan IPA. Wajar saja kalau hingga beberapa saat diriku tidak bisa merasakan kesulitan mereka saat berhadapan dengan soal-soal berbau angka.

Akan tetapi, mau tidak mau, suka tidak suka, matematika akan selalu membuntuti mereka setiap waktu. Dalam kehidupan sehari-hari,  manusia tidak bisa terlepas dari aplikasi matematika. Begitupula dalam pelajaran Geografi, matematika menjadi ilmu Bantu yang sangat penting. Di kelas XI misalnya, dalam menganalisis fenomena Antroposfer—penduduk—diperlukan keterampilan siswa dalam mengolah angka: menghitung sex ratio, pertumbuhan penduduk, proyeksi penduduk, angka ketergantungan, dan lain-lain. Bahkan soal UAN pun, sekitar 5 dari 40 soal geografi (12,5%) biasanya berupa soal perhitungan. Jadi wajar kalau murid-murid IPS tidak boleh antipati dengan matematika.

Bagi diriku, matematika tetap menjadi sesuatu yang mengasyikkan meski dalam mengotak-atik angka sudah tidak setrampil masa lalu. Ini berbeda dengan sebagian muridku—anak IPS yang bagi mereka matematika menjadi momok yang menakutkan. Wajah-wajah lesu pun tampak terlihat tatkala diriku menjelaskan materi yang berkaitan dengan hitung menghitung. Aku berusaha menyakinkan bahwa materi hitungan yang kuajarkan itu cukup mudah, meski pada kenyataannya banyak siswa yang tampak “menyerah sebelum bertanding”.

Saat ulangan harian, beberapa soal diantaranya berupa soal hitungan. Namun anak-anak kuperbolehkan membuka buku saat ujian. Jangan salah, meski sifat ulangan openbook, tidak satupun jawaban ada di buku paket atau buku catatan mereka. Mereka harus bisa menggunakan rumus yang ada untuk menyelesaikan soal, atau menjawab soal secara analisis. Diriku begitu yakin anak-anak bisa melakukannya, sebab soal hitungan yang kuberikan pernah dibahas pada saat pelajaran. Tinggal merubah angkanya saja.

Pada kenyataannya, tidak semua siswa bisa mengerjakan. Bahkan satu diantara mereka sempat menangis pada saat ulangan. Entah apa yang membuatnya menangis. Apakah karena diriku yang terlalu banyak menceramahi, atau kata-kataku yang terlalu pedas saat memberi pengarahan, atau karena soalnya yang terlalu sulit baginya. Yang jelas, saat muridku menangis, diriku menjadi sadar bahwa anak tidak bisa dipaksa untuk bisa melakukan suatu hal. Diriku begitu yakin, ketika anak tidak bisa melakukan sesuatu, pasti ada hal lain yang dia bisa lakukan. Saat anak lemah dalam berhitung, pasti dia mempunyai potensi lain yang luar biasa. Ya, setiap anak istimewa. Hanya saja—kita, orang tua, guru, seringkali belum menemukan letak keistimewaannya.

(untuk yg menangis saat ulangan: Jangan sedih,  matematika bukan kunci untuk membuka pintu surga. Bapak yakin kelak kamu bisa, atau ahli di bidang lainnya)

8 Comments

  1. @Fitri: waaah…. harus protes tuh ke Fakultas, syukur2 mau demo.. hehe….
    Kalo orang Fisip g tahu tentang Geografi, kasus Ligitan & Sipadan bisa terulang kembali tuh… hehe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s