Saat gelar “Almarhum” melenyapkan gelar sarjananya

Pagi itu—dua minggu lalu—sebuah SMS mengejutkan masuk ke ponselku. Disusul 3 SMS lain dari orang yang berbeda. Semuanya dari teman kuliah satu angkatan. Isinya sama, memberi kabar bahwa salah seorang rekan kami meninggal dunia malam harinya karena kecelakaan lalu lintas.

Diriku tidak bisa turut serta bertakziah. Sebab selain letak rumah duka yang berjauhan dengan tempatku bekerja, hingga hampir dua minggu ini hari-hariku padat dengan aktivitas. Lihat saja, selama itu blog-ku tidak pernah terisi oleh tulisan-tulisan baru. Namun  selama itu pula seringkali diriku teringat wajah almarhum. Bahkan hingga saat ini.

Sulit bagiku untuk melupakan orang-orang yang pernah membuat kesan di hati ini. Alharhum adalah orang yang menurutku selalu menampakkan keceriaannya. Tak pernah terdengar keluh kesah dari mulutnya. Tak pernah tampak  tatapan kesedihan dari sorot matanya.  Canda dan tawanya-lah yang justru selalu menghiasi hari-hari kami saat masih bersama. Gayanya berceloteh, suaranya yang khas, serta selera humornya masih terbayang jelas di benakku. Hampir-hampir diriku tak percaya dirinya tlah tiada.

Sungguh, cita-citanya menjadi seorang sarjana nyaris tercapai setelah lebih dari 6 tahun merengkuh bangku kuliah.  Skripsi yang selama ini seolah menjadi penghambat kelulusan telah usai ditulisnya.  Presentasi dan argumentasi mungkin sedang akan dipersiapkan untuk menghadapi para penguji. Namun ajal telah menjemputnya 3 hari sebelum jadwal ujiannya. Aku jadi teringat, ini adalah kali ke 3 , di mana teman seangkatanku gagal meraih gelar kesarjanaannya lantaran didahului oleh gelar almarhumnya.

 

MUH,

Saat kaki-kaki kekar menapaki kaki-kaki bukit,

Kau  turut di sana.

Saat kepala-kepala tertunduk sujud di lantai masjid

Kepalamu jadi salah satunya.

Saat para mahasiswa bergandengan tangan dalam suatu himpunan,

Tangan-mu juga menjadi tumpuan.

Saat berjuta pasang mata menyaksikan pertandingan bola,

Mata-mu pun turut terjaga.

 

Tapi itu dulu,

Sebelum waktu dimana saat rekan-rekanmu datang,

Kaki, kepala, tangan, dan mata-mu terdiam.

Karna ruh-mu tlah diambil-Nya.

Kuningan, 14 November 2009

2 Comments

  1. ASSALAAMU’ALAIKUM..

    KEPADA SAHABATKU… SAMBUTLAH UCAPAN DARIKU. SERANGKAI KATA PENGGANTI DIRI. UNTUK MENYAMBUT HARI PERTEMUAN YANG BESAR. JARI SEPULUH KU SUSUN JUGA. AGAR KESALAHAN DIAMPUN SEMUA. TANDA IKHLAS PERSAHABATAN KITA.

    SALAM DUNIA, SALAM SEMUA, SALAM HARI RAYA EIDUL ADHA DAN SALAM PERPISAHAN “BERJARAK” DARI SAYA DI BANGI, MALAYSIA.

    Saudara Edi: Baru saja kita kenal namun saya harus pamit dulu untuk dunia blog ini sementara atas tugasan yang harus diselesaikan.. nanti akan kembali mewarnainya semula. Maaf, baru untuk mengenali sudah mahu pergi pula.Salam mesra.

    -SITI FATIMAH AHMAD-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s