Sore yang tertunda

Hujan deras mengiringi malam pentas seni yang diadakan murid-muridku. Saat itu  adalah malam terakhir rangkaian kegiatan Pekan Pengabdian Masyarakat (P3M)—program khusus yang wajib diikuti oleh santri di ponpes tempatku mengajar. Pentas seni ini menjadi semacam acara perpisahan setelah selama 10 hari mereka mengadakan kegiatan di sebuah desa di pelosok Kuningan.   Aku menghela nafas panjang saat acara itu benar-benar dimulai. Lega, meski sempat tertunda dua jam dari jadwal yang direncanakan.

Tak ada yang tahu isi hati kami—guru pembimbing—beberapa  jam sebelum acara dimulai.  Anak-anak hanya tahu bahwa panggung tempat mereka mengadakan pentas seni terlambat berdiri.  Mungkin saja mereka tahu kami gelisah. Tapi mereka tak tahu kegelisahan kami jauh lebih dulu muncul dari kegelisahan mereka.  Mereka juga tak tahu sempat ada pikiran negatif, prasangka, bahkan keluh kesah yang terucap akibat sebuah permasalahan yang sangat umum terjadi di organisasi/instansi manapun: MISSKOMUNIKASI.

Kegelisahan kami mulai muncul saat pukul 16.00 WIB perangkat panggung untuk pentas seni belum juga datang ke lokasi. Padahal perusahaan penyewaan panggung berjanji bahwa pukul 15.00 panggung sudah akan berdiri. Salah satu dari kami berusaha untuk menghubungi beberapa orang yang dianggap tahu menahu tentang urusan persewaan itu. Tapi hasilnya nihil. Anak-anak sudah mempercayakan penyewaan panggung kepada kepala dusun setempat. Namun kepala dusun yang dimaksud ternyata tidak ada di rumahnya.  Begitu pula saat kami menghubungi satu orang lagi yang juga dianggap tahu tentang urusan itu, ternyata yang bersangkutan pergi meninggalkan telepon genggamnya. Sang istri yang menjawab telpon kami pun tidak tahu-menahu tentang urusan suaminya.

Menjelang pukul 17.00 WIB, panggung masih belum datang juga. Harapan terakhir kami tinggal satu. Kami harus mengomunikasikan permasalahan ini kepada koordinator pembimbing. Beliaulah yang bertanggung jawab penuh pada keseluruhan rangkaian kegiatan P3M ini. Ah, tapi beliau tidak ada di lokasi. Sementara itu, HP beliau tidak aktif.  Sejak saat itulah muncul berbagai prasangka negatif dan keluh kesah yang dialamatkan kepada koordinator kami itu. Bagaimana tidak? Beliau pergi entah ke mana tanpa sepengetahuan kami. Begitu pula tak ada pesan apapun yang dititipkan. Kami menjadi semakin kesal dengan tidak aktifnya handphone yang biasa beliau bawa. Ada kesan seolah beliau menghidar dari berbagai permasalahan di lokasi kegiatan.

Sekitar pukul 17.00 WIB koordinator kami muncul bersama dua orang yang paling kami cari. Mereka bertiga keluar dari mobil dengan wajah yang menampakkan keletihan. Namun ketiganya masih memaksakan diri untuk tersenyum saat melihat kami berkumpul. Penjelasan yang panjang dan lebar pun mulai melegakan hati kami sesaat setelah kaki mereka turun dari mobil. Rupanya mereka bertiga baru saja mendatangi perusahaan penyewaan panggung untuk mengkonfirmasi keterlambatan pengiriman panggung. Ternyata memang ada misskomunikasi yang terjadi yang nyaris berakibat fatal. Bila saja mereka tidak datang ke sana mungkin saja panggung yang dibutuhkan tidak berdiri malam ini.

Adapun koordinator kami, sepertinya memang harus menonaktifkan ponselnya. Wajar saja, beliau menyetir sendiri mobil pribadi yang baru dibelinya itu. Kalau hal itu tidak dilakukan, rentetan deringan telpon dari kami akan merusak konsentrasinya dalam berkendara.

Tak lama kemudian, mobil pengangkut panggung datang ke lokasi. Tak butuh waktu terlalu  lama, panggung beserta tendanya sudah berdiri. Meski acara sempat tertunda, aku benar-benar merasa lega. Sungguh, peristiwa yang terjadi di sore harinya begitu memberiku pelajaran berarti. Prasangka buruk tidak akan menyelesaikan masalah. Bahkan bisa jadi, prasangka kita akan menambah panjang daftar masalah dalam kehidupan kita.  Wallahu a’lam bisshowab.

(untuk pak Iman, afwan atas sgala prasangka….)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s