‘TEROR’ DI PLANET BUMI (Saat Hijaunya Hutan Hanya Menjadi Sebuah Legenda)

“Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi dan Dia tidak mempunyai anak dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya) dan Dia telah menciptakan segala sesuatu dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS. Al Furqan, 25: 2)

Bumiku, Tempat Hidupku.

Tak perlu dipungkiri bahwa bumi adalah planet yang paling menakjubkan di tata surya kita. Dipandang dari angkasa, bumi tampak indah bercahaya seperti batu menyala-nyala. Diamati dari dekat, kita dibuat memuji-Nya dengan keindahan gunung, sungai, danau, atau lautan yang menghampar menghiasi permukaannya. Bandingkan dengan bulan, benda langit terdekat dari bumi yang keindahannya di saat purnama seringkali disebut-sebut oleh para pujangga. Kenyataannya, keindahan bulan hanya bisa dinikmati dari kejauhan.

Bumi menjadi planet paling ideal untuk tempat tinggal makhluk hidup khususnya manusia. Suhu di permukaan bumi begitu ‘ramah’dibandingkan dengan suhu planet lain di tata surya. Planet Venus saja, yang merupakan planet terdekat dengan bumi, suhu permukaannya mencapai 480oC. Atau bandingkan dengan planet Mars, planet yang kondisinya paling mirip dengan Bumi, ternyata temperatur di permukaannya sekitar -23 oC. Selain itu, tanah, air, dan udara di permukaan bumi menjadi komponen yang saling mendukung dalam menopang kehidupan makhluk hidup. Dengan ketiga kompoen tersebut, pepohonan bisa tumbuh rindang menutupi sebagian besar daratan. Berbagai jenis binatang dan mikroorganisme pun bisa bertahan hidup. Dan akhirnya, manusialah yang mengambil manfaat dari semua itu.

Atmosfer, Efek Rumah Kaca, dan Ancaman Terhadap Dunia

Keadaan suhu bumi yang mendukung kebutuhan mahluk hidup tidak bisa dipisahkan dengan keberadaan atmosfer sebagai selimut bumi. Atmosfer menjadi bagian yang sangat penting bagi keberlangsungan kehidupan. Tanpa atmoster, maka manusia, hewan, dan tumbuhan tidak dapat hidup. Lapisan atmosfer merupakan campuran dari gas yang tidak tampak dan tidak berwarna. Gas Nitrogen, Oksigen, Argon, dan Karbondikosida merupakan gas yang paling dominan mengisi lapisan atmosfer. Selain itu juga banyak dijumpai gas-gas lain yang jumlahnya relatif kecil seperti Neon, Helium, Metana, Kripton, Hidrogen, Xenon, dan Ozon.  Gas-gas itulah yang bermanfaat bagi kehidupan makhluk hidup baik secara langsung maupun tidak langsung.

Gas yang manfaatnya dirasakan secara langsung oleh hampir semua makhluk hidup adalah Oksigen (O2). Oksigen berfungsi untuk mengubah zat makanan menjadi energi hidup. Manusia dan hewan membutuhkannya dalam proses pernafasan. Tumbuhan pun membutuhkan Oksigen untuk hal yang sama di malam hari. Oksigen juga dapat bergabung dengan unsur kimia lain yang dibutuhkan dalam proses pembakaran.

Gas lain yang bisa dirasakan manfaatnya oleh makhluk hidup adalah gas Ozon (O3). Meskipun jumlahnya relatif kecil, tapi gas yang terkonsentrasi di ketinggian 20-30 Kilometer ini dapat menyerap radiasi sinar ultraviolet yang mempunyai energi besar dan berbahaya bagi tubuh manusia.

Jika Oksigen dan Ozon memberikan manfaat yang begitu besar bagi kelangsungan hidup manusia, maka gas Karbondioksida (CO2) justru menjadi bahaya laten yang ditakuti oleh manusia karena jumlahnya yang semakin banyak. Gas ini dalam jumlah yang normal sebenarnya banyak memberi manfaat bagi kelangsungan makhluk hidup, khususnya tumbuh-tumbuhan. Namun dalam jumlah yang melebihi kemampuan adsorbsi tumbuhan, Karbondioksida bisa menyebabkan efek rumah kaca (greenhouse effect).

Karbondioksida merupakan gas yang transparan terhadap radiasi gelombang pendek dan menyerap radiasi gelombang panjang. Dengan demikian kenaikan konsentrasi CO2 di dalam atmosfer akan menyebabkan kenaikan suhu permukaan bumi. Fenomena inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan efek rumah kaca.

Lantas, bagaimana konsentrasi Karbondioksida bisa terus bertambah dan menjadi ancaman bagi kehidupan manusia? Seperti yang kita tahu, Karbondioksida bisa berasal dari pembakaran bahan bakar atau  pernafasan manusia dan hewan. Keberadaan Karbondioksida ini  diperlukan oleh tumbuh-tumbuhan dalam proses fotosintesis, kemudian dari proses fotosintesis itu dihasilkan Oksigen. Oksigen yang dihasilkan oleh tumbuh-tumbuhan itu digunakan lagi oleh manusia atau hewan dalam pernafasan, atau diperlukan dalam proses pembakaran. Siklus ini terjadi secara terus menerus sepanjang jaman dan bukanlah menjadi sebuah permasalahan. Permasalahan itu baru muncul karena:

Pertama, jumlah Karbondioksida yang dihasilkan oleh aktivitas manusia terus bertambah dan semakin tidak terkendali. Aktivitas manusia yang paling banyak menghasilkan Karbondioksida adalah dari sektor industri dan  transportasi. Dari waktu ke waktu, jumlah pabrik yang dibangun di muka bumi ini terus bertambah. Sementara pabrik yang beroperasi bisa dipastikan tidak terlepas dari aktivitas pembakaran yang menghasilkan Karbondioksida. Kalaupun tidak dijumpai aktivitas yang menghasilkan CO2, kemungkinan menghasilkan limbah yang harus dihancurkan dengan proses yang pada akhirnya juga menghasilkan gas tersebut.

Aktivitas transportasi juga menjadi sumber CO2 yang sangat besar. Sebagian besar kendaraan yang ada saat ini menggunakan bahan bakar hasil olahan minyak bumi, baik solar, premium, ataupun pertamax, yang dalam proses pembakarannya menghasilkan karbondioksida. Sementara itu, jumlah kendaraan yang mengisi ruas jalan di bumi terus bertambah seiring dengan bertambahnya kebutuhan manusia. Tentu saja hal tersebut berdampak pada perubahan komposisi udara di atmosfer kita.

Baik aktivitas industri ataupun transportasi, keduanya merupakan penunjang kehidupan manusia masa kini. Nyaris tidak ada manusia modern yang bisa melepaskan diri dari kedua aktivitas itu. Inilah alasan mengapa jumlah karbondioksida di atmosfer bumi terus mengalami peningkatan dan sulit untuk dikendalikan.

Kedua, berkurangnya jumlah vegetasi secara signifikan yang diakibatkan oleh hilangnya sebagian lahan hutan di dunia. Ini menyebabkan terhambatnya siklus karbondioksida di atmosfer. Tumbuhan yang ada di hutan merupakan elemen yang sangat penting yang berperan merubah Karbondioksida menjadi Oksigen melalui proses fotosintesisnya. Bila banyak terjadi kerusakan hutan, maka kemungkinan terjadinya penumpukan Karbondioksida di atmosfer ini semakin besar.

Pertumbuhan penduduk dunia yang tidak terkendali sebenarnya menjadi pangkal kedua sumber masalah di atas. Seolah sudah menjadi sebuah aksioma, bahwa di mana ada manusia di situ pasti ada polusi yang dihasilkan. Pada kenyataannya, aktivitas manusia memang hampir tidak pernah terlepas dari proses pembuangan. Bahkan pada saat tidur pun, proses pembuangan itu tetap ada. Ya, sama seperti makhluk hidup yang lain, manusia bernafas dengan Oksigen dan menghasilkan Karbondioksida sebagai gas buangannya. Semakin banyak manusia, jelaslah bahwa produksi  Karbondioksida di planet kita tercinta ini semakin bertambah pula.

Seiring dengan semakin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, CO2 yang dihasilkan dari aktivitas manusia semakin bertambah. Seperti yang telah disampaikan di awal, bahwa aktivitas industri dan transportasi merupakan  penghasil Karbondioksida yang cukup besar. Sementara itu, peningkatan jumlah penduduk menyebabkan semakin banyak kebutuhan yang harus dipenuhi. Hal tersebut mau tidak mau menjadi pemicu kemunculan pabrik-pabrik, home industri, atau apapun namanya, yang bertujuan untuk memproduksi pemenuh kebutuhan manusia.

Dalam memenuhi kebutuhannya, manusia juga tidak bisa terlepas dari aktivitas transportasi. Hingga hari ini, kendaraan berbahan bakar minyak masih menjadi pilihan utama manusia. Moda transportasi jenis inilah yang berpotensi meningkatkan kadar CO2 di udara. Dengan pertumbuhan jumlah penduduk, maka kebutuhan akan transportasi juga semakin bertambah. Pemandangan di jalan raya hari ini, di mana kendaraan senantiasa melintas hampir tiap detiknya, adalah bukti bahwa kebutuhan transportasi saat ini begitu tinggi.

Sementara itu, berbagai inovasi yang dibuat manusia untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan berbahan bakar minyak belum mencapai hasil yang berarti. Kalaupun sudah ada hasil, kemanfaatannya belum banyak dirasakan oleh ummat manusia. Sebagai contoh adalah penggunaan hidrogen sebagai bahan bakar dalam kendaraan. Kendaraan berbahan bakar hidrogen merupakan kendaraan yang ramah lingkungan karena tidak menghasilkan Karbondioksida dalam proses pembakarannya. Bila saja kendaraan ini banyak ditemui di pasaran dan bisa menggantikan kendaraan berbahan bakar minyak, polusi udara tentu bisa ditekan. Akan tetapi pada kenyataannya, pemakaian hidrogen untuk bahan bakar kendaraan masih menemui banyak hambatan.

Dengan mencermati berbagai fenomena di atas, maka ketakutan manusia akan bahaya laten efek rumah kaca terus bermunculan. Meningkatnya suhu permukaan bumi akibat efek rumah kaca menyebabkan adanya perubahan iklim secara ekstrim. Rentetan bencana demi bencana pun siap mengancam umat manusia akibat perubahan iklim tersebut. Tidak hanya itu, hutan dan ekosistem lain akan banyak mengalami gangguan, mulai dari berkurangnya kemampuan dalam mengabsorbsi karbondioksida, atau bahkan berujung pada kematian beberapa jenis organisme. Berbagai jenis flora dan satwa langka pun terancam punah akibat tidak tahan dengan perubahan suhu udara di tempat hidupnya. Pemanasan global juga mengakibatkan gunung-gunung es di kutub mencair sehingga menyebabkan air laut mengalami kenaikan. Jika ini terjadi, tinggal menunggu masa dimana pulau yang kita tempati tenggelam secara perlahan.

Indonesiaku Sayang,  Indonesiku yang Malang

Sebagai warga negara Indonesia, kita boleh bangga dengan apa yang ada pada negara kita. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar dengan lebih dari 17 ribu pulaunya yang kaya akan sumber daya alam. Indonesia juga merupakan negara maritim terbesar di dunia dengan perairan seluas 93 ribu Km2 dan panjang pantai sekitar 81 ribu km atau hampir 25% panjang pantai di dunia. Masih banyak hal lain yang bisa dibanggakan dari Indonesia, diantaranya adalah negara dengan penghasil gas alam cair terbanyak di dunia, pengekspor kayu lapis terbesar (80%) di pasar dunia, dan masih banyak lagi.

Namun tidak perlu disangkal, bahwa kondisi Indonesia yang merupakan negara kepulauan terbesar di dunia berpotensi terkena dampak yang besar pula akibat adanya  pemanasan global. Telah disampaikan di awal bahwa pemanasan global bisa menyebabkan gunung-gunung es mencair sehingga mengakibatkan permukaan air laut mengalami kenaikan. Ini berdampak pada tenggelamnya beberapa pulau kecil di wilayah teritorial Indonesia. Sebuah kerugian yang sulit diukur dengan angka nominal.

Letak Indonesia yang berada di antara pertemuan 3 lempeng tektonik ternyata juga memberikan pengaruh signifikan terhadap pemanasan global. Intensitas gempa bumi yang cukup sering di Indonesia hanyalah salah satu dampak yang bisa kita rasakan langsung dari posisi Indonesia yang demikian itu. Kemunculan gunung-gunung berapi di Indonesia juga merupakan fenomena yang diakibatkan oleh pergerakan lempeng-lempeng itu.

Gunung berapi inilah yang memiliki andil cukup besar terhadap pemanasan global. Sebagian besar gunung api di Indonesia adalah gunung api yang masih aktif yang bisa meletus sewaktu-waktu. Saat terjadi letusan, gunung api memuntahkan material-material padat, cair dan gas dalam jumlah yang sangat besar.  Nah, material yang berwujud gas ini terdiri dari berbagai macam gas, termasuk Karbondiosida, yang berpengaruh terhadap munculnya efek rumah kaca.

Gunung berapi di Indonesia memegang rekor letusan terdahsyat yang dampaknya juga dirasakan oleh masyarakat di wilayah negara lain. Gunung Tambora (Sumbawa) yang meletus pada bulan April 1815 tercatat sebagai gunung dengan letusan terbesar sepanjang zaman. Selain memakan korban sekitar 90 ribu jiwa, letusan gunung itu juga berdampak pada perubahan iklim di masa itu. Perubahan iklim itu disebabkan oleh efek rumah kaca yang muncul akibat melimpahnya kadar CO2 di atmosfer beberapa saat setelah terjadi letusan.  Dampak lebih jauh dari perubahan iklim kala itu adalah terjadinya gagal panen di beberapa wilayah Eropa. Bisa kita bayangkan bila di Eropa saja dampak letusan bisa dirasakan, apalagi di wilayah sekitar gunung tersebut.

Terlepas dari faktor alam yang jelas memberikan dampak besar terhadap pemanasan global, faktor manusia Indonesia sendiri rupanya juga perlu mendapatkan perhatian. Menurut salah satu penelitian yang dilansir oleh alamendah.wordpress.com, Indonesia adalah negara dengan tingkat polusi tertinggi ke 3 di dunia.  Selain itu, World Bank menempatkan Jakarta menjadi salah satu kota dengan kadar polutan/partikulat tertinggi setelah Beijing, New Delhi dan Mexico City. Dari sekian banyak penyebab polusi di  Indonesia, 85 persen bersumber dari hasil emisi transportasi.

Tingginya laju pertumbuhan kepemilikan kendaraan bermotor di Indonesia juga menjadi penyebab utama timbulnya masalah polusi di kota-kota besar Indonesia. Hal tersebut diperparah dengan kondisi kendaraan yang menghasilkan emisi gas buang yang buruk, baik karena kurangnya perawatan ataupun kualitas bahan bakar yang rendah. Ya, hingga saat ini, pemandangan di jalanan yang sering kita lihat adalah kendaraan melintas dengan tebal dan hitamnya asap yang begitu menyesakkan dada.

Dada kita pun dibuat semakin sesak dengan kabar-kabar tentang kebakaran hutan yang sering terjadi di Indonesia. Peristiwa ini tidak sekedar menyebabkan terjadinya polusi, tetapi juga mengurangi kemampuan kawasan hutan dalam mengabsorbsi Karbondioksida. Kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia diindikasikan terjadi karena ulah tangan manusia sendiri. Keinginan untuk memperoleh lahan pertanian secara praktis mendorong masyarakat di sekitar hutan membuka lahan pertanian baru dengan cara pembakaran hutan. Dilihat secara sepitas, cara tersebut tampaknya akan menghasilkan beberapa keuntungan. Selain prosesnya memakan biaya lebih hemat,  abu hasil pembakaran hutan bisa menjadi penyubur tanah. Benarkah demikian? Wallahu a’lam. Hal ini tentu membutuhkan penelitian yang lebih jauh. Tapi yang jelas, pembakaran hutan dengan alasan apapun tidak dibenarkan. Api yang menyala di suatu kawasan hutan akan sulit dikendalikan dan berpotensi menyebar ke segala arah.

Kalaupun tidak dibakar, hutan di Indonesia menjadi sasaran empuk penjarahan oleh oknum yang tidak bertanggunjawab. Setiap tahun 1,6  – 3,5 juta hektar hutan di Indonesia hilang. Menurut penelitian dari INFORM yang dilansir oleh Pusat Data Kehutanan Masyarakat, kerugian yang diderita negeri ini akibat penjarahan hutan mencapai 30,46 triliun setiap tahunnya. Kerugian itu tentu saja belum termasuk kerugian yang diakibatkan oleh bencana yang muncul akibat kerusakan hutan di negeri ini.

Banyak studi yang telah membuktikan bahwa rusaknya hutan merupakan salah satu sumber malapetaka di suatu wilayah. Berbagai bencana akan muncul beberapa waktu setelah hutan mengalami kerusakan: kekeringan, banjir, longsor, badai, dan sebagainya. Bencana-bencana itu akan diikuti dengan ‘teror’ susulan seperti kepunahan satwa langka, kemiskinan, kelaparan, kekurangan gizi, penyebaran berbagai bibit penyakit, hingga kematian. Maka benarlah apa yang disampaikan Allah melalui firman-Nya “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari perbuatan mereka, agar mereka kembali.” (QS. Ar Ruum: 31).

Berbagai bencana yang silih berganti menyambangi negeri ini barangkali merupakan sebuah teguran dari Yang Maha Melihat. Agar kita senantiasa instropeksi diri atas apa yang telah kita perbuat. Agar manusia sadar diri bahwa mereka adalah khalifah di muka bumi ini dan hanya kepada Allah mereka harus taat. Agar keserakahan yang menodai hati segera tertutup oleh pintu taubat.

Harapan itu masih ada

Sebagai salah satu negara dengan wilayah hutan terluas, Indonesia sebenarnya menjadi tumpuan dunia dalam hal penanggulangan dampak  pemanasan global. Meski selalu mengalami perubahan, diperkirakan luas hutan Indonesia mencapai 138 juta hektar.  Sementara itu, menurut Zoer’aini Djamal Irwan, setiap jam 1 Ha daun-daun hijau menyerap 8 kg CO2 yang ekuivalen dengan CO2 yang diembuskan oleh napas manusia sekitar 200 orang dalam waktu yang sama. Setiap pohon yang ditanam mempunyai kapasitas mendinginkan udara sama dengan rata-rata 5 pendingin udara (AC), yang dioperasikan 20 jam terus menerus setiap harinya. Wajar saja kalau masyarakat dunia menaruh harapan besar kepada Indonesia untuk menjaga kelestarian hutan. Kelestarian hutan sangat diperlukan untuk mengurangi pemanasan global akibat menumpuknya Karbondioksida di atmosfer.

Terlepas dari fungsinya sebagai paru-paru dunia, keberadaan hutan di Indonesia sangat dibutuhkan oleh masyarakat sekitar. Kemampuan vegetasi dalam mengabsorbsi Karbondioksida menimbulkan hawa lingkungan sekitar menjadi sejuk, nyaman dan segar.  Sistem akar tumbuhan di hutan berfungsi menahan laju air hujan sehingga memunculkan mata air yang bersih dan sehat, serta mengurangi kemungkinan terjadinya banjir, erosi, dan tanah longsor.  Selain itu, beberapa hasil hutan bisa memberikan konstribusi langsung terhadap peningkatan perekonomian masyarakat.

Kerusakan hutan yang terjadi di Indonesia memang membuat kita prihatin. Apalagi saat kita menyadari betapa bahaya yang ditimbulkan akibat hal tersebut begitu besar. Namun justru dengan menyadari hal itulah, maka seharusnya kita termotivasi untuk melestarikan keberadaan hutan di negeri ini. Akankah kita rela jika hutan di negeri ini hanya menyisakan sebuah legenda, lalu bencana silih berganti melanda? Tentu saja tidak.

Sebaliknya, kita akan bangga manakala negeri ini bisa menjadi salah satu ‘penyelamat’dunia dalam menghadapi ‘teror’ efek rumah kaca. Mengandalkan aksi pemerintah tentu bukanlah sebuah sikap yang bijak. Beberapa hal yang bisa kita lakukan agar kita bisa ikut berkonstribusi dalam hal itu antara lain :

Pertama, buat diri kita yakin, bahwa tidak ada tindakan satu pun anggota tubuh yang mengancam kelestarian hutan. Misalnya dengan tidak menyalakan api unggun di sekitar kawasan hutan, tidak menebang pohon di hutan sembarangan, tidak melakukan kegiatan penambangan di kawasan hutan secara berlebihan, dan sebagainya.

Kedua, menjaga kehidupan vegetasi di lingkungan sekitar tempat tinggal kita. Kita telah tahu bahwa kelangsungan hidup manusia sangat dipengaruhi oleh keberadaan tumbuhan di sekitarnya. Tidak ada alasan untuk tidak menjaga kelestariannya.

Ketiga, Tidak membiarkan lahan di sekitar kita kosong tidak bermakna. Yakinkan bahwa pada setiap jengkal tanah di lingkungan kita terdapat tumbuh-tumbuhan yang hidup di sana. Bila masih dijumpai lahan kosong, segeralah bertindak sesuai dengan kemampun yang ada pada diri kita.

Keempat, tularkan pengetahuan kita tentang manfaat lingkungan hidup kepada orang-orang di sekitar kita. Barangkali kerusakan hutan yang sering terjadi di Indonesia terjadi akibat sikap acuh masyarakat sekitar hutan atas perusakan hutan yang dilakukan oleh oknum tertentu. Saat mereka tahu arti pentingnya hutan serta bahaya yang bisa ditimbulkan apabila terjadi kerusakan, maka sikap acuh itu akan berganti menjadi kepedulian.

Kelima, berpartisipasi aktif dalam gerakan 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle) yang digalakkan oleh berbagai LSM lingkungan hidup dunia. Gerakan ini meliputi penggunaan barang-barang yang masih layak pakai, mengurangi penggunaan energi listrik dan bahan bakar, serta usaha untuk mendaur ulang sampah yang ada di sekitar kita.  Bila sejumlah 200 juta penduduk Indonesia bisa turut serta dalam gerakan ini, dampak pemanasan global tentu bisa ditekan secara signifikan. Siapa lagi yang harus memulainya kalau bukan kita? Wallahu a’lam bisshowab.

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia” (QS. Ar-Ra’du: 11).

DAFTAR PUSTAKA

Al Quran Al Kariim.

Bayong Tjasyono. 2008. Ilmu Kebumian dan Antariksa. Bandung: PT Remaja Rosda Karya

Marah Uli H & Asep Mulyadi. 2007. Geografi untuk SMA dan MA Kelas X. Jakarta: Esis

http://greenlumut.wordpress.com/tag/penghijauan/

http://alamendah.wordpress.com/2009/09/23/tingkat-pencemaran-udara-di-indonesia/

http://julidf.wordpress.com/2009/09/10/apa-yang-dibanggakan-dari-indonesia/

http://afand.cybermq.com/post/detail/2405/linkungan-hidup-kerusakan-lingkungan-pengertian-kerusakan-lingkungan-dan-pelestarian-

http://www.fkkm.org/PusatData/index.php?action=detail4&page=6

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s