“YES” “NO”

Mentari Kamis siang itu begitu menyengat. Sementara tak sedikitpun mendung menggantung di cakrawala, membuat musim pancaroba kali ini terasa begitu panas. Sementara itu  kondisi sebagian besar anak-anak sedang melaksanakan puasa sunnah, menjadikan jam pelajaran terakhir terasa sangat melelahkan. Bagiku, hari ini juga merupakan hari yang paling melelahkan. Dibandingkan hari-hari lain, hari Kamis adalah hari dimana jam mengajarku paling banyak.

Pada hari Kamis juga, di jam terakhir–diriku harus mengajar kelas X3: kelas paling bawel yang pernah kutemui selama menjadi guru. Bagaimana tidak? Anggota kelas tersebut kesemuanya adalah kaum hawa yang telah dipersatukan sejak masa SMP. Kompak memang, tapi ada sisi buruk dari kekompakan mereka itu. Salah satunya saat jam terakhir seperti hari itu. Bayangkan saja kalau semuanya kompak tidur semua saat jam pelajaran, atau minta pulang lebih awal sebelum bel berbunyi, atau bahkan minta tidak usah belajar sama sekali. Wah, bahkan untuk yang terakhir itu diriku yakin, siswa di sekolah manapun tak mungkin berani mengusulkannya kepada sang guru.

Hari itu adalah pertama kali jam pelajaranku setelah pertemuan sebelumnya digunakan untuk melaksanakan Ulangan Tengah Smester. Sudah bisa ditebak, anak-anak sangat tidak bernafsu untuk belajar. Saat diriku masuk kelas, keadaannya sangat sunyi. Beberapa anak terlihat membaca buku sambil menyandarkan janggutnya ke meja, bahkan ada yang tertidur dengan posisi jidat di atas meja. Aku bisa ikut merasakan betapa lelahnya mereka saat hawa panas dan perut kosong seperti hari itu.

Terus terang, dalam kondisi seperti itu aku bingung harus memulai dari mana. Kalau anak-anak langsung dikasih materi, tentu akan menguap begitu saja bak embun di daun yang teradiasi oleh sinar mentari (wah, ATMOSFER banget nih..). Dikasih pretest, mana mungkin mereka mau serius mengerjakan.

Twingg… akhirnya diriku teringat pernah ikut training PAKEM (aduh, singkatannya lupa, oh iya Pembelajaran Aktif Kreatif dan Menyenangkan). Betul juga, kenapa ilmu yang diperoleh dari training itu tidak aku manfaatkan??? Akhirnya, siang itu diriku memulai pelajaran dengan obrolan ringan. Lalu, untuk menghilangkan perasaan ngantuk pada diri anak-anak, diriku mencoba menghadirkan permainan ke tengah-tengah mereka. Salah satunya permainan YES/NO, yang sebelumnya pernah kudapatkan dari guru Kimia-ku sewaktu masih duduk di bangku SMA.

Permainan ini begitu sederhana. Diriku cukup mengucapkan sebuah kalimat yang bisa berisi sesuatu yang benar atau salah. Bila sesuatu yang kuucapkan itu benar, maka siswa cukup mengucapkan “Yes”, dan bila salah mereka harus berteriak “NO!” Sampai di sini, tampaknya permainan ini begitu mudah. Eit, tunggu… Sembari mengucapkan “Yes”, siswa harus menggelengkan kepalanya. Sebaliknya, mereka harus menganggukkan kepala saat mengucapkan “NO”. inilah letak kesulitan permainan ini. Mereka harus fokus untuk mendengarkan pertanyaan, tetapi juga harus tepat dalam melakukan gerakan kepala. Tujuan permainan ini adalah untuk melatih konsentrasi supaya lebih fokus dalam mengikuti pelajaran.

Jrenggg…. Permainan pun dimulai. Anak-anak terdiam. (sesuatu yang sungguh jarang terjadi di kelas X3.. he he).

Ucapku pelan: “Matahari terbit dari arah Timur”

“Yes!” anak-anak menjawab kompak sambil menggelengkan kepala. Aku tahu sebenarnya beberapa diantara mereka ada yang bengong… he he.

Begitulah. Kalimat demi kalimat kuucapkan, dan anak-anak menjawab ‘YES’ atau ‘NO’ dengan sangat lantang sembari mengangguk ataupun menggelengkan kepala. Suatu ketika mungkin perlu ada fariasi: Satu per satu anak ditunjuk secara acak untuk memberikan respon atas kalimat tertentu. Bagi yang salah, ada hukuman yang menanti.

“Pertanyaan terakhir…”, diriku memperingatkan anak-anak agar mereka tenang. Saat anak-anak terdiam, sebuah kalimat meluncur begitu saja dari bibirku.

“Pak Edi adalah guru yang paling GANTHENG di sekolah ini.”

Entah mengapa. respon anak-anak kali ini tidak secepat tadi. Mungkin ini pertanda pertanyaan yang kuberikan begitu aneh. Tidak lama kemudian pecah tawa anak-anak mengisi ruangan kelas itu, disusul teriakan “NO” yang bersahut-sahutan. Sedangkan mereka menggelengkan kepala, sama sekali berbeda dengan skenario permainan ini.

“Baik, kita lanjutkan ke materi berikutnya…” Akhirnya diriku memulai materi siang itu meski tahu sisa-sisa tawa masih menggema.

5 Comments

  1. So good,ad usul gak akh,kalo d skul ana semi militer,kadang2 susah jg mengarahkan anak2 kalo sdh tlanjur rame,guru2 d kelas lain menjaga anak2 biar tenang,smentara kelas sy rame,gpp kali ya,jd guru kreatif memang susah ya

  2. kl menurut ana rame bisa jadi merupakan indikasi yg baik. Misalnya, kalau anak-anak ngobrol berkaitan dengan apa yang baru saja qta sampaikan. tp kl mereka ngobrol di luar tema, itu artinya ada kejenuhan. brarti perlu ada tindakan untuk menyiasati hal itu. kl ane biasa pake senam otak, permainan, atau mungkin dgn menyanyi dulu… (tp yg terakhir belum pernah dicoba..hehe)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s