Catatan Menuju Pernikahan (5)

Sabar

Sebenarnya diri ini hendak segera mungkin menikah begitu sudah ada calon pendamping yang sudah siap. Waktu itu,2  bulan sebelum bulan Ramadhan, calon pendamping sudah menyatakan siap menikah. Maka sesuatu yang realistis apabila diri ini menargetkan  bulan Ramadhan sudah menjalani puasa berdua. Namun rupanya Allah masih menguji hati ini. Beberapa minggu setelah ta’aruf, calon istriku harus melaksanakan tugas belajar di Jawa Timur sehingga tertundalah keiginanku untuk segera mengakhiri masa lajang.

Pesantren tempat aku dan istri bekerja, sebagaimana pesantren lain di Indonesia, begitu getol mendidik santrinya untuk menguasai bahasa asing. Untuk itu, beberapa guru juga diberikan kewajiban untuk mempelajari bahasa asing, khususnya bahasa inggris secara intensif. Calon istriku adalah salah satu guru yang ditugaskan untuk mengikuti kursus bahasa inggris di Pare, Kediri. Di daerah tersebut memang terkenal dengan banyaknya lembaga pelatihan bahasa inggris yang didukung dengan kemampuan masyarakat sekitar yang juga menguasai bahasa internasional tersebut. Bahkan, tukang becak dan penjual sayuran pun mahir berbahasa inggris. Siapa yang tidak tertarik belajar bahasa Inggris ke sana?

Masalahnya, calon istriku bukan satu atau dua hari saja berada di sana. Agar bisa menguasaai bahasaa Inggris, minimal untuk keperluan mengajar, tentu butuh waktu yang tidak sebentar. Dia membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk mengikuti rangkaian program kursus hingga masa liburan berakhir. Maka, selama sebulan itu pula keberlanjutan proses menuju pernikahanku benar-benar terhenti.

Adakah rindu yang menggebu? Tentu saja. Bila dahulu sesekali kulihat calon istriku berjalan di salah satu sudut kantor pesantren, maka selama sebulan sejak keberangkatannya ke Jawa Timur, ‘pemandangan’ itu tak sekalipun kutemui. Yach, mungkin ini salah satu skenario dari Allah agar diri ini tidak terlalu banyak dosa.. hehe. Terlepas dari hal itu, diri ini harus sabar menanti kedatangan masa indah di pelaminan. Optimis, berfikir positif, dan sabar ini lah yang menjadi teman setiaku, mendampingi diri ini hingga hari yang ditunggu-tunggu tiba.

Meski  calon istri berada nan jauh di sana, diri ini mencoba untuk selalu menjalin komunikasi secara tidak langsung. Sesekali aku meminta tolong kepada kakak perempuanku untuk menanyakan kabar calon istriku. Sesekali kulihat profil Facebook-nya, barangkali ada hal penting yang bisa kutahu dari status-statusnya. Aku  masih istikomah untuk tidak SMS ataupun menelpon calon istri secara langsung. Namun berapa lama diri ini bertahan? Tunggu kisah selanjutnya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s