Catatan Menuju Pernikahan (8)

08_Menjaga Rahasia

Biasanya, saat teman-temanku hendak menikah, kabar burung tentang pernikahannya  biasanya sudah beredar berminggu-minggu sebelum hari H pelaksanaannya. Bahkan sebelum khitbah dilakukan. Diriku tidak mau seperti itu terjadi. Sebelum khitbah dilakukan, seorang wanita masih sangat mungkin berpindah ke lain hati. Dan bahkan sebelum akad nikah di selenggarakan, masing-masing pihak calon pengantin bisa mengurungkan niat untuk menikah. Meskipun keputusan itu beberapa detik menjelang akad. Untuk itu, aku sengaja menjaga rahasia rencana pernikahanku hingga saat menyebarkan undangan pernikahan.

Begitu pula calon istriku, dia termasuk orang yang bisa menjaga rahasia. Pengalaman buruknya ketika pernah ta’aruf dengan seseorang tetapi ternyata gagal, membuatnya harus lebih menjaga rahasia. Ketika itu, beberapa orang sudah tahu kabar ta’taruf itu, sehingga rasa malu menghantui saat memutuskan untuk tidak melanjutkan ke jenjang pernikahan. Setelah ada rencana menikah denganku, ia lebih berhati-hati setiap kali berbicara dengan teman-temannya. Bahkan selama 1 bulan berada di Pare, teman sekamarnya pun tidak tau bahwa ia telah melakukan proses ta’aruf denganku.

Menjelang ta’aruf, diriku hanya memberitahu keinginanku untuk menikah kepada kakak  perempuanku, mudir ma’had, serta seorang teman yang istrinya bersahabat dekat dengan calon istriku. Kakak perempuanku harus tahu, sebab dialah yang menjadi perantara antara aku dan calon istriku. Mudir ma’had harus tahu, sebab beliau adalah bos aku sekaligus bos calon istriku. Menikah dengan seseorang yang satu lembaga tentu harus mendapat restu dari pimpinan lembaga. Adapun salah satu temanku, aku hanya sebatas mencari informasi darinya diawal proses. Setelah itu pun, ia tidak tahu perkembangan “kisah” ini.

Setelah ta’aruf, teman sekamarku bahkan juga tidak tahu bahwa aku ingin menikah dalam waktu dekat. Rekan kerjaku, yang tahu diriku ijin meninggalkan pekerjaan sementara waktu, juga tidak tahu bahwa ijinku dalam rangka untuk ta’aruf. Murid-muridku apalagi. Tidak satupun dari mereka mengira bahwa aku hendak menikah dengan orang yang juga mereka kenal dengan baik.

Menjelang khitbah, barulah teman sekamarku tahu rencana pernikahanku. Itupun aku yang memberi tahu, sebab orang tuaku hendak menginap di kamar kami. Beberapa pejabat di lembaga mungkin juga sudah tahu rencana pernikahan kami dari Mudir,  tetapi mereka InsyaAllah orang yang bisa menjaga rahasia. Setelah khitbah, murid-muridku juga tahu diriku hendak menikah dalam waktu dekat, tetapi tidak tahu siapa calon istriku. Salah satu teman kamarku pernah membocorkan sebagian identitas calon istriku kepada murid-murid. Eh,mereka malah bertanya-tanya kepada guru lain yang juga hendak menikah: “Bu, orang tua ibu Kepala Desa atau bukan?” Dasar anak-anak.

Beberapa murid ternyata ada yang sudah tahu rencana pernikahanku serta siapa calon istriku. Setelah menikah, kami tahu dari mana mereka mendapat bocoran. Beberapa anak yang sering mengikuti perlombaan matematika di tingkat SMP termasuk yang terlebih dahulu mengetahui. Mereka dekat dengan calon istriku, sebab ketika lomba, istrikulah yang menjadi pembimbingnya. Mereka tahu kabar kami akan menikah dari pak sopir sekolah, yang tidak lain sering mengantar anak-anak dan ke lokasi perlombaan. Pak Sakim, nama sopir itu, tahu kami akan segera menikah sebab beliaulah yang mengantar rombongan keluargaku ke rumah calon mertua. Selain itu, anak-anak kelas calon istriku juga tahu siapa nama calon suami wali kelas mereka. Ini karena kebetulan salah satu murid di kelas itu adalah anak dari kepala sekolah calon istriku. Tentu saja suatu kali dia mendengarkan pembicaraan orang tuanya tentang pernikahan gurunya. Hilya, anak kepala sekolah itu, menyebarkan rencana pernikahan Bu Dian dan pak Edi dengan teman-temannya. Lucunya, anak-anak tidak mengenal bahwa pak Edi adalah diriku. Yang mereka kenal, Pak Edi adalah seorang petugas kebersihan yang sering mengisi galon air minum di asrama mereka. Anak-anak mengenal sebagai Pak Edi Galon. Maka begitu kabar pernikahan calon istriku berhembus, anak-anak berbisik kepada calon istriku; “Ibu mau menikah dengan Pak Edi galon ya?” gubrak…

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s