Kurtilas _Kurikulum Tinggal Landas (1)

Ada yang mengatakan kalau kurikulum 2013 di Indonesia diadopsi dari negara Finlandia. Ya, negara di Eropa dengan atmosfer pendidikan yang bisa dikatakan termasuk terbaik di dunia. Adakah yang salah dengan adopsi kurikulum tersebut? Tentu saja kita bisa mengatakan ya, atau tidak. Tergantung pada sisi mana kita menggaris bawahi kurikulum tersebut.

Pertama, Di Finlandia berbagai fasilitas pendidikan sudah tersedia begitu lengkapnya. Sedangkan di Indonesia, dengan sekitar 13.466 pulau-nya tampaknya akan kesulitan untuk melengkapi fasilitas pendidikan secara menyeluruh. Katakanlah buku. Tapi jangankan buku, untuk  pengadaan kertas suara saja (maklum, pengalaman jadi tim sukses) beberapa daerah terpencil di Indonesia masih kesulitan untuk distribusinya.  Belum lagi berbagai fasilitas seperti laboratorium, komputer, internet, atau bahkan akses jalan ke sekolah.

Kedua, Dalam kegiatan belajar mengajar di Finlandia, dalam sebuah kelas dibimbing oleh minimal 2 orang guru yang bekerja sama dalam membimbing siswanya. Lha di Indonesia? Boro-boro dua guru, bahkan ada satu guru yang pegang beberapa kelas sekaligus, atau memborong jam pelajaran di luar batas perikeguruan…hehe. Itu belum termasuk membahas nasib mereka yang tragis karena waktu yang habis buat menyusun administrasi, sementara gaji tidak pasti(khususnya para hororer).

Ketiga. Dinegara yang jadi kiblatnya kurtilas  sana, mata pelajaran inti hanya berjumlah 6. Artinya beban kepada anak-anak tidak sebanyak yang ada di Indonesia. Yach, mungkin karena Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, jadi jumlah mata pelajaran harus menyesuaikan…hehe. Yang jelas, anak-anak saat ini memang mengeluhkan banyaknya materi yang harus mereka pelajari. Entahlah.. apakah gurunya yang salah dalam memberikan materi, atau bagaimana. Kita tunggu saja setelah saya mendapatkan pelatihan kurtilas.

Keempat, di Finlandia ada istilah Parental engagement, orang tua siswa juga terlibat dalam pendidikan anak jadi mereka juga secara tidak langsung memiliki ikatan kerjasama dengan sekolah. tujuannya adalah agar memungkinkan pihak sekolah tahu bakat anak secara akurat lebih dini jadi apa yang dibutuhkan si anak lebih tersalurkan di sekolah dengan informasi dari orangtuanya ke pihak sekolah. Nah, di Indonesia, kesannya adalah orang tua siswa menyerahkan sepenuhnya “hak asuh anak” kepada guru. Apapun yang dilakukan oleh sekolah, orangtua mah ngikut aja. yang penting dapat ijazah. ups.. Ternyata. Gimana mau maju, kalo sekolah hanya pengen dapat ijazah.

(semoga bersambung)

Sumber http://edukasi.kompasiana.com/2012/11/25/kurikulum-2013-indonesia-vs-kurikulum-finlandia-511723.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s