El-Zukhruf, From Zero To Hero

El-Zukhruf

Berkumpul sejak SMP hingga SMA, tentu menjadikan persahabatan semakin terasa kental. Pun begitu dengan sebuah kelompok seni, lamanya waktu kebersamaan tentunya akan meningkatkan kekompakan, kreatifitas, sekaligus kualitas kelompok tersebut. Begitu pula dengan El-Zukhruf. Grup nasyid yang terbentuk di Pondok Pesantren Terpadu Al-Multazam ini juga semakin menunjukkan kualitas sebagai tim nasyid profesional.

Shoutussyifa. Masih saya ingat betul nama grup nasyid yang merupakan embrio dari El-Zukhruf ini. Penuh percaya diri, mereka beberapa kali tampil di acara pesantren bahkan acara walimahan ustadz Al-Multazam meski dengan arransemen seadanya (baca: kacau.. hehe). Saya pun bahkan setengah tutup telinga mendengar pementasan mereka. Tempo, nada, dan kualitas vokal yang belum matang, ditambah harmonisasi yang belum terbentuk membuat grup acapela ini menurut saya belum layak tampil di depan umum.

Shoutussyifa, Embrio El-Zukhruf

Shoutussyifa, Embrio El-Zukhruf

Suatu ketika Ismail Fakhri, personil Soutussyifa yang kini bersama El-Zukhruf, mengatakan : “Pak, kami ingin berprestasi seperti kakak-kakak OKSIGEN (angkatan 6 Al-Multazam). Tapi kami kurang dalam bidan akademik. Kami ingin mengharumkan nama Al-Multazam dengan Nasyid.” Melihat penampilan mereka saat pentas di walimahan, rasa-rasanya cita-cita mereka tak akan terwujud dalam waktu dekat.

Benar saja. Hingga lulus SMP, mereka tidak mendapatkan prestasi seperti yang mereka harapkan. Namun keinginan untuk berprestasi dalam dunia Nasyid ternyata tidaklah pupus. Suatu saat mereka pentas membawakan lagu Haroki berbahasa Arab pada saat munasoroh Palestina. Dengan diiringi drum, mereka terlihat lebih kompak meski tanpa harmonisasi. Kebetulan pada waktu itu saya menjadi penanggunjawab lomba, berinisiatif untuk mengikutkan mereka ke dalam perlombaan di pesantren sebelah.

Saya mengundang mereka ke asrama untuk memberikan sedikit tips supaya lagu bahasa arab yang dinyanyikan mereka bisa terdengar harmonis. Saya juga memberikan pembagian suara untuk lagu daerah yang menjadi lagu wajib dalam kompetisi nasyid tersebut. Tidak disangka, ternyata mereka bisa cepat menghafalkan partitur yang saya berikan. Perasaan optimis pun langsung menghinggapi. Saya begitu yakin mereka, yang akhirnya diberi nama El-Zukhruf, bisa menjadi juara.

Di hari H, mereka tampil nyaris tanpa cela. Sayang, karakter vokal mereka tidak mencerminkan grup nasyid haroki. Ditambah sound system yang tidak mendukung suara drum, penampilan oke mereka tidak mampu menggugah semangat para penonton. Kali ini El-Zukhruf harus puas di peringkat 6 lomba yang baru pertama kali mereka ikuti itu.

Untungnya, informasi tentang lomba nasyid selalu ada di tangan. Maka, beberapa bulan sebelum ada lomba nasyid di pesantren sebelahnya lagi, saya menyiapkan partitur nasyid acapela yang pernah digarap oleh grup nasyid saya pada masa lalu. Satu persatu personil saya panggil selepas sholat dhuhur pada suatu hari. Saya minta mereka menghafal urutan demi urutan nada yang pada nantinya akan disatukan menjadi sebuah lagu acapela berjudul AIR, Aku Ingin Ridhomu. Setiap ada kesempatan, saya mengecek hafalan mereka layaknya mereka memuroja’ah Al-Quran. Dan saat sudah saya anggap siap, partitur nada itupun disatukan (dinyanyikan bersama-sama). Dan Berhasil. Mereka menunjukkan kesungguhan dalam mempelajari nasyid Acapela. Bahkan tanpa bimbingan langsung dari saya, mereka berlatih sendiri tiap ada waktu kosong di asrama.

Sayang, kesempatan pertama kali untuk unjuk gigi gagal lantara mereka harus mengikuti LDK. Singkat cerita, tahun berikutnya mereka baru bisa mengikuti kompetisi nasyid dan barulah cita-cita mereka terwujud: Mengharumkan Al-Multazam Lewat Nasyid. Puncaknya, mereka bahkan bisa tembus Grand Final Idola Nasyid Indonesia di senayan Jakarta. Ajang bergengsi nasyid, yang bahkan belum ada satupun tim nasyid Wilayah 3 Jawa Barat yang bisa tembus sampai babak itu. Kalau bukan karena kesungguhan, keistiqomahan, dan kerja keras yang tak kenal putus asa, tentu semua itu tidak akan didapatkan.

Dan kini, El-Zukhruf bukan lagi sebagai santri Al-Multazam. Tapi kesuksesannya dalam berprestasi pasti akan menjadi inspirasi bagi adik-adik kelasnya. Semakin sukses El-Zukhruf, maka semakin besar pula motivasi santri Al-Multazam untuk selalu berprestasi, khususnya dalam bidang Nasyid. Begitu pula dalam bidang lain, mereka bisa mengambil hikmah, bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin. Bahwa kerja keras dan kesungguhan pasti akan mengantarkan kepada keberhasilan. Man jadda wa jada. Wallahu a’lam bisshowab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s